DARI KOTA BATIK KE TANAH ANOA (Part 2)



Ditulis oleh Ayendha – Pengajar Muda XIV – Konawe, Sultra

Part 1 : Pre Deployment, dari CPM menjadi PM


“Perjuangan tanpa persiapan seperti layaknya pergi perang tanpa senjata di tangan.” 


15 Mei 2017, bendera merah putih terbentang di atas kepala kami. Adalah lagu Padamu Negeri tersulit untuk dinyanyikan, kala itu. Di mana setiap baitnya tidak pernah lengkap dialunkan karena isak tangis yg menderu mengiringi. Saya dan ke 41 kawan seperjuangan lain akhirnya bukan lagi disebut calon. Bukan lagi memilih tapi siap mengabdi. Di jantung hutan Burangrang yang menjadi saksi, kami resmi menjadi Bapak dan Ibu guru yg tinggal menghitung hari lagi di deploy ke 6 sudut sunyi negeri ini: Musi Rawas, Hulu Sungai Selatan, Yapen, Sabu Raijua, Maluku Barat Daya dan Konawe.




30 Juni 2017, 10.25 WITA di tengah serangan nyamuk dan agas, menjelang genset yg akan padam, di sebuah sudut desa yg tak terjamah modernisasi, saya mencoba mengenang 6 Minggu yg luar biasa bersama 41 Bapak Ibu Guru hebat sumber inspirasi saya, karena bisa jadi besok besok ingatan saya tak lagi sama. Karena beginilah cara saya menuntaskan rindu, di saat jadwal turun ke kabupaten dan menemukan sinyal adalah masih 2 bulan lagi. 


17 April 2017. Penyebab kerinduan ini ada. Saat kami mulai PDKT sebelum akhirnya jatuh cinta. Hari di mana kami saling tidak menyangka bahwa nantinya pertemuan kami ini membawa tawa dan tangis secara bersamaan. Sebahagia anak yg menggendong tasnya menuju ke sekolah pada hari pertamanya, hari itu luar biasa bagi kami. Foto-foto kami yg terpampang di dinding, tas-tas berat di pojok ruangan dan para officer Indonesia mengajar yang ceria adalah 3 hal pertama yg akan selalu saya ingat di hari itu, di kantor Indonesia Mengajar di Senbaw: Senayan Bawah. Diawali dengan bertemunya kami dengan senam paling menggemaskan yang pernah kami tahu: senam baby shark (keluarga hiu) dan pernyataan bahwa, "Walau cara makan soto kita berbeda: dicampur atau dipisah, kita sama-sama lelah dengan semua hal negatif yg kita dengar tentang Indonesia, dan lalu kita juga sama-sama sepakat bahwa perubahan dapat dimulai dari hal kecil dan dari diri kita sendiri". Hari itu perjalanan kami berlanjut ke Camp Jatiluhur, Purwakarta. Tempat di mana setiap detiknya adalah berharga.  

Donna donna dan seruan "saya memilih mengabdi" di atas foto hitam putih kami, di antara nyala lilin yg cahayanya timbul tenggelam mengawali hari hari tak kenal lelah di sebuah ruang balok bernama I-phone. Ruangannya tidak luas, hanya beberapa petak dengan sudut ruangan dengan nama 'Ruang Energi' dan gudang di pojokan bersama dua toilet yg katanya, mistis. Namun di ruangan inilah kami belajar banyak hal, jatuh bangun bersama, suka duka bersama, saling mengenal, berbuat salah kemudian belajar memperbaiki diri dan juga belajar memaafkan. Empat orang hebat, yang tidak mengenal lelah dan takut, siap sedia menemani kami 24 jam selama 6 minggu. Adalah mereka fasilitator kami, namun terlalu sadis jika hanya menyebut mereka sebagai 'fasilitator' di saat peran mereka telah melampaui itu: coach, trainer, guru dan kakak kami. Hari itupun kami berkumpul bersama RT kami masing-masing dengan satu fasil mendampingi. Terkadang merasa bangga karena RT saya sering juara saat review mingguan (walau bukan saya), tapi terkadang cemburu kalau RT lain lebih ramai dan seru. Terkadang merasa rindu untuk hanya sekedar duduk melingkar dan saling membully tapi juga kadang kesal karena satu dan lain hal. Kemudian kami pun terbiasa, seperti halnya harus makan nasi, tiap pagi adalah saatnya check in dengan 3 pertanyaan wajib: 1) apa yg kamu rasakan hari ini, 2) apa yg kamu syukuri hari ini dan 3) apa yg kamu ingin capai hari ini. Dan malam hari setelah sesi usai, adalah saatnya check out dengan 3 pertanyaan wajib 1) apa yg kamu rasakan hari ini 2) apa yg sudah kamu capai dan 3) apa yg kamu syukuri. 

Dengan seperti itu kami belajar berefleksi, belajar dari setiap proses yg kami jalani, dan belajar bersyukur. Minggu pertama kami jalani penuh tantangan, mulai mengenal tentang yayasan kami, siapa kami dan bagaimana kami diharapkan nanti. Latihan fisik dan mental pun kami jalani bersama Wanadri, yang pada awalnya kami merasa takut takut menyapa namun kemudian menjadi hubungan Bapak-Anak dan Kakak-Adik yang saling menguatkan. Dari latihan fisik itu saya menyadari satu hal. 


