Jadi Begini Rasanya Berlebaran Haji di Thailand
Lebaran haji merupakan momen spesial
bagi setiap umat Islam di dunia. Untuk Hari raya yang hanya hadir sekali dalam
setahun ini pastinya umat Islam akan berbondong-bondong untuk menyambutnya,
seperti melakukan shalat Idul Adha bersama, berqurban, berkumpul dengan keluarga
dan melakukan aktifitas keagamaan lainnya untuk mendekatkan diri pada Allah
SWT. Dari lahir sampai SMA saya selalu merayakan lebaran haji di kampung saya
di Pekalongan. Lebaran yang Saya ingat identik dengan malam yang ramai, kami berbondong-bondong
ke masjid untuk mengalunkan takbir dan tasbih, makanan yang banyak nan
menggugah selera, anak-anak kecil main petasan di jalan-jalan, penjual ketupat
menggelar dagangan, ibu-ibu akan sibuk ke pasar dan dapur untuk membuat opor. Malam
sebelum hari H, Saya akan sibuk di depan tempat setrika, menyetrika baju-baju
untuk dipakai shalat Idul Adha. Dan setelah shalat Idul Adha bersama orang
sekampung, adik saya biasanya dan saya kadang-kadang menonton sapi yang mau
disembelih lalu dikuliti dan dibagi-bagikan. Setelah masuk universitas, saya
menikmati perayaan lebaran haji yang seadanya ala anak kos. Shalat bersama di
masjid atau lapangan kampus, bertakbir bersama, menunggu pembagian daging
gratis, lalu masak-masak di kosan. Tetapi satu hal yang masih sama walaupun
jauh dari kampung halaman, kegiatan belajar mengajar diliburkan karena
merupakan agenda libur nasional, sejauh mata memandang kita masih merasakan
bahwa kita semua sedang merayakan Idul Adha, dan sejauh kita pergi kita masih
mendengar suara masjid mengalunkan takbir sepanjang hari.
Kalau lebaran haji di kampung halaman
sudah biasa, lalu lebaran haji di perantauan yang penduduknya mayoritas muslim
juga sudah biasa, maka akan beda rasanya bila lebaran haji jauh dari keluarga,
tidak di kampung halaman sendiri, dan merayakannya sebagai kaum minoritas. Ya,
lebaran haji tahun ini bagi saya sangat spesial karena Saya merayakannya jauh
dari keluarga Saya, jauh dari negara Saya. Ya, Saya berkesempatan merayakan
labaran haji di Thailand, dengan 90% penduduknya beragama Buddha.
Lebaran dalam benak saya adalah momen
suka cita, berkumpul bersama keluarga besar yang tinggal jauh di sana, saling
cerita ini itu, sampai lupa waktu.
Pagi hari tanggal 5 Oktober 2014,
keluarga Saya mengirim pesan, menanyakan bagaimana lebaran di sana. Ah, rasanya
lebaran jauh dari kampung halaman dalam keadaan home sick dan country sick
itu pasti teman-teman bisa membayangkan bagaimana. Malam sebelum lebaran haji
itu saya Cuma berdiam di kamar, feeling
syahdu, tidak berminat bercengkerama
bersama teman-teman Indonesia yang lain. Saya memilih di kamar bersama dua
teman saya yang berasal dari Jepang dan China, mulai Skype-an dengan keluarga
di rumah dan mulai sendu sendiri melihat wajah-wajah keluarga yang sedang
berkumpul di rumah. Saya sempat memberi tahu kedua teman saya kalau besok saya
akan keluar pagi-pagi untuk melakukan ibadah bersama di kampus. Mereka sempat
menambahkan bahwa mereka juga mendengar teman-teman muslim di kelasnya akan
melakukan ibadah yang sama besok.
