Bahagiaku Sederhana : Ke Legon Pari sama Mereka
Karena tidak melulu hidup itu menyenangkan, kadang sesekali
jenuh dan terpuruk, juga salah satu warna hidup. Ya tinggal gimana kita
menyikapi aja.
Ceritanya minggu itu suram banget, kerjaan lagi
banyak-banyaknya di kantor, plus bos lagi semangat semangatnya ngerecokin
kerjaan staff nya. Ditambah lagi otak yang mungkin lagi sengkleh dan kurang
piknik jadi bawaannya banyak yang salah aja tuh kerjaan. Alhasil kena semprot
deh, hahaha. Gejala stress pun bermunculan: lesu, nggak nafsu makan, tidur
nggak tenang, jerawat pun bermunculan, nah lhoo. Then akhirnya salah
seorang teman di kantor bilang: “Your
life is not only for your boss Yendhul! Be balance lah: diri sendiri, keluarga,
teman-teman. Come one, don’t limit yourself in the square box yang namanya OFFICE!”
Dan dipikir-pikir bener juga. Ya mungkin karena baru empat
bulan kerja ya jadi belum bisa ngatur ritme dan semua pikiran tercurahkan ke
kerjaan, but actually it’s not good tho. Alhasil ya seperti yang gue rasain ini syndrome nya: gue sampai
kadang kurang aware sama keadaan keluarga, teman-teman dan bahkan diri sendiri
yang terkadang diabaikan padahal udah ngasih sinyal lampu kuning (read: gue lelah). The selfishness menguasai diri gue, semacam gue orang paling sibuk se dunia sampai nggak ada waktu buat yang lain.
Tiba-tiba HP gue bunyi, in the
same time gue lagi merenung, beberapa temen di IPB ngajakin buat jalan-jalan.
Bukan temen
jurusan si, bukan temen UKM, bukan teman main dan beda angkatan pula. Haha but that time,
senang aja diajak. Sampai akhirnya masuklah dalam sebuah grup halan-halan yang
notebenenya gue paling tua umurnya, walau semangat tetap muda si hihi. Lima
orang lebih muda setahun dari gue dan dua lainnya tiga tahun lebih muda dari
gue. Kami sebenernya udah saling kenal karena kami satu beasiswa, walau beda
batch si.
Fix okelah kami berdelapan memutuskan untuk menghabiskan
weekend ini bersama, walau sebelumnya dipenuhi prahara rumah tangga: kegalauan,
ancaman nggak jadi, di-php-in. But Tujuan kami sudah bulat sebulat bulan purnama, tsaaah: Pelabuhan Ratu
lanjut ke Sawarna, nyasar, liat bintang, prok prok.
Sabtu shubuh kami berangkat dari Bogor naik mobil, untungnya
dua diantara kami ada yang bisa bawa mobil jadi gentian deh. Mobilnya juga
hasil sponsor merayu orang tua hehe jadi budgetnya terkontrol deh pastinya. *big wink*. Yah
walaupun molor ni jam 6 baru berangkat, kami kuy juga. Formasinya Oji dan Ok Google (bukan nama sebenarnya) di
depan sebagai dedek-dedek kami yang bisa nyetir mobil, gue nggak tau gimana jadinya nggak ada mereka wkwkwkw. I owe you!
Di tengah ada Mamak,
Su dan Berbi. Belakang ada gue, Babay dan Bunga Matahari. Ngobrol sama mereka,
walaupun gue beda umur, beda angkatan, beda jurusan, beda kepengurusan, bisa
nyambung banget lho, aneh, gue juga heran. Mungkin karena kami punya kepribadian yang mirip-mirip and I
found them as kind, positive and not self-centric person. Yeay. Obrolan dari
Bogor menuju Sukabumi pun anti garing. Selalu saja ada obrolan, dan berharga
menurut gue. Tsaaah. Anti dari ngomongin orang (at least kejelekan orang lain di luar mobil), mengeluh, dan negative thinking. Asli, ini beneran yg gue butuh cem selama ini terlalu banyak menumpuk pikiran negatif sampe jadi jerawat. (ada hubungannya? enggak si)
Enam
jam perjalanan pun nggak terasa, dari mulai ngomongin kerjaan masing-masing,
hal-hal lucu di kantor, cie-ciean mantan dan gebetan, ladyboy di Thailand, sampai hal-hal
yang mikir seperti hubungan gluconeogenesis dan upaya diet, hubungan puasa
dengan hormone, ciri-ciri generasi Milenial, sama hormone yang kami produksi
saat jatuh cinta. Nah kalau kami capek mikir, kami memilih untuk nyanyi. Yah
walaupun suaranya semua nggak ada yang merdu kecuali Mamak yang pentolan Agria, Cieee. Alih-alih ya dengerin music dari HP atau radio mobil, kami malah asyik
nyanyi-nyanyi random, lagunya lagu usang jaman kami ingusan dulu dan lagu-lagu kartun tahun 90-an. Entah
kitanya yang kudet atau kitanya yang terlalu tua. haha
Kadang-kadang si dua dedek di depan pusing karena kami beda generasi jadi ada lagu-lagu kartun yang mereka nggak nyambung, peace dek.
