Satu ritual penting di bulan Ramadhan yang tidak boleh dilewatkan adalah ketika waktu menunjukkan pukul 16.00-17.30, itulah cooking time mempersiapkan menu berbuka puasa bersama ibu di dapur. Dulu kami bertiga, bersama mbak juga, namun sekarang kami hanya berdua, aku dan Ibu. Dan cooking time kali ini entah mengapa mendadak jadi spesial. Sebenarnya ini berawal dari pertanyaan isengku, “ Bu, mpun biasa ya nek cewek-cewek mriki tibane ya nikah sama tetanggane dewe?” (Bu, emang sudah biasa ya kalau cewek-cewek di sini nikahnya ya sama tetangganya sendiri?) Ibu menjawab, “Yo akehan ngono nduk, apa maneh anak wadon" (ya emang kebanyakan seperti itu, apalagi anak perempuan.) Dengan bersikap sesantai mungkin, sambil mulai mengaduk adonan tempe goreng, aku bertanya lagi, “ Emange Ibu pengene Ayen nikah kalian wong pundi?” (memangnya kalau Ibu, inginnya Ayen nikah dengan orang mana?) diamsejenak, sepertinya pertanyaan tadi terkesan le...
Komentar
Posting Komentar