Prosa 2 : Pukul Saja Anak Saya Bu
Apakah saya bisa
menjadi guru yang baik?
Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala saya.
Hari itu belum genap seminggu saya menjadi Bu Guru. Layaknya
dalam sebuah hubungan sepasang kekasih, masa-masa sulit adalah saat ini. Masa-masa
saling mengenal, mencoba lalu gagal, dan memulai lagi. PDKT namanya.
Apa yang dia suka? apa
yang dia benci?
Murid saya tidak banyak memang, 11 anak untuk tiga rombongan
belajar (IV, V dan VI) namun setiap mereka memiliki karakter yang berbeda. Bukan
hal yang mudah untuk menertibkan kesebelasan dengan sebelas karakter berbeda
ini. Kebiasaan mereka yang ringan tangan bahkan untuk sekedar berbicara dengan
temannya, bersungut-sungut sambil diam di pojokan sebagai arti ‘Saya tidak mau Bu’ atau mengeluh jika
perhatian saya lebih pada yang lain, cukup membuat saya mengucap istighfar berkali-kali.
Siang itu seusai kelas, tiga murid saya sedang berlatih
menari untuk perayaan hari anak. Di tengah-tengah latihan salah satu dari
mereka tiba-tiba cemberut dan mutung tidak mau latihan, tanpa saya tahu apa
sebabnya. Sudah lebih dari lima kali saya bertanya, “kamu kenapa?” namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Kedua
temannya pun tidak punya ide sama sekali. Saat itu saya mungkin sedang lelah
dan lapar sehingga emosi saya naik, “bagaimana
mau bisa jika kamu tidak mau latihan?”
Demi mendengar itu, tiba-tiba murid saya ini keluar kelas
dan pulang ke rumahnya. Saya biarkan saja dia dan memilih fokus melanjutkan
latihan bersama kedua murid saya yang tersisa. Selang beberapa menit salah
seorang Ibu mendatangi saya di kelas. Beliau adalah orang tua dari anak yang
keluar kelas beberapa menit lalu.
“kenapa anak saya Bu?”
“Maaf Bu tapi saya dan
teman-temannya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba dia marah.” Jawab saya
jujur
“Itulah jadinya Bu
kalau anak-anak diajarnya lembek. Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Pukul
saja dia kalau tidak mau menurut. Saya tidak mau memukul dia di rumah, lebih
baik dipukul gurunya di sekolah.” Jelasnya membuat saya mematung, terasa
sulit mencernanya. Saya pun tidak bisa menjawab apa-apa, hanya senyuman dan
anggukan kecil untuk membuat Ibu tersebut pergi meninggalkan sekolah. Kemudian
teringat sepenggal curhatan dari salah satu murid saya di buku jurnalnya,
“Jika saya salah, Ibu
harus pukul saya, tapi jangan benci saya.”
Teringat juga pesan salah satu rekan guru di sini, “Memukul itu boleh Bu, asal tidak patah,
memar dan berbekas.”
Lalu di suatu hari, seorang pemangku kepentingan yang saya
segani sosoknya juga ikut menasihati saya secara tidak langsung, “Anak-anak di desa itu tidak sama dengan di
kota Bu. Sekarang kalau dilihat pendidikan di sini mengalami kemunduran,
anak-anak jadi kurang ajar sama gurunya. Ya tidak lain karena ada aturan tidak
boleh memukul anak-anak Bu. Kalau dulu, puuuh melirik gurunya saja tidak
berani.”
Pulangnya saya banyak merenungi apa yang baru saja terjadi. Apakah
hanya dengan cara itu mereka mau menurut? Apakah benar bahwa pukulan demi
pukulan yang mereka terima selama ini tidak mematahkan, membuat memar dan
membuat bekas? Saya kurang yakin. Mungkin secara kasat mata iya, namun apakah
saat mereka dipukul tidak ada rasa sakit yang memberkas di hatinya? Bukankah
memukul juga berarti mematahkan kelembutan yang ada pada diri anak-anak? Atau
jangan-jangan pukulan yang mereka terima dan karakter mereka saat ini adalah
hubungan sebab akibat? Mereka menjadi suka memukul temannya jika ingin sekedar
mengingatkan atau menyampaikan sesuatu karena dipukul dan memukul bagi mereka
sudah menjadi sahabat dekat.
Apakah berarti orang yang mendidik dengan lembut tanpa harus
berteriak dan memukul disebut guru yang tidak baik? Kalau begitu bagaimana
dengan saya? Yang memang sudah berjanji, setidaknya dengan diri saya sendiri
bahwa saya tidak akan pernah memukul dan melukai murid-murid saya. Lalu saya
harus bagaimana? Sebagai Ibu guru yang selalu butuh tersenyum untuk setidaknya membuat
suasana diri sendiri lebih baik. Maka menyuruh saya untuk berteriak dan tidak
tersenyum di depan murid-murid saya sama saja dengan membunuh saya pelan-pelan.
Maka saya memilih untuk lebih menyayangi mereka. Membuat
mereka menyayangi saya tanpa harus takut saya teriaki atau saya pukul.
Memberikan mereka teladan yang baik dari apa adanya saya. Mengenalkan mereka
soal konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung alih-alih membiasakan mereka
dengan berbagai bentuk hukuman. Pelan-pelan dan tetap sabar. Seperti seseorang
yang jatuh cinta, terus mencari cara terbaik untuk berbahagia bersama.
Ditulis oleh Ayendha,
pelajar di SD Negeri Wiwirano Atas,
Desa Walandawe, Kecamatan Routa
Kab Konawe, Sulawesi Tenggara
https://tafsirjitu.org/tafsir-mimpi/tafsir-mimpi-melihat-bintang-jatuh
BalasHapusKetika sedang tidur tak jarang kita akan bermimpi dan ada berbagai mimpi yang kita alami. Sebagian orang berpendapat bahwa mimpi ini merupakan sesuatu yang wajar dan hanya sebagai bunga tidur saja yang tidak mempunyai arti apa pun.
WA : +628122222995
Line: cs_bolavita