Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Prosa 3 : Merdeka di Tanah Merah

Gambar
Perayaan Kemerdekaan merupakan momen yang selalu ditunggu oleh semua warga kecamatan Routa. Tidak terkecuali kami bertiga, para Pengajar Muda di kecamatan ini. Nyatanya, ini adalah ajang berkumpulnya semua warga dari 7 desa dan 1 kelurahan sekaligus ajang unjuk gigi, menunjukkan desa mana yang berhak menjadi the cream of the cream. Sebelumnya, perayaan ini walaupun diikuti oleh semua warga desa dari anak-anak sampai orang tua, perlombaan hanya diperuntukkan untuk orang dewasa saja. Anak-anak biasanya hanya datang menonton bersama orang tuanya. Namun ada rona berbeda ketika pengajar muda hadir. Tepatnya setelah Pengajar Muda XII kecamatan Routa ikut ambil bagian, terwujudlah ajang perlombaan yang ikut dimeriahkan oleh anak-anak. Berbagai cabang diperlombakan. Nah tahun ini, pengajar muda XIV kecamatan Routa pun ikut memberikan rona baru. Setelah terlebih dahulu mengutaran beberapa ide dengan Pak Halim sebagai camat Routa, Alhamdulillah setiap langkah berjalan lancar. Usulan kami d...

Prosa 2 : Pukul Saja Anak Saya Bu

Gambar
Apakah saya bisa menjadi guru yang baik?   Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala saya. Hari itu belum genap seminggu saya menjadi Bu Guru. Layaknya dalam sebuah hubungan sepasang kekasih, masa-masa sulit adalah saat ini. Masa-masa saling mengenal, mencoba lalu gagal, dan memulai lagi. PDKT namanya. Apa yang dia suka? apa yang dia benci? Murid saya tidak banyak memang, 11 anak untuk tiga rombongan belajar (IV, V dan VI) namun setiap mereka memiliki karakter yang berbeda. Bukan hal yang mudah untuk menertibkan kesebelasan dengan sebelas karakter berbeda ini. Kebiasaan mereka yang ringan tangan bahkan untuk sekedar berbicara dengan temannya, bersungut-sungut sambil diam di pojokan sebagai arti ‘Saya tidak mau Bu’ atau mengeluh jika perhatian saya lebih pada yang lain, cukup membuat saya mengucap istighfar berkali-kali.  Siang itu seusai kelas, tiga murid saya sedang berlatih menari untuk perayaan hari anak. Di tengah-tengah latihan salah satu ...

Prosa 1 : Cindelaras di Hari Anak

Gambar
“Menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga...” Potongan lagu itu ibarat menjadi original soundtrack kisah cinta saya dengan mereka . Minggu itu minggu pertama saya mengajar secara resmi sebagai guru di satu-satunya SD di sebuah desa yang tak terjamah modernisasi, Walandawe namanya. Murid saya ada sebelas, terdiri dari 5 anak di kelas IV, 1 anak di kelas   V dan 5 anak di kelas VI. Semuanya dalam satu kelas, dengan satu papan tulis dan satu guru, yaitu saya.  Ceritanya pada saat itu saya sedang semangat-semangatnya, atau mungkin sedang keras kepala, ingin membuat ‘sesuatu’ di hari anak yang akan segera datang. Alasannya klise, anak-anak di desa saya pun berhak merayakan, seperti halnya anak-anak lain yang hidup di kota dan lebih beruntung dari mereka. Saya merasa tidak terima. Jika tahun lalu saya ikut merayakan hari anak di Jakarta, tahun ini pun saya harus ikut merayakan, tentunya bersama murid-murid saya di desa, beribu mil jauhnya d...