Sampai akhirnya tercetuslah hal konyol tersebut; Maudy Ayendhi, Syaiful Jamal,
Suuuu, muntah elegan, dan lagu Chibi Maruko Can yang diplesetin jadi Sekarang ganti baju agar menarik hati ayo
kita mencari pacaaaar, lagu A Thousan Year yang jadi Ayendha everyday waiting for you dan lagunya Anji yang judulnya Dia
jadi Ku cinta dia, sayang dia, rindu dia,
dianya enggak atau dianya siapa.
Cus! Setengah perjalanan sampai perjalanan, kalau nggak salah sampai di Sukabumi deh, kami singgah di sebuah kantor kepala desa yang mayan luas lapangan parkirnya jadi mobil kami bisa masuk. Alasannya karena Barbie butuh teh anget buat ngeredain mabuk perjalanannya dan Oji butuh mandi karena dia belum sempet mandi.
Ada mushala yang bersih juga di sampingnya. Di seberangnya pun ada warung lokal yang jual aneka kue-kue desa, teh dan kopi. Di depan warung ada semacam pade-pade or saung-saung semacam rumah panggung yang mayan untuk istirahat sambil nunggu si Oji mandi. Pucuk dicinta ulampun tiba, si Babay bawa nasi dan ayam bakar buatan dia sendiri, sedap plus kami udah mulai laper, walau waktu menuju makan siang masih jauh sebenarnya.
Yang foto Mamak, kameranya juga Mamak punya
Psst, lagi asyik foto-foto pakai segala macam gaya yang ada, tetiba ada mas-mas mendekat dan izin mau fotoin kami. Uhuy, berasa dah jadi model.
kami shalat di salah satu mushala deket situ dan mulai melanjutkan perjalanan ke pantai selanjutnya. Kuy, let's go find the private beach! Sawarna will be the next tempat kencaaaan. Sejam, dua jam, and yeay kami sampai di Legon Pari, eh kok bukan Sawarna? Yap, karena kami antimainstream, saat orang nyari sunset bagus di Sawarna, kami malah melipir ke Legon Pari. Daaaaan, olrait inilah salah satu keputusan paling benar yang hakiki. Ngelewatin semacam gang sempit samping SD, mobil pun akhirnya diparkir di depan warung kecil, dan kami harus naik kekong alias jalan kaki menuju pantainya. And emejing nya, semacam ada track nya, yah walau dikit-dikit lah ditemani rintik hujan, ada sawah, sungai, jembatan, batu-batuan and taraaaa sampai lah kami pada sebuah pantai. Nggak banyak orang di sana, pemandangannya jauh lebih indah, pasirnya masih tergolong putih dan bersih. Hujan mulai rintik waktu itu, kami drop barang di salah satu saung-saung yang berdiri di pesisir pantainya. Di belakang saung itu ada semacam warung dan toilet sederhana. Karena laper, kami memutuskan untuk makan dulu sebelum maen sampe bego. Nasi, indomie kuah sama ayam bakarnya si Babay adalah sebuah anugerah.
Dari mulai nggak hujan, hujannya rintik, hujan deres, hujan rintik lagi, deres lagi sampai nggak hujan lagi dan hari berganti malam kami masih aja maen di pantai. Orang-orang waras mah pada melipir pas hujan, nah kami malah nari-nari, maen dingklik (nggak tau apaan? coba panggil ok Google), maen pasir, maen ombak, tiduran di pantai, lari-lari, cari karang.
Balik ke saung, niatnya mau udahan karena tangan udah putih kisut-kisut, menggigil kedinginan tapi liat ayunan jadi pengen maen, liat pada nguburin Oji pake pasir jadi pengen, liat pada foto-foto pun jadi pengen.
