Buku Kehidupan Si Anak Rantau
Beberapa hari menghabiskan waktu di kampung halaman membuatku banyak berpikir tentang konsekuensi dari merantau jauh dari rumah. Setelah dua kali kehilangan anggota keluarga tanpa sempat menemani hari-hari akhirnya, aku jadi sadar ini konsekuensi nyata yang harus ditanggung oleh seorang perantau. Otakku mulai membuka buku-buku memori, mencoba menelusuri perjalananku merantau dari yang hanya sebuah cita-cita seorang anak kecil hingga kemudian menjalaninya sendiri selama lebih dari 10 tahun terakhir.
Kalau dipikir-pikir, keinginan merantau itu awalnya banyak dipengaruhi oleh buku-buku yang aku baca sejak kecil. Sebelum mengenal media sosial seperti pada generasi zaman sekarang, hari-hariku saat usia Sekolah Dasar banyak dihabiskan membaca buku-buku roman Negeri 5 Menara, Laskar Pelangi dan Harry Potter. Kamu bisa tebak apa kesamaan dari ketiga tokoh di dalam roman tersebut?
Betul, ketiganya adalah perantau. Baik Alif, Ikal dan Harry, ketiganya sama-sama merantau ke negeri yang baru demi menemukan jati diri. Aku terpesona dengan keberanian, kesabaran, kegigihan dan keyakinan yang dimiliki ketiga tokoh tersebut. Ketiganya bisa dibilang superhero ku saat kecil yang dengan gagah berani menantang keadaan dan pada akhirnya berhasil mendapatkan apa yang diimpikan. Jadi saat ditanya mau jadi apa kalau sudah besar, aku bingung, tapi apa saja yang memungkinkanku untuk pergi-pergi ke tempat baru dan jauh.
Orang tuaku bukan perantau. Sejak kecil tinggal di satu tempat hingga sekarang, jadi konsep merantau menjadi asing dan menakutkan bagiku saat kecil dulu. Hal itu membuatku ragu apa bisa juga merantau jauh seperti Alif, Ikal atau Harry. Tapi dengan berbekal keyakinan seorang Ayendha kecil, aku pernah menulis syair fenomenal Imam Syafi'i di buku harian dan membacanya setiap hari. Saking seringnya dibaca sampai hapal di luar kepala. Syair yang waktu itu sanggup membuat jiwa berkobar-kobar.
---
Merantaulah...
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.
Merantaulah...
Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah,
manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.
Jika mengalir menjadi jernih,
jika tidak, akan keruh menggenang.
Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa.
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam.
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.
---
Momen merantau pertama yang sekaligus menjadi pembuka buku perjalanan 10 tahun perantauan setelahnya adalah pengalaman ngekos saat SMA. Untuk ini, aku perlu berterimakasih kepada bapakku, yang saat itu membela dan percaya penuh kepada anaknya untuk bersekolah di sekolah favorit, walau itu jauh dari rumah. Imam Syafi'i ternyata benar. Saat merantau ke kota, walaupun jaraknya masih 1 jam perjalanan dari rumah, aku betul-betul mendapati pengganti kerabat dan kawan.
Saat lulus SMA dan memilih perguruan tinggi, jarak dari rumah tidak jadi soal. Asal bagus dan yakin. Saat awal tinggal terpisah dari keluarga dan hidup mandiri di kos-kosan, orang tua selalu berpesan, "Jaga diri. Selalu ingat Allah." Cukup dua kalimat namun butuh komitmen yang tidak main-main.
Perjalanan merantau itu pun tidak berhenti di situ saja, tapi berlanjut ke Bogor selama 4,5 tahun, Chiang Mai (Thailand) selama 6 bulan, Jakarta selama 1 tahun, Konawe (Sulawesi Tenggara) selama 1 tahun, Jakarta selama 2 tahun dan Depok 6 bulan hingga sekarang. Tidak yakin apakah selama perjalanan ini aku sudah menjadi air yang jernih, singa yang mendapat buruan, anak panah yang menemui sasaran, matahari, biji emas ataupun gaharu. Namun yang kuyakini, banyak kudapat pengganti (atau mungkin lebih tepatnya tambahan) kerabat dan kawan. Banyak kutemukan momen-momen manis setelah berlelah-lelah berjuang. Banyak kupahami makna baru sebagai seorang individu.
Rasa menyesal yang masih terus ada karena tidak bisa setiap saat dekat dengan keluarga, sedikit terobati dengan banyaknya pembelajaran dan persaudaraan baru yang didapat. Rasa menyesal yang segera tergantikan dengan keyakinan bahwa Dialah sebaik-baiknya penjaga bagi siapapun yang jauh maupun yang dekat. Kita manusia hanya perlu memastikan untuk saling jaga sebaik mungkin sesuai kapasitasnya. Keyakinan bahwa merantau ini adalah ikhtiyar mengenal bumi dan makhluk ciptaan Allah yang lain, serta ikhtiyar untuk terus belajar dan menebar manfaat lebih luas lagi.
Bagi jiwa-jiwa yang sedang merantau, jaga diri ya. Selamat membuka buku kehidupan yang baru di manapun berada. Tumbuhlah subur tanpa tercabut dari akar. Terbanglah tinggi tanpa lupa akan sarang.
#Day28
Komentar
Posting Komentar