Mahasiswa muslim di kampus Saya, Mae
Fah Luang University, Chiang Rai, memang tidak banyak jumlahnya. Kebanyakan
orang asli Thailand yang beragama Islam datang dari bagian Selatan, ada yang dari
Yala, Narittawat, dan Pattani. Sisanya ya kami ini, para perantau yang datang
dari Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan ada juga yang dari China dan Maladewa.
Sebagai muslim di tengah para penganut agama Budda di sini, kami tetap bisa
berlebaran dengan layak, hanya saja tidak seramai biasanya karena di sini agama
Islam adalah minoritas, tapi percayalah bahwa pengalaman ini justru yang paling
berharga dari lebaran haji saya sebelumnya.
Pagi itu saya bersiap-siap di kamar,
tidak lupa mengerjakan beberapa amalan sunnah hari Raya. Kedua teman kamar saya
masih terlelap. Setelah siap, saya menggabungkan diri dengan rombongan di lobi
asrama perempuan. Mereka semua adalah mahasiswa Thailand yang beragama Islam
dan beberapa mahasiswa asing termasuk teman-teman dari Indonesia. Kami berjalan
menuju gedung olah raga kampus sambil sesekali saling bercerita bagaimana
lebaran haji di Aceh, di Jawa Tengah, di Jogja, di Jawa Barat. Sayangnya tidak
semua mahasiswa muslim dapat mengikuti ibadah shalat Idul Adha karena lebaran
haji tidak termasuk agenda libur nasional sehingga ada beberapa yang harus
masuk kelas. Alhamdulillah saya mengambil research
course di sana sehingga jadwalnya lebih flexible.
Mungkin karena kami minoritas dan
sama-sama perantau di negeri orang yang jauh, kami justru menikmati setiap
detik lebaran haji di sana. Kami bisa berkumpul bersama, shalat bersama, takbir
bersama, dan berbagi bersama sebagai seorang muslim, merupakan kebahagiaan yang
tidak terkira bagi kami. Sederhana memang, tanpa alunan takbir
menggema dari masjid yang biasanya mengiringi langkah para jamaah dari rumah ke
tempat shalat Idul Adha, tapi Saya yakin kami semua diam-diam bertasbih dalam
hati, saya pun begitu. Ah, entahlah, tangis Saya tak kuasa lagi saya bendung ketika
menggelar sajadah dan memulai memakai mukena. Takbir dialunkan oleh salah
seorang muslim dari Thailand yang diikuti oleh jamaah yang lain di lapangan
olah raga kampus kami. Tak hanya saya ternyata, yang lain juga diam-diam
menyapu air mata. Saya hanya ingin menangis, bukan karena sedih yang
keterlaluan, tapi lebih kepada syukur yang mendalam. Saya bersyukur bisa
berdiri rapat, merayakan bersama
kemenangan ini, mengalunkan takbir yang sama walaupun bangsa dan bahasa kami
berbeda, dan rasa damai itu sampai ke hati. Jauh lebih dalam dari merayakan
lebaran haji di kampung saya.
Tempat menunaikan ibadah shalat Idul Adha
Pagi itu cerah sekali, dan saya tak
henti hentinya mendongakkan kepala ke atas sambil terus mengalun takbir, sedang
mencoba berbicara dengan Sang pemilik langit, mengirim doa musafir yang sedang
berjuang di negeri orang, doa yang hanya Saya dan Allah yang tahu. Akhirnya
semua jamaah telah berkumpul, saya mulai mengedarkan pandangan dan saya semakin
terharu melihat senyum teduh dari para jamaah yang berbeda negara, bahasa,
warna kulit memakai baju kemenangan yang sama. Sang Imam yang merupakan ketua
muslim club di kampus MFU berdiri, mengucapkan kalimat berbahasa Thailand dan
semua jamaah mulai bersiap berdiri dan memulai shalat. Saya mengikuti, meluruskan
shaf, membenarkan letak sajadah, dan memantapkan hati. Shalat dua raka’at ini
tidak boleh sia-sia, shalat dua raka’at ini sangat berharga.
