Mencari Aku

Tepian itu keruh.
Dia bahkan tak melihat wajahnya di pantulan air itu. Lalu termangu cukup lama.
Baru kali ini ia berkonflik dengan seseorang yang selama hidup paling ia percaya.
Dirinya sendiri.

Lalu sebuah kesadaran datang padanya. Hanya tepiannya yang bermasalah.
Dia tidak ragu.
Dia hanya perlu menyelam lebih dalam sampai ke dasar. Di sana dia yakin ada kekuatan yang ia cari. 
Mungkin sebuah mata air yang jernih dan lama tak terurus namun tetap menggetarkan dan menyejukkan bagi siapa saja yang berani menyelaminya.
Sumber yang berasal dari Sang Penciptanya, yang kesejukannya tak diragukan lagi.

Dia kini mulai letih, padahal baru sebentar memulai.
Panas mulai membakar tak hanya wajahnya namun juga hatinya.
Seteguk demi seteguk dicobanya meminum air tepian itu, tapi yang ada dia makin haus dan lelah.

Bisikan itu tiba-tiba saja datang.
Katanya dia telah lama pergi dari pesisir, memanjakan gunung hingga lupa akan pantai.

Hari ini, di hari-hari yang makin sulit, dia meyakini satu hal yang pasti.
Dia harus berdamai dengan situasi dan fokus mencari solusi.

Namun dia perlu bertemu dirinya sendiri dulu, yang dia sering panggil sebagai 'aku'

Bisikan itu sekali lagi merasuk, sangat pelan tapi pasti, "untuk menemukannya, kau harus berani menyelam, dalam sekali sampai ke dasar."

Dia bergidik ngeri membayangkan. Dia ternyata takut dan gugup. Dia takut tersesat dan tak kembali sampai mati.

Tapi bukankah orang berani bukanlah yang tak punya rasa takut, melainkan yang bisa menaklukkan rasa takutnya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk