Prosa 3 : Merdeka di Tanah Merah
Perayaan Kemerdekaan merupakan momen yang selalu ditunggu
oleh semua warga kecamatan Routa. Tidak terkecuali kami bertiga, para Pengajar
Muda di kecamatan ini. Nyatanya, ini adalah ajang berkumpulnya semua warga dari
7 desa dan 1 kelurahan sekaligus ajang unjuk gigi, menunjukkan desa mana yang
berhak menjadi the cream of the cream.
Sebelumnya, perayaan ini walaupun diikuti oleh semua warga desa dari anak-anak
sampai orang tua, perlombaan hanya diperuntukkan untuk orang dewasa saja.
Anak-anak biasanya hanya datang menonton bersama orang tuanya. Namun ada rona
berbeda ketika pengajar muda hadir. Tepatnya setelah Pengajar Muda XII kecamatan
Routa ikut ambil bagian, terwujudlah ajang perlombaan yang ikut dimeriahkan
oleh anak-anak. Berbagai cabang diperlombakan. Nah tahun ini, pengajar muda XIV
kecamatan Routa pun ikut memberikan rona baru. Setelah terlebih dahulu
mengutaran beberapa ide dengan Pak Halim sebagai camat Routa, Alhamdulillah
setiap langkah berjalan lancar. Usulan kami diterima dan bahkan sangat didukung
oleh beliau.
Awalnya cukup khawatir karena sampai minggu kedua Juli, kami
belum mendengar apapun terkait persiapan acara besar tersebut. Namun bersamaan
dengan diundangnya kami sebagai panitia pada akhir Juli, serta tercantumnya
nama kami di dalam surat keputusan Camat kala itu, keyakinan bahwa akan ada hal
hebat terjadi di kecamatan kami, kian menguat. Kami bersama guru-guru se
kecamatan Routa diberi amanah menjadi panitia cabang lomba untuk anak-anak. Dananya
diambil secara swadaya / iuran yang dibebankan oleh setiap sekolah.
Adrenalin kami pun terpompa. Di samping kami akan bekerja
bersama guru-guru untuk melaksanakan event terbesar setiap tahun di kecamatan
ini, itu artinya kami juga mewakili anak didik kami masing-masing untuk
merasakan euforia tersebut. Bagi saya pribadi, menang kalah bukan prioritas
pertama. Ketika anak-anak didik saya ini bisa ikut belajar berkompetisi,
merasakan pengalaman baru, dan bertemu teman-teman baru di luar lingkungan
sekolahnya, itu cukup. Berdesakan di atas pick up selama tiga jam menuju pusat
kecamatan, diatas jalanan becek tanah merah dan hutan di kiri kanannya akan
jadi pengalaman luar biasa. Apalagi untuk anak didik saya yang bisa dibilang
sangat jarang keluar desa. Menjadi juara adalah bonus. Kebahagiaan mereka
adalah yang utama.
Sebutlah lomba lari 200 meter, lari 100 meter, balap karung,
balap kelereng, senam, lomba cerdas cermat kewarganegaraan, bola gotong, dan sepak
bola yang akan jadi ajang bergengsi antar SD tahun ini. Hal menarik yang saya
amati dalam kepanitiaan ini adalah adanya inisiatif yang tinggi dari para guru.
Tanpa banyak intervensi, guru-guru ternyata sudah lebih terdahulu menyiapkan
hadiah dan piala bergilir. Walaupun secara teknis saat pelaksanaan masih
terlihat ‘dadakan’, namun saya cukup salut dengan pergerakan rekan-rekan guru.
sungguh menyenangkan juga ketika ide-ide kecil kami (pembuatan piagam,
pembuatan piala bergilir, senam kreasi dan LCC kewarganegaraan) diterima dengan
baik oleh tim guru.
Sejak tanggal 9 – 17 Agustus 2017, rangkaian kegiatan HUT RI
ke 72 di kecamatan Routa dilaksanakan. Tepatnya di jantung keramaian, lapangan
desa Tirawonua, hampir semua warga satu kecamatan berkumpul. Dibuka dengan
upacara pembukaan di mana kami sebagai pengajar muda banyak dilibatkan seperti
menjadi Master of Ceremony,
perlombaan diadakan hampir setiap hari.
Semua memang tidak berjalan semulus yang kami harapkan. Banyak
kejadian tidak menyenangkan terjadi dari mulai masalah miss komunikasi dengan
warga, cuaca yang tidak mendukung, komunikas yang sulit antar tim karena tidak
ada sinyal, namun lebih banyak lagi pelajaran berharga yang kami dapatkan. Apalagi
melihat senyum dan tawa anak-anak ketika mengikuti lomba, menjadikan hari-hari
itu menjadi hari yang berharga dalam hidup. SD saya memang tidak jadi juara
umum, namun melihat beberapa anak didik saya mendapat piagam penghargaan atas
pencapaian mereka lalu dipajang di rumah mereka di desa, membuat hati saya
berjingkrak-jingkrak bahagia. Beberapa minggu setelahnya, saya menemukan
kalimat menyejukkan di dalam jurnal mingguan mereka
“Saya lihat banyak
lawan saya lebih besar dari saya. Saya takut sekali apalagi mereka mengejek
saya katanya saya pasti kalah. Tapi saya bisa juara dan mengalahkan mereka. Saya
senang sekali.”
(Herdin, kelas VI SD, juara I lomba lari 200 meter)
“Saya senang sekali
naik mobil untuk perayaan, saya terguncang-guncang bersama teman yang lain tapi
saya senang. Saya takut saat harus lomba senam dan takut melihat anak laki-laki
yang sedang lomba bola kaki tapi akhirnya kita juara III. Saya senang. Saya juga
bertemu teman baru, namanya Hafiza. Kami bermain dan tidur bersama. Saya ingin
bertemu Hafiza lagi.”
(Indah, kelas IV SD, peserta lomba senam dan balap kelereng)
Rangkaian kegiatan ditutup pada tanggal 17 Agustus 2017. Semua
aparat dan warga termasuk anak-anak mengikuti acara dengan khidmad. Ada rasa
haru yang merasuk diam-diam di hati saya saat perlahan bendera merah putih
merayap di tiang yang tinggi. Di atas tanah marah atau tanah merica ini, semoga
memang kami sudah merdeka seutuhnya. Merdeka dalam artian lebih luas, merdeka
dari ketertinggalan tanpa meninggalkan kearifan lokalnya. Dan esok lusanya, hari-hari
berharga tetap setia menemani kami di sini.
Ditulis oleh Ayendha
Pelajar di SD Negeri Wiwirano Atas
Desa Walandawe, kecamatan Routa
Kab Konawe, Sulawesi Tenggara
https://pemainayam.net/beberapa-tafsiran-dan-mitos-ayam-berkokok-tengah-malam-hari/
BalasHapusMitos Ayam Berkokok Tengah Malam Hari memang banyak memunculkan spekulasi dan presepsi serta arti yang berbeda-beda oleh setiap kalangan masyarakat.