“Wearesiblings: Karena Kita adalah Saudara, Bahagiamu Bahagiaku Juga”
Gambar 1 Presentasi di UNICEF
Saya
dilahirkan di keluarga dan lingkungan yang menjunjung tinggi hak anak. Tidak hanya
hak mendapatkan pangan, sandang dan papan tetapi juga hak untuk menyuarakan
pendapat. Dalam keluarga saya, kasih sayang adalah yang utama. Saya sering kali
melakukan kesalahan tetapi tidak lantas saya dihukum secara fisik. Orang tua
saya akan memberikan saya kesempatan untuk berbicara dan menyampaikan apa yang
telah saya lakukan. Pada akhirnya saya dibeitahu apakah tindakan saya tersebut
benar atau tidak. Mereka jugalah yang mengajarkan saya untuk mengintrospeksi
diri, meminta maaf dan memaafkan sesama. Pemahaman itulah yang saya gunakan untuk mengatasi masalah
yang saya hadapi ketika masa-masa di sekolah. Dulu ketika SD, saya dipanggil ‘Jerapah’
karena paling tinggi di sekolah dan saat masuk SMA yang meruapakan sekolah
paling favorit di kota saya, saya sempat tidak punya teman karena berasal dari SMP
kampung. Namun dengan adanya kasih sayang dari keluarga, saya tidak pernah
menjadikan ‘pembulian’ teman-teman itu sebagai hambatan diri saya untuk maju.
Pada tahun ketiga saya di Institut
Pertanian Bogor (IPB), saya berkesempatan untuk menjadi fasilitator acara
sosialisasi sarapan bergizi di salah satu SD di Bogor. Di kelas yang saya
pandu, ada salah seorang siswa yang dijauhkan dan diejek teman-temannya karena
dia kesulitan dalam berbicara. Karena ejekan dari teman-temannya dia menjadi
pemurung dan sering kali menangis. Di kesempatan yang lain, adik laki-laki saya
yang juga sedang duduk di bangku SD bercerita mengenai ejekan teman-teman
padanya dengan sebutan ‘banci’ karena suka bermain dengan teman-teman perempuan
di kelasnya. Hal itu membuatnya malas bersekolah dan menjauhi teman-teman
perempuannya. Dan ternyata itu tidak hanya jadi pikiran saya saja tetapi juga
empat teman saya yang lain. Kami berfikir bahwa tindakan bully di sekolah terkadang kelewatan dan dampaknya bisa berbahaya
bagi kualitas mental anak. Selain itu kami berfikir bahwa peran orang tua dan
guru juga sangat penting untuk mencegah dampak buruk dari aksi bully di sekolah atau bahkan
menghentikan aksi bully di lingkungan
sekolah.
Oleh karena itulah saya dan keempat teman yang lain
menginisiasi komunitas yang bernama “Wearesiblings”
atau yang artinya “kita saudara”. Alasan dibalik nama tersebut adalah kami
yakin bahwa semangat persaudaraan antar sesama harus semakin ditumbuhkan di
kalangan generasi sedini mungkin agar mereka memiliki toleransi yang tinggi
terhadap perbedaan dalam komunitasnya. Orang-orang banyak bertanya, kenapa saya
peduli sekali dengan dunia perlindungan anak padahal jurusan saya teknologi
pangan yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan anak-anak. Saya berfikir
bahwa kesadaran untuk menumbuhkan semangat persaudaraan di lingkungan anak-anak
bukanlah hanya tanggung jawab mahasiswa yang belajar psikologi saja, atau
sosial saja atau ilmu keluarga saja tetapi semua orang. Dan satu hal yang
selalu saya ingat, setiap anak terlahir dengan hak yang sama, begitu pula hak
untuk bahagia.
Gambar 2 mengikuti kampanye HAN di CFD Sudirman
Komunitas ini masih sangat muda, umurnya masih satu tahun
tetapi kami telah membuktikan bahwa pemuda dapat melakukan perubahan dalam
lingkungan sekitanya. Motor penggerak komunitas ini adalah pemuda. Jadi bisa
dibilang selain anak-anak SD yang menjadi target komunitas ini, para pemudanya
pun ikut diberdayakan. Pemuda-pemuda ini
memiliki peran sebagai kakak mentor yang membina adik-adiknya dari berbagai
sekolah yang berbeda. Kami berharap untuk menumbuhsuburkan semangat kasih
sayang dan persaudaraan antar sesama anak-anak, antara anak dengan kakak yang
lebih tua darinya, serta antara anak dan orang tuanya. Selain itu anak-anak
serta para pemuda yang tergabung dalam komunitas ini belajar mengenai tanggung
jawab, kerja tim, berkomunikasi, menilai diri sendiri, dan berbagai soft skill lainnya.
Bagi anak-anak anggota Wearesiblings, mereka akan mengikuti mentoring baik offline (tatap
muka langsung) dan online (lewat sosial media) selama dua minggu sekali dengan
berbagai macam materi yang telah disusun kurikulumnya. Sosial media berperan
penting dalam kegiatan ini karena melalui tools tersebut kami dapat
mensosialisasikan aksi dan kampanye ke lebih banyak orang. Kegiatan yang
dilakukan sangat menyenangkan seperti bermain olah raga bersama, membuat hasil
kerajinan bersama, bermain musik, bercerita, membaca puisi untuk orang tua, dan
tantangan-tantangan seru lainnya. Di sini anak-anak diajarkan untuk menghargai
sesamanya, mengatahui bahwa mengejek dan menghina itu tidak boleh dilakukan,
sikap meminta maaf dan memaafkan, bagaimana mengenal diri sendiri dan bagaimana
bersikap yang baik dengan orang tua, guru, orang yang lebih tua dan teman
sebaya. Nantinya di akhir program, setiap ini diharapkan menjadi duta
persaudaraan di mana dia bisa menjadi contoh yang baik bagi teman-teman di
sekolahnya.
Gambar 3 Melakukan monitoring perkembangan anak
Sedangkan para pemuda yang tergabung dalam komunitas ini
kebanyakan merupakan pemuda yang memiliki pengalaman yang tak terlupakan ketika
kecil yang nantinya dapat menjadi pelajaran berharga bagi adik-adik
mentoringnya. Sebelum melakukan mentoring, para pemuda ini diberi pelatihan
mengenai kepribadian diri, hak-hak anak serta bagaimana menjadi mentor
sekaligus kakak yang baik. Setelah pelatihan dan mempraktikkannya langsung kami
berharap para pemuda tersebut dapat menjadi pelita-pelita baru di lingkungannya
untuk ikut aktif menjadi problem solver masalah yang terjadi disekitarnya. Dan
semangat persaudaraan yang telah mereka dapatkan diharapkan dapat menjadi
langkah awal menciptakan kedamaian di negeri kita tercinta.
Gambar 4 Tim Wearesiblings di Proklamasi Anak dalam rangka HAN
Bukan hal yang mudah ketika saya ditunjuk menjadi ketua
komunitas dengan jadwal kuliah yang padat, kegiatan luar yang gila-gilaan serta
kepentingan lain yang tidak dapat diabaikan. Apalagi tantangan yang saya hadapi
di awal lahirnya komunitas ini adalah memimpin teman-teman dekat saya sendiri. Kalau
boleh jujur saya sempat down namun
saya tidak lantas berlarut-larut dengan masalah yang saya hadapi. Saya boleh
gagal namun saya tidak boleh menyerah. Selama kepengurusan setahun kebelakang
banyak sekali rintangan, hambatan, ejekan dan air mata yang menemani namun itu
semua tak lain untuk membuat saya menjadi pribadi yang semakin kuat dan mau
terus menerus belajar. Dari pengalaman menjadi ketua, apalagi seorang
perempuan, saya dituntut untuk melampaui batasan-batasan yang saya punya
sebelumnya. Saya menjadi belajar menjalin hubungan yang baik kepada semua pihak
bagaimanapun kondisi saya saat itu, memanajemen tim yang memiliki interest yang
berbeda-beda, dan belajar memisahkan kepentingan pribadi dengan kepentingan
tim. Saya yang tadinya hanya diberi kesempatan untuk memimpin sebuah divisi di
sebuah kepanitian, sekarang saya ditantang untuk hal yang lebih besar lagi. Secara
pribadi, dari pelatihan yang saya dapatkan dari UNICEF sebagai key partner saya belajar untuk me-manage sistem dengan baik, memaksimal
setiap potensi yang ada dengan kekurangan yang kami punya, dan belajar untuk
menikmati proses belajar.
Hingga akhirnya sebuah mimpi saya terwujud: membawa Wearesiblings ke media televisi
Indonesia. Ya, itulah cita-cita saya di awal terbentuknya komunitas ini, saya
berharap apa yang kami lakukan dapat memberi inspirasi kepada para pemuda di
Indonesia untuk ikut bergerak dalam menyelesaikan masalah di lingkungan tempat
tinggal kita seperti salah satunya yang saya dan teman-teman Wearesiblings lakukan sebagai obor
persaudaraan di kalangan adik-adik kita. Hari itu Wearesiblings berkesempatan untuk bercerita di dua stasiun TV
terkemuka di Indonesia.
Gambar 5 Wearesiblings menyampaikan program kegiatan pada komunitas lain
Gambar 6 Liputan Wearesiblings dalam acara Insight
Walaupun baru seumur jagung, kami senang melihat
perubahan yang terlihat dari anak-anak serta pemuda yang tergabung dalam
komunitas ini. Berdasarkan penuturan orang tua dari anak-anak tersebut,
kepribadian mereka banyak berubah seperti lebih sayang kepada orang tua dan
adik-adik. Banyak cerita juga disampaikan dari para kakak mentor yang melihat
banyaknya perubahan positif pada adik-adik mereka. Sebagai tim, kami juga
melihat banyak perubahan positif yang terlihat pada kakak-kakak mentor. Dengan banyaknya
kesempatan untuk mengikuti dialog dan seminar dari komunitas partner, mereka
belajar untuk lebih berani menyampaikan pendapat, memperluas jaringan merka
tidak hanya lokal tetapi juga internasional serta memiliki memiliki kemampuan
menulis yang lebih baik dari sebelumnya. Harapannya, komunitas ini tetap bisa
berdiri dan memberikan banyak manfaat bagi lingkungan sekitarnya
Gambar 7 Kegiatan kumpul saudara sebagai salah satu rangkaian kegiatan Wearesiblings
Gambar 8 Jadi bagian dari Wearesiblings sekarang juga








Komentar
Posting Komentar