Dan kalau bukan karena gelap dan nggak ada lampu (either listrik apapun di sana), kami nggak akan berhenti maen di pantai. Kami liat sunset bagus? enggak, tapi kami senang. Dapet foto cantik? enggak, yang ada foto lusuh, bau asin, nggak ber gincu, pasir di wajah, tapi kami senang :)
Ok baik, selesai berbasah ria penuh pasir dan air laut yang asin, kami mau mandi. Dan masalah pun di mulai. Nggak ada mushala men, nggak ada lampu jadi gelap gulita, akses air tawar terbatas. Toilet belakang saung kami penuh, dah di antri anak-anak cowok sama para petualang yang lain. Gw, Su, Mamak dan Barbie memutuskan cari toilet lain, berbekal kepekaan mata kami di tengah kegelapan pantai ini dan anjing yang mulai berkeliaran. Dan ini seru hahaha. Akhirnya kami menemukan dua toilet di ujung deretan saung-saung, mayan jauh dari saung kami tadi. Dikunci! Wkwkwwk. But wait, ada Ibu-ibu datang dan bilang kalau iya di sewakan. Oke baik, kami pakai dan bayar Bu. Dan kami pun mandi beramai-ramai. Ada aja adegan lampu emergency satu tapi dipakai dua toilet (mikir kan caranya gimana biar dua-duanya dapat cahaya? dan akhirnya pakai kerudung gw buat gantungin), adegan gk ada satupun dr kami bawa duit, dan adegan air mati sebelum kami beres mandi. hahaha tertawa saja lah.
Selesai mandi kami shalat Maghrib dan Isya berjamaah melipir di saung samping warung belakang saung kami. Barang-barang kami tinggal di saung, baju kami jemur ala kadarnya. Dah semacam hotel, kasur ada mushala ada makanan tinggal pesan. Menunya ala bintang lima: nasi goreng, nasi telur atau mie (lagi). Makan sambil diiringi lampu neon punya si Ibu warung (namanya Bu Entar) yang remang-remang karena emang nggak ada lampu lain di sana, suara ombak, suara anjing, dan suara gitar oji. Nyaman bukan karena tempatnya, tapi sama siapa dan seberapa kita bersyukur dan menikmati. Uhuk!
Mulailah kami saling ngumpul, nyanyi lagu sumbang plus iringan gitar Oji, dan sesi curhat yang dalam. Ditemani better lagi dan lagi, aqua dan soffel.
Aqua di putar, dan truth or truth pun dimulai satu persatu. Saling membully lalu menasihati, saling memuji lalu bercanda, saling mencemooh tapi juga saling menguatkan dan menginspirasi. Karena kami dah saling percaya, masalah pribadi masalah bersama juga. Then gue nggak perlu cerita satu per satu obrolan saat itu karena terlalu berharga dan privasi, yang jelas gue bahagia, gue merasa beruntung dan diberkati kenal mereka. Unek-unek gue tercurahkan, mimpi-mimpi gue muncul lagi, dan semangat gue hidup lagi. Alay yah? biarin toh gue yakin mereka juga bahagia kenal gue, hehe narsis ya tetep.
Waktu nggak terasa udah lewat tengah malem, dan kami memutuskan untuk bobok bersama di saung yang nyaman itu. Tanpa alas, bantal, guling, tembok, dan cuma berbekal mukena yang jadi selimut dan soffel pengusir nyamuk, tidur kami pun nyenyak sampai pagi.Sang matahari akhirnya datang menyambut, sudah ramai banyak orang (dan juga anjing berkeliaran) di pantai. Rupanya semalam mereka pulang melaut dan bawa ikan untuk di jual. Tapi terlihat raut-raut kurang bahagia, mungkin tangkapan mereka kurang.
kami yang malu-malu jam 5 masih tidur melipir ke toilet ambil wudhu lalu shalat Shubuh. Selesai salam, si dapurnya Ibu mulai ngebul, psst si Ibu lagi bikin gorengan bakwan dan itu maknyus enaknyaaaa. Hmmm. Sambil liatin pantai, orang-orang ramai narik perahu, dengerin ombak sama gitar nya Oji (btw Oji gitaran mele? memang dan kami senang), huh hah huh hah karena bakwannya pedas dan panas. What's perfect!
Selesai melahap gorengan, kami beberes, keliling pantai sambil foto-foto, ambilin sampah (bukan pencitraan), menemukan fenomena air hangat di tengah air dingin (yang masih misteri sampai sekarang), mengalami tragedy sandal mamak yang hanyut karena gue dan berbekal kenekatan yang hakiki akhirnya terselamatkan dengan kondisi gue nya nggak ikut hanyut (Alhamdulillah), kami menutup sesi ini dengan berfoto bersama dengan Bu Entar. Lewati jalan yang sama serunya, kami sampai di mobil dengan sebelumnya sempet beli eskrim kenyot yang biasa kita beli jaman masa kecil yang bahagia.
Di dalam mobil gue merenung, seru juga maen bareng mereka, ada semacam peraturan-peraturan aneh yang kami bikin sendiri dan nggak tertulis tapi kami patuh buat melaksanakannya selama trip. Contohnya nih:
1. Anti jajan di Lott*mart, alf*mart dan kawan-kawannya itu. Jajan di warung-warung kecil. Harganya toh lebih murah dan kita bisa dapat bonus: talkshow sama Ibu empunya warung. Tujuannya mulia lhoh: mendukung usaha kecil dan kita belajar untuk lebih bersyukur. Once kita nggak dapat apa yang kita cari, ya dicari di warung lain yang ada :)
Gue senang, karena Bapak di rumah juga toko kelontong dan beliau sering curhat, "sekarang penghasilan menurun setelah banyak --mart --mart yang menjamur di dekat rumah"
Nah yok, kita budayakan untuk beli di warung.