Tidak ada yang berbeda dengan dua
rakaat shalat Idul Adha itu dengan shalat Idul Adha yang saya lakukan sebelumnya,
kalam Allah dibacakan dengan fasih dan jelas, sehingga kami bisa dengan khusuk
mengikuti. Saya mendekap takbir dengan erat, menikmati setiap gerakan dan
bacaanya, tidak ingin buru-buru menyudahinya. Setelah salam kami duduk
mendengarkan khutbah dari Imam. Khutbah disampaikan dalam dua bahasa yaitu
bahasa Thailand dan bahasa Melayu. Sejujurnya saya tidak memahami betul isi
khutbahnya karena kemampuan bahasa Thailand saya memprihatinkan dan bahasa
Melayu yang digunakan juga bahasa Melayu Kelantan yang sangat jauh dari bahasa
Indonesia. Satu hal yang saya ingat dan saya mengerti adalah himbauan untuk
saling berbagi kepada yang lain.
Selepas shalat, kami saling berjabat,
berpelukan, sudah tak ada tangis, yang ada rasa tentram dan bahagia bisa
berkumpul dengan keluarga seiman dari berbagai negara. Beberapa teman mulai
ditelpon atau menelpon keluarganya di rumah. Saya berniat menelpon orang tua
nanti setelah semua kegiatan ini selesai. Bersama para muslim club yang lain
saya mulai berfoto-foto dan hidangan makan pagi ala bang Ucup “Our Halal hero”
pun dengan singkat mengisi perut-perut kami yang lapar. Nasi lemak, mie goreng,
jamur, telur, dan es buah langsung dilahap habis oleh para jamaah shalat. Entah
berapa banyak pahala untuk bang Ucup dan keluarganya yang telah menyiapkan
hidangan ini, sudah enak, bergizi, gratis pula. Subhanallah, hanya Allah yang
akan kuasa membalasnya. Satu hal penting yang harus diingat: ikhlas berbagi itu
indah. Tidak hanya indah dilihat tapi akan jauh lebih indah untuk dilakukan.
Mengantri makan pagi dari Bang Ucup
Menu makan pagi di hari lebaran 1435 H
Keluarga muslim ini pun bergegas
bertolak ke Shirindorn Chinesse Culture Learning
Centre untuk berfoto bersama. Tempatnya memang cantik, dengan ornamen khas
China lengkap dengan rumah, patung, relief, kolam, alat musik, baju adat dan
buku-buku berbahasa Mandarin. Lokasinya di dalam kampus MFU dan memang
digunakan untuk belajar mengenai kebudayaan China, wow tidak heran banyak
mahasisa China yang belajar di sini. Jeprat jepret, begitu banyak foto, rasanya
seperti kami ingin mengabadikan sebanyak-banyaknya kebahagiaan hari ini, tidak
ingin terlewatkan barang satu senyumpun. Saya dan sahabat saya, Nat, juga tidak
henti-hentinya berfoto di setiap sudut ruangan dengan berbagai gaya. Terakhir
kali kami berfoto di depan Shirindorn
dengan langit hari ini yang indah sekali, biru dan bersih. Langit yang seakan
jadi saksi persatuan hati kami hari ini.
