The Reward of Goodness is Only Goodness
Setelah dalam dua pekan ini berulang kali dengar kata Cognitive Reframing dan Cognitive-based Therapy (CBT) yang kemudian berujung pada membaca buku fenomenal; Filosofi Teras, Allah kasih aku pengalaman empiris untuk secara langsung menguji konsep-konsep tersebut dalam hidupku.
Hari ini aku dimintai tolong oleh seseorang. Bagi orang-orang yang mengenalku, mungkin aku terlihat sungguh baik yang akan selalu dengan senang hati menolong orang (image anak-anak NGO be like). Tapi nyatanya tidak begitu. Sebaliknya, aku sering merasa kesal jika harus mengerjakan sesuatu yang tidak ada dalam daftar rencanaku. Walau akhirnya tetap aku lakukan juga karena alasan tanggung jawab. Seperti halnya hari ini.
"Why should I clean other people's mess?" Ini respon pertama yang muncul dalam benakku.
Semulia-mulianya membantu orang lain, aku tetap merasa ini melelahkan. Karena hari ini aku sedang dalam kondisi tidak fit, namun harus naik motor bolak-balik 4 jam di teriknya siang hari di Depok, mengesampingkan pekerjaan dan rencana-rencana yang sudah aku susun sebelumnya. Lebih melelahkan lagi karena ini mendadak, dan pada akhirnya aku tidak mendapatkan kata terima kasih dan maaf dari yang bersangkutan.
Selama mengendarai motor, aku banyak merenung. Tujuanku satu: aku tidak mau pekerjaan mulia membantu orang ini sia-sia. Aku bergumul antara rasa kesal dan mencoba ikhlas serta damai. Dari perenungan di atas motor itu, aku jadi berpikir begini:
1. Kapan ya terakhir kali aku berkorban demi seseorang? Mengesampingkan kepentingan diri demi orang lain?
Ini mungkin kejauhan, tapi aku mendadak teringat bagaimana orang tuaku akan dengan suka rela melakukan hal yang sama jika mereka ada di posisiku saat ini. Bukan hanya sekedar untuk menunjukkan rasa sayang; I am doing it because I love you, tapi sudah menjadi tanggung jawab, sudah menjadi tupoksi yang secara wajar dilakukan.
2. Even if I don't want to do it for him/her, I am doing it for Allah.
Di sinilah Cognitive Reframing tadi coba aku terapkan. Di saat emosiku mulai kacau karena bergumul dengan rasa kesal kenapa aku harus melakukan ini semua, aku mencoba mengubah perspektifku. Aku tidak melakukan ini untuknya, aku melakukan ini untuk Allah, untuk mendapatkan ridho-Nya. Look, I am doing good thing, right Allah? Dan surprisingly, aku jadi bisa tersenyum sepanjang perjalanan. Yang tadinya bete karena telapak tanganku belang karena kepanasan, sekarang jadi lega; Insya Allah jadi saksi di hari nanti bahwa menghitamnya tanganku ini karena aku membantu saudaraku.
3. Even when everything sucks, a little smile really helps.
Satu hal yang aku syukuri dari berkilo-kilo meter bolak-balik keliling Depok hari ini, sampai hampir tertabrak mobil serta tersasar ke daerah antah berantah, adalah kesempatan untuk minum jamu dorong di pinggir jalan. Random. Tapi demi melihat senyum Ibu penjual jamu saat aku menengguk segelas jamu temulak + jahe, rasa kesal dan lelahku seketika hilang :)
4. The reward of goodness is only goodness.
Cuitan Ustadzah Yasmin Mogahed ini rasanya pas banget untuk situasiku saat ini. Kebaikan seperti energi, bersifat kekal, dia tidak musnah, hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Mungkin bukan dari orang yang aku tolong tersebut, tapi dari orang atau makhluk lain. Atau mungkin lebih baik, akan Allah siapkan kebaikan yang jauh lebih besar dan berlipat di hari akhir nanti. Insya Allah.Pada akhirnya tulisan ini lahirpun karena insiden berpanas-panas ria hari ini :)
Mungkin jika aku hanya mendekam di kamar dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaanku hari ini, pemaknaan ini tidak akan tercapai. Huft. "Aku lega ya Allah. Aku ridho" :)
Komentar
Posting Komentar