Hening Membawa Pesan Tuhan
Kemarin saat mengikuti sebuah sesi bertajuk, "How to be a great facilitator" aku jadi tersadar ada yang jauh lebih penting dari teknik dan cara. Satu dari hal penting itu adalah tentang percaya dan apresiatif pada keheningan.
Saat sesi tersebut, ada momen di mana aku dan peserta diminta bermeditasi dalam sunyi. Biasanya kan ada musik-musik yang mengiringi, tapi ini tidak. Kami diminta untuk menajamkan indera pendengaran pada suara apapun yang ada, selirih apapun, meski jika suara itu tidak ada. Kemudian di kesempatan berikutnya ketika trainer melontarkan sebuah pertanyaan dan kami semua diam, ada jeda yang lebih panjang dari yang aku sangka, sampai kemudian ada respon yang terdengar. Selama momen-momen dalam sunyi itu aku merasa tidak nyaman. Rasanya menakutkan, kikuk, aneh dan seperti ada yang salah. Di akhir, trainer menyampaikan, "Seorang fasilitator harus terbiasa dengan keheningan. Sunyi atau diam ketika sesi itu juga sebuah proses dan respon yang perlu diterima dan diapresiasi. Beri waktu untuk mencerna stimulus. Beri waktu untuk mendapatkan respon. Kalaupun tidak ada respon yang muncul, itu juga tidak masalah."
Aku jadi sadar, "Wah betapa aku masih tidak nyaman dengan keheningan."
Pantas saja, setiap kegiatan yang aku lakukan sejak bangun pagi sampai tidur lagi, selalu saja diiringi musik latar. Kadang-kadang musik religi, kadang juga ost-nya sebuah film atau drama yang baru selesai ditonton, atau sekedar suara alat musik/instrumen. Apalagi setelah tinggal sendirian di lingkungan yang sunyi.
Kalau diingat-ingat, sepekan lalu pun aku dapati pesan serupa dari seorang coach, "Coba lebih peka dengan pesan-pesan Allah. Apa yang Ia coba bisikkan dalam hatimu?"
Tuhan memberi pesan pada hambaNya dalam segala bentuk. Jika selalu ada makna dari setiap pertemuan, kejadian, ayat-ayat yang dibaca, artinya ada pesan yang coba disampaikan dari sebuah keheningan. Bahkan mungkin lebih murni dari suara atau pesan lain yang kebanyakan terpolusi dengan pesan duniawi.
Coba dari pagi ini. Tulisan ini pun lahir saat aku memutuskan untuk berolahraga dalam diam, tanpa musik yang mengiringi.
Sedih dan menyesal. Betapa banyak pesan Tuhan yang terlewat karena diri yang menghamba hiruk pikuk.
Tidak mudah, tapi dicoba saja. Toh kita tidak akan pernah mengapresiasi suara tanpa adanya keheningan.
Komentar
Posting Komentar