Behind The Scene "WE ARE SIBLINGS"

Berfoto bersama Bu Elisa dan Jeff seusai presentasi




Hari itu tanggal 13 Februari 2015. Hari di mana Saya berkeringat dingin gara-gara nervous.

Tawa lepas, saling ejek, tanpa beban. Saya senyum-senyum sendiri. Perjalanan pulang dari kantor UNICEF Indonesia yang terletak di daerah Wisma metropolitan Jalan Jendral Sudirman, setidaknya menurut Saya, adalah hal yang menyenangkan sekaligus bersejarah.

Malam itu, Kami berlima, bermalam bersama di rumah tantenya Cynthia. Besoknya adalah hari yang penting bagi kami: "Final presentation UNICEF Global Challenge Competition by Skype meeting".
Ditemani empek-empek ikan dan sekotak martabak manis, kami duduk melingkar di kursi dapur. Sebenarnya tidak ada yang spesial waktu itu, tapi Saya bahagia. Kami duduk melingkar dengan laptop masing-masing. Saya berkutat dengan script presentasi besok, Jahid berkutat dengan materi dan data tentang kekerasan anak di Indonesia, Cynthia dengan proposal, dan Dila-Nia dengan power point kami untuk besok. Dan entah kenapa, derajat kekerenan mereka meningkat drastis (*lol)

Kita berlima sama sekali tidak ada basic mengenai child protection, tema yang akan terus menerus kami bahas dalam project ini. Wajar, kita semua berasal dari background yang sama: teknologi pangan. Hal ini cukup sekali membuat Saya heran, bahkan sampai detik ini. "Kenapa kami lolos menjadi TOP 5?" bersama keempat project lainnya yang superkeren sekali. Serius, mereka keren. Kami semua tidak ada yang tahu, hanya menebak-nebak, "mungkin jurinya salah klik" atau "mungkin jurinya kasihan sama kita" atau "mungkin semua ini hanya mimpi?". Saya hanya tertawa dalam hati, bahkan kalau dilogika, sejak awal lahirnya ide sampai sekarang ini, penjurian tim kami ini tak layak masuk kualifikasi.

Awalnya kami hanya iseng-iseng ikutan kompetisi ini setelah teman yang di Indonesia berbagi info. Biasa, kami tidak melakukan apapun sampai dua hari menjelang deadline. Ya, itulah kami, lima manusia yang tidak bisa lepas dari moto 'the power of kepepet'. Wacana, ide, coret, ganti ide, debat, nggak yakin, coret lagi, mentok. Terlintas untuk bikin game aplikatif untuk anak-anak, ada juga ide buat tokoh sanitasi, bikin komik, dan lain-lain. Namun, semakin dikaji, kami menyerah dan kembali pada kata 'mentok'. Singkat cerita, Nia akhirnya mencetuskan ide "Kartu Ninja" saat kami berdua joging rutin sore-sore keliling kampus. Dialah biduk kelompok kami untuk project satu ini. Kami berlima melakukan yang terbaik dari mulai dari cari literature, baca article nya UNICEF, bikin logo, dan sebagainya. Selesai. Kami resmi mendaftarkan diri dengan project "Ninja (New Innovation to manage our tinja) yang masuk dalam kategori sanitasi, karena inilah yang paling 'nyambung' dengan background kami.

Malam itu, Saya sendirian di kamar asrama. Semua teman-teman Indonesia sedang hangout bareng teman-teman Thai ke Walking street. Sedih sekali rasanya, tapi apa boleh buat, karena badan saya yang mendadak nge-drop sepulang dari waterfall pagi tadinya. Seperti biasa, Sayuri dan Dabing teman kamar Saya sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Saya yang terlalu malas untuk berfikir untuk berbicara bahasa Inggris kala itu hanya duduk di kursi dan mulai membuka laptop. Iseng-iseng Saya buka web UNICEF dan lihat-lihat project yang sudah disubmit. Wow banget ini ide-ide yang lain, Saya jadi jiper. Pikir saya waktu itu. Dan entah dapat ide dari mana, Saya yang superduper suka iseng ini, coba buat akun baru dan mendaftarkan diri di kategori yang lain: Child protection. Iya sih kalau Saya suka anak kecil, tapi swear Saya nggak pernah ada background masalah perlindungan anak. Mulailah satu persatu kolom di website UNICEF terisi dengan apapun yang melintas di kepala Saya. Absurd sekali projectnya. Tidak lebih dari satu jam, semua kolom selesai terisi. Saya masih bungkam dengan tim member yang lain, tidak semangat juga untuk kasih tahu "Hey, kita ikutan dua project lho!" Nggak tahu apa reaksi mereka, mungkin bingung, heran atau malah tidak peduli.

Beberapa minggu setelahnya, jauh setelah deadline lomba, kami punya tantangan pertama yaitu mem-promote project kita ke seluas-luasnya dan meramaikan kolom diskusi. Disitulah akhirnya Saya cerita kalau kita ikut dua project: satu adalah "Ninja" yang jadi senjata utama kami dan "We are siblings" yang ibaratnya hanya butiran serbuk jahe, pemeran figuran, hanya peramai belaka. Dan benar saja, selama proses comment and disscussion, kedua project ini timpang sekali. Kami berfokus pada Ninja, sampai-sampai kita jadi project paling rame dengan comment dan diskusi dari pembaca. Sedangkan yang satunya, fiuuuu sepi sekali saudara. Dan karena memang masih Saya yang waktu itu 'ngeh' dengan project itu sehingga saya merasa bertanggung jawab membalas komen yang juga hanya segelintir itu.

Singkat cerita, pengumuman TOP 30 pun keluar. Kedua project kami tersebut dalam list. Kami senang tapi perjalanan untuk jadi juara masihlah panjang. Ketiga puluh tim ini ditantang untuk membuat proposal, video, dan BMC. Karena keduanya lolos, maka dengan kata lain kita harus membuat 6 hal sekaligus. Dan Saya masih ingat betul obrolan singkat waktu itu.
"Kayanya kita harus pilih satu project aja deh, jadi bisa fokus."
saat itulah Saya orang yang paling tidak setuju, sifat egois Saya mulai muncul. Hehe. Mau bagaimanapun caranya kita harus memperjuangkan keduanya karena kita nggak pernah tahu, dari kedua project itu, yang mana yang punya chance lebih besar untuk maju.

Kami punya waktu dua minggu untuk merampungkan semua ini. Tapi dua minggu ini adalah dua minggu paling sibuk bagi kami karena di dua minggu ini kami harus menyelesaikan final presentation dan manuscript serta kesibukan suci lainnya yang tidak boleh diganggu seperti perpisahan dengan si ini dan si itu, jalan-jalan dengan si ini dan si itu, makan bersama ini dan itu. Mohon maklum, inilah dua minggu terakhir kami di Chiang Rai (sebuah provinsi di Thailand) sebelum kami pulang ke Indonesia. Sayapun yang dulunya sangat semangat dengan kompetisi UNICEF ini, totally forget that atau sebenarnya pura-pura lupa dan larut dalam kesyahduan moment-moment akhir kami di sana.

Hingga akhirnya tanggal 30 Desember itu pun tiba yang berarti dua hal: Kami harus meninggalkan semua hal di Chiang Rai dan juga berarti besok adalah deadline kompetisi ini. Dua belas jam perjalanan ke Bangkok kami tuju, jam 8 pagi tanggal 31 Desember 2014 kami tiba di kontrakan salah satu senior kami di Bantatong, Bangkok. "Ah, masih nanti malam" pikir kami. Jadi seharian ini sampai sore kami habiskan untuk beres-beres dan mencoba makanan di sana sini. Mulai jam 3 sore, kita buka lapak di kamar dan mulai fokus masing-masing. Kamar yang hampir setengah ruangnya terisi oleh koper kita, sudah tidak keruan bentuknya, laptop di mana-mana, biskuit berserakan di kasur, posisi kita yang absurd karena berpindah-pindah saking bosannya.

Bermodalkan ide liar dan minimnya pengetahuan mengenai dua bidang yang kami ikuti ini, maka malam inilah tantangan yang sebenarnya buat kami. Di mana di malam dan tempat ini kita saling sharing ide, mematangkan, menjawab pertanyaan 'apa yang sebenarnya ingin dibuat?' dan Saya diam-diam sangat salut dengan keempat teman saya ini. Mereka beler namun ketika mereka diminta untuk keren, mereka bisa. Dan waktu pun seperti berjalan secepat kilat, Pukul 23.59 tanggal 31 Desember 2014 akhirnya tiba, yang juga berarti dua hal: [1] satu menit sampai pada deadline pengumpulan dokumen dan [2] satu menit lagi tahun baru 2015 dan sekali lagi Saya ingatkan, ini Bangkok!

Merayakan tahun baru di Bangkok adalah salah satu harapan kami, anak-anak exchange yang hanya empat bulan di negeri orang dan sebentar lagi harus pulang ke negeri tercinta. Namun, harapan itu harus kandas karena misi kita ini belum selesai. Dengan mata-mata zombie, badan yang berkeringat dingin, konsentrasi lumpuh total, dan hanya ada sisa-sisa semangat yang ada, kita mencoba menyelesaikan keenam dokumen dengan harapan satu: Masih ada firework tersisa untuk kami di langit Bangkok malam itu.

00.21 tanggal 1 Januari 2015 hampir semua dokumen terselesaikan. Proposal, video dan BMC untuk dua project; 'Ninja' dan 'We are siblings'. Kata hampir itu tidak berarti semuanya kan? BMC untuk project We are siblings benar-benar tak sempat tersentuh. Kami sudah sepakat setelah ada adegan tangis dan pertarungan batin di antara sesama tim; apapun yang sudah dibuat, kumpulkan, lalu serahkan semuanya pada takdir. Seusai proses submit yang cukup melelahkan itu, usai pula perayaan tahun baru di luar sana. Bangkok yang tadinya ramai dengan hiruk pikuk tahun barunya, mendadak sepi lagi. Dan hal paling menyakitkan dari ini semua adalah ketika kami dengan langkah sempoyongan berjalan ke alun-alun, semua orang justru berjalan ke arah berlawanan untuk pulang ke rumah masing-masing.

***

Beberapa harinya kami sampai di Indonesia, sebuah bunyi 'bip' dari hp Saya, membuat Saya terlonjak dan hampir tidak percaya. Inbox di email tersebut menyatakan bahwa satu dari project kita masuk TOP 5 dalam kompetisi ini. Tidak hanya Saya, namun yang lain juga hampir tidak percaya dengan fakta bahwa yang masuk TOP 5 tim adalah We Are Siblings. Dan mana ada orang yang percaya, mengetahui bahwa project ini bahkan tidak mengumpulkan satu dari tiga dokumen yang harus di submit.

Dengan perasaan yang masih tidak percaya dan segala prasangka yang ada, bersama dengan empat tim yang lain (tiga dari ITB dan satu dari NIKARAGUA) kami menyiapkan presentasi lewat skype (setelah melalui proses diskusi yang panjang dengan Bu Elisa, Pak Aji, Bu Sintho dan Kak Stella, coach kami). Karena Beliau-beliau inilah kami belajar banyak hal, slide awal kami dirombak total, BMC kami dicorat-coret karena banyak yang salah, proposal kami diperbaharui lagi, dan script presentasi yang sudah kami seiapkan, dikritik sampai detail.

To be honest, awalnya mungkin Sayalah yang paling pesimis dengan project ini, apalagi setelah 'kepo' project yang lainnya, yang superkeren abis. Namun, setelah ditempa dan banyak diskusi dengan teman-teman yang lain, perlahan-lahan Saya mulai percaya diri, bukan karena merasa project ini lebih baik dari yang lain, tapi lebih pada; Saya yakin project ini dapat bermanfaat.

Senyum lebar setelah skype meeting dengan tim UNICEF New York


Beberapa hari setelah skype meeting dengan juri (Jeff dan Norah dari New York), kami kembali diundang untuk presentasi secara langsung di kantor UNICEF Indonesia. Sebagai orang Indonesia yang notebenenya menempatkan bahasa Inggris setidaknya sebagai bahasa ketiga, Presentasi kami tergolong sukses, karena apa yang ingin kami bagi dapat tersampaikan dengan jelas kepada audience. Yah, walaupun ada pertanyaan yang ternyata kami jawab salah karena kami salah dengar antara confident dan confidental. hehe Dan yang membuat hari itu bersejarah, setidaknya menurut Saya adalah, Saya bersama tim berhasil melewati sebuah tantangan yang tadinya serasa sangat menakutkan di benak kami, berkompetisi dengan tim-tim keren tingkat Internasional, dan berpresentasi di depan bule-bule dalam satu ruangan yang membludak dengan penonton itu. Seusainya semua tim berpresentasi, kami merasa di sinilah momen yang lebih penting dibanding presentasi barusan, yaitu kami dapat berdiskusi sebanyak yang kami mau dengan UNICEF dan NGO yang berhubungan dengan concern UNICEF tersebut. Kami mendapat banyak masukan, pencerahan, pandangan dan pastinya teman.

Suasana presentasi di kantor UNICEF

Di dalam mobil, Saya senyum-senyum sendiri. Saya dan pasti yang lain juga, sudah mengikhlaskan apapun hasilnya, menang atau kalah sudah bukan masalah lagi, apalagi keempat yang lain juga layak jadi juara. Kami menyimpan pengalaman besar itu dalam hati masing-masing dan memaknai dengan cara masing-masing.

***

Hari itu kami diundang UNICEF untuk berdiskusi dengan special representative dari UN untuk child protection, namanya Ibu Martha. Pagi sekali Saya buru-buru mengejar kereta tanah abang dari stasiun pondok ranji. Iseng, dan memang inilah hal yang selalu Saya lakukan setiap pagi; mengecek email. Dan email pagi itu membuat Saya berteriak di gerbong wanita kereta itu:



to be continued...

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk