Prosa 1 : Cindelaras di Hari Anak
“Menarilah dan terus
tertawa walau dunia tak seindah surga...”
Potongan lagu itu ibarat menjadi original soundtrack kisah cinta saya dengan mereka
.
Minggu itu minggu pertama saya mengajar secara resmi sebagai
guru di satu-satunya SD di sebuah desa yang tak terjamah modernisasi, Walandawe
namanya. Murid saya ada sebelas, terdiri dari 5 anak di kelas IV, 1 anak di
kelas V dan 5 anak di kelas VI. Semuanya
dalam satu kelas, dengan satu papan tulis dan satu guru, yaitu saya.
Ceritanya pada saat itu saya sedang semangat-semangatnya,
atau mungkin sedang keras kepala, ingin membuat ‘sesuatu’ di hari anak yang
akan segera datang. Alasannya klise, anak-anak di desa saya pun berhak merayakan,
seperti halnya anak-anak lain yang hidup di kota dan lebih beruntung dari
mereka. Saya merasa tidak terima. Jika tahun lalu saya ikut merayakan hari anak
di Jakarta, tahun ini pun saya harus ikut merayakan, tentunya bersama
murid-murid saya di desa, beribu mil jauhnya dari Jakarta.
Bagi mereka, murid-murid saya, ‘hari anak’ adalah asing,
baru pertama mendengar ada hari perayaan lain selain 17 Agustus dan lebaran.
Saya hanya sekilas menyampaikan, “hari
anak adalah harinya kalian. Dirayakan setiap tahunnya di kota-kota besar pada
tanggal 23 Juli. Pak Presiden juga merayakannya.” Lalu saya mulai berbagi
ambisi saya kepada mereka: kita buat acara, persiapkan penampilan luar biasa,
dan undang orang tua kalian untuk melihat!
Bukan main reaksi mereka, bukan main menolaknya. Ambisi saya
ditolak mentah-mentah. Bagi mereka, menampilkan sesuatu di depan orang tua
mereka adalah sesulit memasukkan unta ke dalam lubang jarum. Hanya dua anak
yang menyambut gembira. Dan cukup dengan dua anak itu saya bertahan untuk tetap
berambisi. Lalu saya bebaskan mereka untuk memilih apapun yang ingin mereka
tampilkan dengan pilihan: menari, menyanyi, membaca puisi dan drama. Seperti
yang diduga, semuanya memilih menyanyi. “Menyanyikan
lagu Indonesia Raya saja Bu, yang sudah kami hafal” katanya.
Saya mulai menceritakan bagaimana perayaan hari anak yang
pernah saya ikuti, dan bagaimana serunya bisa menari, membaca puisi dan juga
memainkan drama di depan orang banyak. Dua anak saya tunjuk membaca puisi, dua
anak saya tunjuk menyanyi, tiga anak saya tunjuk menari dan satu anak saya
tunjuk membuat naskah drama. Yang ditunjuk ada yang marah, menangis dan
meninggalkan kelas begitu saja, ngambek. Tanggal 23 Juli masih lima hari lagi,
saya masih punya waktu meyakinkan mereka.
Besoknya saat istirahat, tidak sengaja saya membahas
mengenai naruto dan ternyata itu disambut baik oleh murid-murid saya yang
sangat menggemari kartun dari Jepang itu. Rikal bilang Dewa seperti Sasuke dan
Bu guru nya ini seperti Sakura. Saya lalu nyeletuk, “Nah, cerita Naruto juga bisa dijadikan cerita drama lho. Tinggal
dibuat alur ceritanya dan tentukan siapa jadi siapa.” Mata dua anak saya
itu; Dewa dan Rikal langsung berbinar. Hari itu jam 2, kami bertiga janjian
untuk membuat naskah drama.
Nah, jadi apa hubungan Cindelaras dan Naruto? Ceritanya
siang itu di rumah Dewa, orang tuanya ikut menemani saya berfikir mengenai
naskah drama apa yang cocok diperankan oleh anak-anak. Mereka lalu menceritakan
sebuah cerita rakyat berjudul Cindelaras pada saya dan Dewa. Tanpa berfikir dua
kali, alih-alih memerankan Naruto, Cindelaras akan jauh lebih baik. Lalu saya
pun meminta Dewa, anak saya yang sangat pendiam dan pemalu itu menjadi pembuat
sekaligus pembaca naskah. Dia lalu mengangguk, tanda setuju. Dan saya sumringah
sekali sore itu membayangkan serunya drama kami nanti.
Besoknya di kelas.
Selesai belajar, saya memutarkan lagu ‘Laskar Pelangi’ dan
tidak disangka sangat mereka sukai. Jadilah saya memilih lagu itu untuk
penampilan menyanyi mereka di perayaan hari anak nanti. Tidak lagi satu atau
dua orang saja, tapi biarlah satu kelas menyanyi. Satu masalah terselesaikan,
tinggal berfikir bagaimana meyakinkan mereka untuk mau bermain drama dan juga
menari. Kelas yang tadinya kondusif berubah jadi kacau saat saya menunjuk peran
untuk naskah drama yang sudah dibuat oleh Dewa. Bukan main susahnya meyakinkan
mereka untuk sekedar ‘mencoba dulu’. Hairul yang ditunjuk menjadi sang raja,
ngambek dan menangis. Hermi yang ditunjuk menjadi permaisuri tidak
henti-hentinya menggeleng dan merajuk. Ketiga tiganya perempuan di kelas:
Hermi, Risda dan Indah yang saya tunjuk untuk menari pun mati-matian menolak.
Mengancam untuk tidak datang pada saat tampil. Yang lain ikut putus asa,
membuat saya menghembuskan nafas berat, apakah memang sesusah ini menjadi guru?
Besoknya Jumat, hari kelima saya mengajar.
Tidak ada kemajuan dalam persiapan menyambut hari anak.
Padahal hanya tersisa Sabtu dan Minggu. Kesebelasan di kelas masih ‘bermusuhan’ dengan saya, sebagian
sudah antusias namun lebih banyak yang tidak. Untuk membangun suasana, saya
mengajak mereka bernyanyi bersama. Gagal, sebagian mereka masih tetap cemberut
dan mogok berbicara. Perkataan saya dianggap angin lalu dan antusiasme saya
seketika menguap saat itu juga. Mungkin saya yang terlalu egois memaksakan
semua ini pada mereka yang bahkan belum seminggu memulai kelas baru. Saya
menyerah, dengan hati hancur saya katakan pada mereka, “Baiklah jika begitu. Kita batalkan perayaan hari anaknya ya. Lupakan
saja tentang latihan menyanyi, drama, puisi dan menarinya. Sekarang buka buku
agama, kita belajar tentang bacaan shalat.”
Tangan saya sibuk menuliskan materi di papan tulis. Mata
saya panas menahan air mata yang mendesak ingin keluar, tidak lucu jika saya
menangis di depan anak-anak. Entah kenapa saya sangat sedih. Tidak di sangka,
semuanya diam beberapa saat, sampai salah satu anak saya, Rikal, setengah
berteriak berkata kepada yang lain, “Kalian
ini susah sekali diatur Bu Guru, perayaan hari anak ini kan bukan untuk bu Guru
tapi untuk kita semua.” Lalu bergantian berkata pada gurunya ini, “Biar yang lain tidak mau, saya mau Bu. Saya
mau jadi Cindelaras.”
“Saya saja Bu yang
jadi raja kalau Hairul tidak mau, biar dia jadi patihnya karena kalimatnya
lebih sedikit.” Kata satu-satunya anak kelas V, Arlan namanya.
Saya berbalik dan berkata, “Ibu hanya mau bertanya sekali lagi ya, kita adakan perayaan hari anak
atau tidak?” semua kompak menjawab, “Iya
Bu!”
Saat itu saya menyadari satu hal, alih-alih marah atau
memukul dengan rotan, anak-anak saya ini memilih berkomunikasi dengan hati,
dengan diamnya Ibu gurunya yang menuntut mereka berefleksi.
Anak-anak lebih bisa mendengarkan saya setelah kejadian itu,
walau tetap saja peran permaisuri tidak ada yang mau. Saya mengalah dengan ikut
bermain drama bersama mereka, memainkan peran permaisuri. Dengan saya di
dalamnya, membaca dialog dengan sungguh-sungguh dan memainkan peran
sebaik-baiknya, membuat anak-anak semangat dan memberikan yang mereka bisa
untuk menyukseskan drama ini. Senyum mereka selalu hadir saat melihat saya
memasuki arena drama dan mulai memainkan peran. Itu cara saya memberikan contoh
dan kepercayaan pada mereka bahwa ‘mari
selesaikan ini bersama-sama!’ akan lebih menyenangkan dari pada ‘kalian selesaikan ini!’
Mata pelajaran Seni Budaya dan Kesenian (SBK) pada hari
Sabtu pun kami isi untuk membuat properti seadanya. Saya bebaskan setiap anak
berkreasi. Apakah kelasnya tertib? Tentu tidak, semuanya berlari-larian,
berebut lem dan kertas. Tapi biar saja, toh pada akhir kelas semua puas dengan
hasil karya masing-masing.
.
Hari Minggu, 24 Juli 2017 pun tiba. Sehari sebelumnya saya
sibuk menyebarkan berita gembira itu, “Besok
akan ada perayaan hari anak di balai desa. Akan ada penampilan dari anak-anak.
Datang ya Pak Bu.” Dibuka dengan upacara bendera yang dihadiri kepala
sekolah, acara dilanjutkan di balai dengan perlengkapan seadanya. Beberapa
orang tua khususnya Ibu-Ibu sudah banyak terlihat di gerbang sekolah, menunggu
acara ini. Para bapak-bapak menyempatkan hadir sebentar, menyoraki anaknya agar
serius saat tampil, lalu kembali berkebun. Dan apakah acaranya sukses? Jika
indikatornya adalah anak-anak tampil memukau dan banyak orang tua yang hadir,
maka bisa dibilang acaranya tidak sukses. Karena anak-anak menyanyi dengan
suara yang tidak lengkap satu oktaf, lupa lirik, dan tidak kompak. Karena
anak-anak menari sambil tertawa-tawa, lupa gerakan, dan kesana kemari tidak
selaras. Karena anak-anak membaca puisi dengan datar, tanpa ekspresi. Karena
anak-anak bermain drama dengan gugup dan lupa naskah. Karena Ibu-Ibu yang hadir
juga tidak banyak. Namun indikator sukses saya berbeda, cukup dengan memberikan
anak-anak kesempatan untuk mencoba hal baru, tampil di depan orang tuanya
sendiri, dan memiliki kenangan indah di hari anak tahun ini, lalu bagi orang
tua bisa melihat anaknya berani tampil di depan orang banyak dengan bakat-bakat
baru, lalu bagi guru lain melihat bahwa mengajar tidak melulu soal menuliskan
materi di papan tulis, bagi saya acara ini sukses.
“Bu Guru, acara tadi bagus.” Tiba-tiba salah seorang murid
dari kelas II menghampiri saya, saat perjalanan kembali ke sekolah. Ungkapan
tulus yang mengingatkan saya bahwa kebahagiaan itu bisa lahir dari sesuatu yang
sederhana, sesederhana pagi ini.
Agen Sabung Ayam Online Terbesar Merupakan Jenis Bettingan Gaming Sabung Ayam Live : sabungayam.pro Bonus Pertama !! 10% Lgsg Otomatis Masuk Ketika Deposit..
BalasHapusWA : +628122222995
BBM : BOLAVITA
Ingin Mendapatkan Prediksi Skor Bola Yang Terupdate & Free Disini, Ayuk Kunjungi Dan Melihat Prediksi Lainnya
BalasHapusWA: 0812-2222-995 (name: shella)