Aku yang menunggu
Satu hal yang nantinya akan aku rindukan untuk kembali adalah persimpangan jalan ini,
sebenarnya ia tak selalu benar-benar istimewa. Pada waktu siang, orang hanya akan melaluinya, karena memang yang terlihat hanyalah sebuah bangunan besar berwarna emas dengan jam besar di atasnya. Apalagi di Thailand, di mana kau dapat menemukan begitu banyak bangunan besar berwarna emas.
Namun ibarat bunga yang kuncupnya tak semenarik mekarnya, maka lihatlah bangunan ini di waktu terindahnya. Kau tahu kapan? Itulah 15 menit paling berharga darinya.
Dan Sabtu lalu adalah kali keduanya aku beruntung melihatnya. Takjub akan transformasi dari sebuah bangunan tua yang terlihat biasa saja menjadi bangunan yang menyuguhkan keindahan penuh sihir.
Sabtu itu aku sempat lari-lari kecil untuk sampai di persimpangan itu, khawatir aku terlambat melihat keindahannya yang langka. Beruntung, aku sampai beberapa menit sebelum jam mulai berdenting, bersama dengan berpasang muda-mudi yang ingin melihat keindahannya bersama.
Perlahan-lahan warna emasnya mulai samar-samar memudar digantikan warna perak yang muncul sangat halus dari bawah pelan-pelan ke atas. Kemudian secara bergantian muncul warna-warna baru; merah, jingga, ungu, biru, hijau, kuning, abu-abu, dan entahlah aku lupa, yang jelas banyak warna. Lalu tanpa disadari beberapa burung gereja keluar dari bangunan, berterbangan dekatnya kemudian kembali. Bersamanya muncul seorang patung dewa yang terbang dari bawah menuju ke atas. Yang di akhiri dengan bunga lotus berwarna merah muda yang muncul malu-malu dari tengah bangunan, kemudian mekar dengan indahnya.
Tak lama, hanya 15 menit kurang lebih dan memang harus seperti itu karena itulah yang membuatnya dirindu kehadirannya. Dan keindahan ini ditutup dengan lantunan musik khas Thailand yang walaupun aku tak tahu artinya namun tetap dapat dinikmati.
Aku memandang sekeliling dan tersenyum, inilah kali kedua aku melihatnya, yang mungkin akan jadi kali terakhir sebelum ku tinggalkan Thailand, dan masih tanpa kau di sisiku. Tak apa, aku akan menyimpan memory ini baik-baik untukmu, hingga nanti waktunya tiba, aku akan merasakan keindahan bangunan ini berjuta kali lipat lebih indah karena di sampingku ada kau yang tersenyum bergantian ke arah bangunan itu dan ke arahku. Tanganku tak akan lagi dingin karena ada tanganmu yang membuatku hangat. Dadaku tak akan lagi hampa karena ada kau yang ada untuk kupeluk.
Kau ingin tahu nama bangunan itu? Ah, kau juga pasti ingin tahu pada jam berapa kau bisa melihat keindahannya bukan? Namun untuk apa aku memberi tahumu sekarang, toh esok-esok kita akan pergi ke sana bersama. Jangan khawatir, aku sangat baik dalam mengingat tempat, dan kau jangan salah, aku juga salah satu yang baik dalam menunggu. Jadi, bersiaplah untuk melihat keindahannya bersamaku. Bersama aku yang (sedang) menunggu. :)
21 Desember 2014

Komentar
Posting Komentar