2. Di larang mengeluh dan menyalahkan keadaan. Walau waktu itu sempet hujan gede banget, ban sempet bocor dan kami terjebak di tol, sempet susah air bersih, banyak anjing berkeliaran di pantai, nggak ada mushola, nggak ada tempat nginep, banyak nyamuk, nggak ada listrik, nggak ada makanan mewah, tapi nggak ada pilihan lain selain bahagia. Alasannya cuma satu: banyak hal lain yang bisa kita syukuri yang bisa bikin kita bahagia. Mantaps Jiwa! :)
3. Nyampah is no. Mungut sampah is the better. Negur orang yang buang sampah sembarangan is the best.
Hmm, mungkin karena kami anak IPB ya dan selama kuliah dibiasakan buang sampah pada tempatnya, tsaaah. Secara tidak sadar naluri kami klop dan saling bilang, "wah, nggak disekolahin apa dia? buang sampah sembarangan." saat bilang ada orang lain buang sampah sembarangan. Jadi deh misi kami: mungutin sampah yg kami temui di pantai.
4. Anti tidur di tempat mevah, anti hedon. Yup, sudah peraturan kalau jalan sama kami, kalau mau di ajak susah-tapi-tetep-seneng. Nggak ada nginep di hotel dan makan di restoran. Yup betul, sebenernya emang karena kami nggak (belum si lebih tepatnya) punya banyak uang hahaha, dan lagi terbiasa hidup sederhana pas jadi mahasiswa. Jadi no hedon is no problem, no money is no problem, no friends is big problem hahaha
Dan lagi seperti biasanya, perjalanan pulang penuh banyolan receh yang mau lucu or nggak lucu kami akan tetap ketawa, kami menyudahi perjalanan penuh arti ini. Oia sebelumnya sempet mampir makan sup iga dan sate ayam uenak pol dan shalat di mushala pinggir jalan. Kami berpisah meninggalkan kerinduan masing-masing, yang di bawa sampai sekarang. :))
Kita yang kalau nyanyi nggak pernah padu antara lirik sama nadanya, kita yang alih-alih hafal lagu hits kesekarangan malah hafal lagu-lagu kartun 90-an, kita yang saling ketawa padahal ya banyolannya nggak lucu-lucu amat, dan kita yang tetap aja ngakak walau mobil bau matahari dan pantai campur keringet dan kentut. Kita para jomblo atau single atau apalah namanya, dan parahnya beberapa adalah Jodazi (Jomblo dari Zigot) dan terima kasih, salah satunya adalah gue.
.
Dan inilah kita yang akan tetap bahagia kalau lagi bersama~~~
.
#baperdimulai #menumpukenangan #penpeluk #pendipeluk
Besoknya lusanya, jadilah lagu ini OST halan-halan kami, serasa pas nggak kurang gula nggak kurang garam. 4. Anti tidur di tempat mevah, anti hedon. Yup, sudah peraturan kalau jalan sama kami, kalau mau di ajak susah-tapi-tetep-seneng. Nggak ada nginep di hotel dan makan di restoran. Yup betul, sebenernya emang karena kami nggak (belum si lebih tepatnya) punya banyak uang hahaha, dan lagi terbiasa hidup sederhana pas jadi mahasiswa. Jadi no hedon is no problem, no money is no problem, no friends is big problem hahaha
Dan lagi seperti biasanya, perjalanan pulang penuh banyolan receh yang mau lucu or nggak lucu kami akan tetap ketawa, kami menyudahi perjalanan penuh arti ini. Oia sebelumnya sempet mampir makan sup iga dan sate ayam uenak pol dan shalat di mushala pinggir jalan. Kami berpisah meninggalkan kerinduan masing-masing, yang di bawa sampai sekarang. :))
Kita yang kalau nyanyi nggak pernah padu antara lirik sama nadanya, kita yang alih-alih hafal lagu hits kesekarangan malah hafal lagu-lagu kartun 90-an, kita yang saling ketawa padahal ya banyolannya nggak lucu-lucu amat, dan kita yang tetap aja ngakak walau mobil bau matahari dan pantai campur keringet dan kentut. Kita para jomblo atau single atau apalah namanya, dan parahnya beberapa adalah Jodazi (Jomblo dari Zigot) dan terima kasih, salah satunya adalah gue.
.
Dan inilah kita yang akan tetap bahagia kalau lagi bersama~~~
.
#baperdimulai #menumpukenangan #penpeluk #pendipeluk
Sekian.
Komentar
Posting Komentar