Obrolan Mati Listrik

18 Januari, hari Senin

"Aku ingin menjadi manusia yang damai dan mendamaikan, manusia yang welas asih dan mengasihi, manusia yang utuh dan mengutuhkan. Sebelum aku mati."

Malam ini gelap, aku menulis di pojok ruang kamarku ditemani sinar dari hpku yang sebentar lagi baterainya habis. Hujan di luar masih awet. Langit belum lelah menumpahkan airnya dari subuh tadi. Memang ya, tidak semua kontrol di tangan manusia. Dengan secangkir kopi pekat siang tadi, yang membuatku rela dengan munculnya sensasi mual karena memang aku dan kopi yang tak akur, aku telah bertekad mencurahkan 200% fokus untuk deretan to do list yang menunggu untuk dicoret. Itu ekspektasinya. Lalu di saat adrenalin dan endorfinku mencapai mode siaga, di mana itu jarang sekali terjadi, aku tidak bisa melanjutkan kerjaku. Listrik mati karena hujan lebat dan sinyal ponsel pun raib. Sedetik aku kesal dan mempertanyakan, "Ah, kenapa sih harus sekarang." Tapi aku senang karena setelahnya aku sadar, kesal di situasi seperti ini tidak memberi manfaat. Ini diluar kontrol dan tidak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk tetap bekerja seperti rencanaku. Hatikupun tenang. Fokusku beralih. Tanpa ponsel dan laptop, pikiranku jadi lebih fokus dan jernih. Makanya tulisan ini lahir. Akupun berefleksi dan tersadar, betapa adiktifnya aku dengan semua keterhubungan ini sampai lupa kalau terhubung dengan diri iini seperti ini saat ini hal menyenangkan. dan langka.

Tanpa musik dan (yang bertahun-tahun tak lepas dari telinga), malam ini tetap punya suara. Hujan yang rintik-rintik di balik kaca jendela, jam dinding yang berdetak, dan deru nafasku sendiri. Kesendirian sebelumnya terasa menakutkan, tapi saat ini justru menenangkan.

Kalau Einstein pernah bilang bahwa waktu itu relatif maka aku setuju. KEtika sejak pagi aku cemas karena waktu yang singkat dan selalu tidak cukup untuk semua hal yang aku harus lakukan, malah sekarang aku merasa sebaliknya. Waktu berjalan lambat dan banyak pikiran yang bisa aku tangkap.

Sebelum menutup hari, setidaknya dua pelajaran penting ini perlu ditegaskan, agar jadi bekal di kemudian hari (itupun jika Tuhan kehendaki). Satu, fokus pada apa yang bisa kita lakukan, dan relakan yang tidak.
Dua, semua yang kita tangkap dengan panca indera adalah persepsi, belum tentu sebuah kebenaran. Selalu ada titik buta yang kita tak pernah tahu dari sebuah pemahaman.

Cukup. Aku tenang. Semoga besokpun juga. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk