Mengenal Diri Sendiri, Perlukah?
Akhir-akhir ini, atau lebih tepatnya setelah pandemi, perjalanan ke dalam diri menjadi agenda sehari-hari. Karena setelah lelah menatap layar laptop seharian untuk memenuhi deadline, memikirkan to-do-list selanjutnya, dan melakukan aktifitas autopilot seperti tidur, makan, buang air, membalas obrolan - yang dipikirkan di penghujung hari adalah: pada akhirnya semua ini untuk apa?
(Jadi pengen nyanyi lagunya Hindia!)
Setelah 27 tahun merasakan hidup, sepertinya baru sekarang lah aku menjadi lebih peka terhadap emosi yang aku rasakan. Roda emosi ini sangat membantu untuk orang-orang sepertiku yang sulit mengenali dan menyampaikan emosi (atau yang biasa disebut Alexythimia). Roda emosi ini diperkenalkan pertama kali oleh Robert Plutchik.
- Apa nilai dan prinsip yang aku yakini dalam hidup?
- Apa yang menjadi prioritasku?
- Bagaimana keseharianku termasuk pekerjaanku sejalan dengan tujuanku hidup di dunia ini?
- Bagaimana aku menjalin hubungan dengan manusia lain?
- Apa arti sukses dalam hidupku?
- Bagaimana versi terbaik dari aku?
Hidup adalah hubungan romantisme dari pengalaman dan perenungan.
Padahal dulu cukup familiar dengan istilah tafakur; merenung, memikirkan, menimbang, sebagai proses mendekatkan diri pada pencipta. Sekarang baru sadar, bahwa hanya dengan mengembalikan pada fitrah seorang hamba, kita jadi bisa mengenal diri. Dan balik ke awal tadi, sulit untuk kita bahagia tanpa mengenali diri. Channel Mbak Marissa yang ini adalah pintu gerbang pembuka dari ketertarikanku terhadap konsep 'Mengenal Diri Sendiri'. Bukan, bukan untuk gaya-gayaan, tapi memang untuk menjalani hidup lebih berwarna dan bermakna. Agar setiap waktu yang dijalani bisa merasa fulfilled dan cukup. Karena (ini yang aku yakini baru-baru ini...)
Bahagia itu ketika kita tidak membayangkan diri kita pada kehidupan orang lain dan kehidupan di titik masa yang lain. Sadar penuh, hadir utuh. Tidak terpenjara masa lalu, tidak khawatir akan masa depan. Cukup dengan kehidupan sendiri, tidak terganggu kehidupan orang lain.
Sekarang paling tidak, sudah mulai resah dengan topik ini, sehingga terbiasa jurnaling agar pikiran tidak meledak karena terlalu penuh. Kalau lama tidak jurnaling biasanya jadi raging, sad, anxious dan kacau! Sekarang pun jadi ingat untuk menanyakan diri di beberapa stop point dalam sehari; apa yang sedang aku pikirkan, apa yang sedang aku rasakan. Thinking, Feeling...
Terus jadi mikir, kemampuan pertama yang harus manusia pelajari setelah calistung adalah mengenali diri. Ini yang kebanyakan sekolah luput untuk mengajari.
Di edisi #knowthyself ini, aku pengen menggunakan media ini untuk bercerita perjalanan mengenali diri dan menemukan tujuan hidup. Kembali, salute untuk teman-teman di luar sana yang sudah mengenali dirinya. Kalau ada yang punya tools untuk lebih kenal diri sendiri, let me know!
Sampai jumpa di titik perenungan selanjutnya :)

Komentar
Posting Komentar