Mungkin saya tidak sekuat teman-teman saat berjalan kaki sejauh 10 km dengan jalanan terjal menanjak dan beban berat di punggung yang tidak pernah saya pikul sebelumnya. Mungkin saya tak sebijaksana mereka saat hawa dingin hutan menyihir malam dan hujan yang terus turun menggenangi bivak kami yang seadanya. Mungkin saya tidak bisa seceria mereka saat harus berdamai dengan alam karena akses air bersih dan kakus yang terbatas. Dan mungkin pun saya tidak setenang mereka saat ancaman hewan hutan bisa kapan saja menghampiri kami. Oleh karenanya saya bersyukur dan akan terus belajar dari mereka yang selalu menciptakan ruang kerja positif hingga makna ‘Terus Tumbuh Lampaui Batas Diri’ pun layak dibuktikan.


Setelah tiga hari dua malam yang penuh dengan tantangan dan pembelajaran berharga, saatnya kembali ke barak dan I-Phone. Enam minggu bukan waktu yang lama untuk menyerap semua yang kami butuhkan. Enam minggu di mana setiap menitnya sangat berharga. Bangun pagi sebelum matahari hadir, memulai aktifitas dari ibadah, olah raga, upacara, belajar di kelas, bertemu orang-orang hebat, menantang diri dengan banyak hal baru, evaluasi dan ditutup dengan malam-malam yang terasa sangat panjang karena kami butuh merangkum hari-hari penuh ilmu dan juga tidak lupa mempersiapkan esok hari yang makin menantang.


Apakah semuanya selalu berjalan baik-baik saja? Tidak juga. Saya sempat demam di saat padat-padatnya jadwal sehingga saya ketinggalan materi, saya sempat mengalami hilang suara pada saat saya harus menjadi fasilitator, praktek mengajar, dan audiensi ke SD. Saya sempat merasa kesal dengan beberapa teman-teman CPM saat bekerja sama, kesal dengan fasilitator, dan kesal dengan officer. Orang tua saya semakin kesal karena saya hanya bisa dihubungi di hari Minggu dan itupun anaknya malah sibuk latihan upacara dan rapat. Tapi dengan begitulah saya justru banyak belajar. Hidup bersama, makan dan tidur bersama selama 42 x 24 jam, melalui masa-masa ‘Menu Sederhana’ dengan jengkol, daun singkong, atau nasi kerupuk bersama, melalui masa-masa ‘gagal’ dan ‘coba lagi sampai berhasil’ sampai menemukan Aha moment kami masing-masing menjadikan kami belajar menerima orang lain dengan tetap bangga menjadi diri sendiri. Tapi kami masih sama, 42 (Calon) Pengajar Muda yang belum tahu akan ditempatkan di mana dan dengan siapa. Bisa jadi dengan teman yang sudah lengket selama empat minggu ini atau yang harus lebih dekat di dua minggu terakhir. Itulah kenapa pada pelatihan ini, kami harus bisa berteman dan dekat dengan siapa saja. 


12 Mei 2017.

Malam itu spesial. Ruangan I-Phone dibuat gelap, persis seperti saat kami datang untuk pertama kalinya. Kami diminta untuk duduk di atas sepotong kertas dengan nama kita masing-masing di atasnya. Disekitar saya terlihat kelima teman-teman yang duduk berdekatan. Kami saling menerka-nerka. Apakah kami berenam ini akan menjadi satu daerah penempatan? Dan yeay! Selamat Datang Prita, Sisca, Diyan, Doan, Sabar dan Handri di hidupku selama setahun ke depan!

Tapi di mana?


Dan jadilah kami menjadi Second Kon(er)spiration di Bumi Anoa, Tanah Tolaki, KONAWE, Sulawesi Tenggara.


Beberapa menangis, ada yang tertawa, ada yang terdiam cukup lama. Segala pikiran campur aduk. Ada yang sesuai harapan, ada yang tidak. Ada yang bersyukur dan ada yang masih mempertanyakan. Tapi begitulah cara Tuhan, karena Tuhan akan selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan karena boleh jadi apa yang baik menurut kita itu tidak baik menurutNya dan boleh jadi apa yang menurut kita tidak baik, justru itulah yang terbaik menurutNya. Cukup menerima, karena Dialah skenario paling hebat dalam perjalanan hidup kita ini.


30-31 Mei 2017

Pelatihan ini harus berakhir. Setelah kembali ke jantung ibu kota bersama segala kenangan di Wisma Indosat Purwakarta, kami harus kembali merelakan sesuatu. Karena begitulah kita hidup. Mendapatkan lalu melepaskan. Mendapatkan teman-teman hebat selama 6 Minggu bersama kenangan yang meledak-ledak dalam memori untuk segera dilepaskan. Dan itulah hari ini. Saya manusia cengeng itu, yang terisak-isak melepas teman yang satu RT, teman yang kelompok piket hari Senin, teman yang satu blok tidur di barak, teman saat pelatihan fisik, teman saat microteaching, teman saat loka karya dan PPM, teman yang sering satu kelompok di kelas, teman main kalau hari Minggu, teman satu panitia Kegiatan Bersama Masyarakat (KBM), Kegiatan Bermain Belajar (KBB), dan Fun Night, teman satu kerjaan di FIB, teman yang suka begadang sampai menertawakan hal konyol, teman yang menertawakan pagi dengan jengkol, teman buddy saat olah raga, sampai teman saat mencuci sambil dangdutan. Teman-teman yang akhirnya seperti saudara sendiri. 


Mungkin teori-teori yang saya pelajari selama enam minggu di kelas akan tidak mudah diterapkan di penempatan, namun semangat dan cinta yang saya dapat dari enam minggu itulah yang sudah pasti jadi penyejuk di kala matahari bersinar terlalu terik atau menjadi penghangat saat dingin terlalu menusuk tulang atau menjadi bintang saat malam terlalu pekat.


Terima kasih atas mozaik-mozaik kenangan yang ada dalam memori. Dituliskan dan dikenang terus menerus agar tidak luput digerogoti waktu.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk