Sejuta Pelajaran yang Menemani: Gelang Manik-Manik
Sesuatu yang baru tidak akan pernah mudah, layaknya setiap
langkah pertama selalu paling sulit dibanding langkah-langkah selanjutnya. Di sini
Saya bukannya mau curhat, tapi mencatat pelajaran yang Saya dapat baik-baik
agar jadi pelajaran bagi Saya di hari-hari esok dan pelajaran orang lain yang
membacanya.
Menjalankan sebuah project ternyata jauh lebih sukar dari
menciptakan idenya, kawan. Ketika menciptakan ide, kita belum menemui hal-hal
tak terduga dan membutuhkan penyelesaian terbaik dengan mempertimbangkan segala
konsekuensi. Namun ketika kita memulai untuk menjalankannya, tantangan yang
sebenarnya dimulai. Di mana kita harus mempertahankan sesuatu dengan segala
keterbatasan yang ada, keterbatasan tenaga, pikiran, waktu, kesabaran dan
sebagainya. Iya, karena kita manusia yang lemah dan bodoh, oleh karenanya kita
berusaha untuk memaksimalkan potensi di tengah keterbatasan tersebut.
Ini pengalaman pertama Saya menjalankan project yang
benar-benar dari nol. Sudah hampir jalan tiga bulan dan sekarang Alhamdulillah
sudah mulai stabil, mengingat masa-masa sebelum ini yang berat, rasanya Saya
tidak percaya dapat melewatinya dan dapat bertahan sampai di titik ini. Mungkin
karena Saya punya rasa gengsi yang besar secara Saya adalah project leader di
sini, atau karena Saya selalu ingat kalau Saya mewakili institusi dan negara
Saya? Iya memang, namun sekarang Saya bertahan tidak hanya itu, ada sejuta
pelajaran lain yang akhirnya Saya dapat dan menguatkan Saya di tengah
perjalanan ini.
Saya selalu suka anak-anak, bagi Saya anak-anak adalah
sumber kebahagiaan dan inspirasi yang tak terhingga. Melihat mereka sedih dan
menangis adalah dua hal yang paling tak tertahankan bagi Saya. Mungkin merekalah
salah satu alasan terbesar kenapa Saya bertahan dalam project ini.
Sabtu kemarin 30 Mei 2015, kami mengadakan gathering bersama
29 anak dan orang tua serta guru mereka. Dalam sebuah sesi, mereka dibentuk
kelompok yang terdiri dari 6 anak dengan asal sekolah yang berbeda-beda. Saya dan
salah seorang tim bergantian ke setiap kelompok untuk membagikan tiga kantong
manik-manik berbeda warna dan 7 helai benang. Salah seorang dari mereka bertanya,
“ini buat apa kak?”
Saya menjawab dengan girang sambil mulai membuka setiap
kantong manik-manik, “ini untuk membuat
gelang. Nanti adik-adik membuat gelang ya dengan tiga manik-manik ini, tapi setiap
manik-manik ada artinya lho. Yang putih artinya kejadian yang menyenangkan bagi
adik-adik, yang biru artinya kejadian yang menyedihkan bagi adik-adik, dan yang
hitam artinya kejadian yang membuat adik-adik marah.”
Mendengar penjelasan Saya, mereka jadi terdiam dan mulai
mengingat-ingat kejadian dalam hidup mereka. Saya hanya tersenyum, bahkan untuk
seorang mahasiswa, pekerjaan ini bukan hal yang mudah.
Sore harinya, sebelum kami mengakhiri gathering, Saya
mendadak teringat mengenai tugas membuat gelang di siang harinya. Saya mulai
mengambil mic dan berbicara, “Maaf ya
kakak MC, kakak mau tanya sebentar sama adik-adik. Tadi adik-adik membuat
gelang kan ya? Ayo siapa yang mau ceritain gelangnya?”
Suasana ruangan menjadi riuh, ada yang bilang susah, rusak,
hilang, lupa, dan lain-lain. Setelah beberapa saat Saya hanya tertawa mendengar
jawaban-jawaban mereka dan merelakan karena tidak seorang pun membuat gelang, namun
tiba-tiba seorang adik laki-laki mengangkat tangan sambil ragu-ragu dan gugup. Saya
bahagia bukan main, saya sodorkan mic dan memintanya untuk maju ke depan. Wajah
saya sudah berseri-seri bahagia menanti ceritanya. Dan diapun mulai bercerita
dengan wajah gugupnya,
“Halo teman-teman,
Saya ingin bercerita tentang gelang Saya yang telah Saya buat. Yang warna biru
ini karena Saya sedih saat itu. Saya sangat sedih saat itu melihat orang tua
Saya bertengkar kemudian mereka bercerai. Dan...”
Saya yang tadi berdiri di samping dia, langsung buru-buru
balik badan dan bersembunyi di balik tiang tidak jauh dari sana. Saya sungguh tidak
tahan, air mata Saya menetes begitu deras tanpa bisa Saya tahan. Walau cukup
jauh dari adik itu, Saya masih bisa mendengar lanjutan ceritanya.
“Dan yang putih ini
saat Saya bahagia. Saya bahagia walaupun orang tua Saya bercerai tapi Saya
senang saat bermain dengan adik-adik Saya di rumah.”
Gejolak di hati Saya tidak tertahankan lagi, Saya menangis
sejadi-jadinya sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan Saya. Suasana hening
sejenak, kemudian suasana berganti dengan tepuk tangan meriah dari seantero
ruangan. Suara tangis Sayapun untungnya hanya dilihat oleh beberapa tim.
Saya terdiam cukup lama di balik tiang, bayangan Saya
melompat lompat dari satu memori ke memori yang lain. Mencari, pernahkah Saya
merasakan kepedihan sedalam yang dirasakan adik ini selama hidup Saya yang
hampir 22 tahun ini. Saya mulai mengobrak abrik kotak kesedihan dalam memori,
dan tidak Saya temukan apapun. Yang ada hanya kesedihan yang kini membuat Saya
malu sendiri seperti, “diejek teman, tidak
diterima di ITB, remidi geografi.”
Mulai detik itu Saya merasa betapa Tuhan sangat menyayangi
Saya, memiliki kedua orang tua yang selalu harmonis dan keluarga yang selalu
berbahagia. Walaupun terkadang ekonomi cukup sulit bagi kami, tapi itu
benar-benar bukanlah kesedihan yang pantas diratapi.
Ayahnya mendatangi dia dan mengajaknya pulang dengan mata
yang berkaca-kaca. Dia yang tadinya tidak mau beranjak dari duduknya akhirnya
mengikuti langkah ayahnya keluar ruangan. Saya mendatanginya dan dia mencium
punggung tangan Saya.
“Ya Allah, bahagiakan
Dia selamanya, jangan berikan Dia beban kesedihan yang tidak mampu Dia pikul.
Mudahkan jalannya menuju masa depan yang cerah. Amin.”
Saya menggumamkan doa dalam hati, semoga malaikat mengamini,
Amin. :’)
Inspiratif ka :')
BalasHapusAlhamdulillah kalau begitu. Semoga bs saling menginspirasi y dek. Semangat :)
BalasHapus