Eits, ternyata setelah foto bersama
masih ada acara keren yang lain. Kami bermaksud mengunjungi Muslim Village di Pang Sa, Chiang Rai dan
melakukan qurban di sana. Tidak semua mahasiswa Indonesia mengikuti kegiatan
ini tetapi saya yang sangat menyukai jalan-jalan apalagi ke tempat baru pasti
tidak akan menolak. Kami berangkat dengan song
tew (semacam angkot yang bagian belakangnya terbuka, seperti di film Si
‘Doel’ Anak Betawi). Waktu itu saya se’angkot’ dengan Alice, teman Indonesia,
dan teman dari Thailand. Alice yang sangat menyukai Zain Malik personil One
Direction itu adalah mahasiswa dari Myanmar yang juga beragama Islam. Kami
banyak berbincang dan tertawa-tawa bersama di dalam ‘angkot’. Kami mengunjungi
sebuah desa yang masih sangat ‘desa’. Wajah-wajah mereka berbeda dari
orang-orang Thailand yang biasa saya lihat di kampus. Sekilas seperti ada darah
tibet dan Mongol di wajah mereka. Walaupun di desa itu ada sebagian kelompok
penduduk muslim tetapi masih banyak babi dan anjing berkeliaran serta banyak juga
makanan tidak halal di jual di warung-warung (kenapa saya yakin? Karena saya
sempat di hadang oleh kawanan babi dan sempat akan membeli abon babi di sana,
lol)
Saya dan calon sapi yang akan di-qurbankan
Proses pembagian daging
Befoto bersama adek-adek di kampung Muslim Pang Sa setelah lelah bermain. Yang baju pink sempat nangis waktu saya izin pulang :(
Di sana kami melihat penyembelihan
sapi (sapi di sana ternyata sama dengan di Indonesia), melihat proses pembagian
daging (dagingnya tidak ditimbang, hanya dikira-kira beratnya dengan tangan),
shalat dhuhur dan asar bersama di masjid bersama penduduk lokal, makan makanan
serba daging (super banyak banget), ikut bakar daging, dan yang tidak
terlupakan adalah ketika bermain ular naga, terowongan, dan gobak sodor bersama
anak-anak kecil di sana. Menjelang maghrib kami bergegas meninggalkan desa. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Walaupun jauh dari keluarga dan tanah kelahiran tapi hari itu saya sangat bersyukur dapat berbagi kebahagiaan bersama keluarga muslim dari belahan dunia yang lain.
Besoknya hingga seminggu setelah itu, kami masih menikmati lebaran haji bersama. Muslim club MFU mengadakan mosque visit, games, village visit, dan permainan seru seperti Running Man. Walaupun saya sempat merasa kebingungan karena semua acara dilaksanakan dalam bahasa Thailand, tetapi saya menikmatinya. Malamnya, kami selalu berkumpul di kantin Bang Ucup agar tidak melewatkan kesempatan menikmati olahan daging qurban. Dan semuanya gratis. Ya, baru kali ini saya menikmati santapan khas lebaran haji seminggu penuh dan gratis. Walaupun minoritas, tetapi saya justru merasa perayaannya jauh lebih spesial dari perayaan di kampung saya di mana mayoritas beragama Islam.
Besoknya hingga seminggu setelah itu, kami masih menikmati lebaran haji bersama. Muslim club MFU mengadakan mosque visit, games, village visit, dan permainan seru seperti Running Man. Walaupun saya sempat merasa kebingungan karena semua acara dilaksanakan dalam bahasa Thailand, tetapi saya menikmatinya. Malamnya, kami selalu berkumpul di kantin Bang Ucup agar tidak melewatkan kesempatan menikmati olahan daging qurban. Dan semuanya gratis. Ya, baru kali ini saya menikmati santapan khas lebaran haji seminggu penuh dan gratis. Walaupun minoritas, tetapi saya justru merasa perayaannya jauh lebih spesial dari perayaan di kampung saya di mana mayoritas beragama Islam.
Tulisan ini saya tulis untuk menjadi penguat bagi diri saya yang sedang jauh dari tanah air dan para perantau-perantau lain di belahan dunia sana. Semoga bisa jadi penghela nafas lega bagi keluarga saya yang khawatir bagaimana
lebaran ini saya lalui jauh dari mereka. Maka di akhir catatan saya, saya ingin
mengatakan, menjadi minoritas bukanlah bencana, menjadi minoritas adalah memberi kita kesempatan untuk semakin menemukan jati diri, menguatkan langkah, dan menghargai perbedaan. Selamat berlebaran haji di manapun anda berada. :)
Running Girl bersama ukhti-ukhti muslim club MFU
Komentar
Posting Komentar