Mencari Warna dan Bentuk
Pernahkah, di suatu titik dalam hidupmu, kamu merasa tidak nyaman dengan dirimu sendiri?
Tidak nyaman menunjukkan warna dan bentuk aslimu di dalam sebuah kerumunan?
Bisa jadi dua hal ini yang sebenarnya terjadi:
- Kamu sudah tahu warna dan bentuk aslimu namun kondisi di sekitarmu tidak memungkinkanmu untuk menunjukkannya, atau
- Kamu bahkan belum tahu apa warna dan bentukmu sendiri.
Asumsi liarku, apa yang disebut 'warna dan bentuk' inipun senantiasa berkembang. Gampangnya, saat kecil kamu merasa 'warna'-mu adalah jingga, bentuknya trapesium maka tidak serta merta akan terus trapesium jingga sampai tua.
'Warna dan bentuk' ini jika boleh aku bayangkan adalah semacam kulminasi dari nilai, prinsip, identitas...
Pengembangannya kental dipengaruhi oleh pola asuh, pengalaman, kebiasaan, dan perenungan (balik ke postingan sebelumnya).
Konsekuensi dari pencarian warna dan bentuk ini akan berbeda dari satu individu ke individu lainnya. Dalam kasusku saat ini, kebingungan mencari warna dan bentuk membuatku ragu dalam menampakkan diri. Aku mempertanyakan label yang disematkan dalam diriku - karena jika kulepas segala label dan identitas itu, siapakah Ayendha yang sebenarnya? - sungguh pertanyaan yang belum bisa kujawab.
Yang pasti, segala warna dan bentuk yang dulu kuyakini sebagai aku, pun, tidak akan aku sesali. Karena lagi-lagi, titik-koma. Bisa jadi setelah titik yang kita temui, masih ada koma.
Tulisan random seperti ini akan jadi salah satu sarana berproses untuk mencari warna dan bentuk. Yang lebih intim dan privat baiknya ditulis di buku diary.
Selamat menemukan warna dan bentukmu sendiri!

Komentar
Posting Komentar