Dari Kota Batik ke Tanah Anoa (Part 1)
DARI KOTA BATIK KE TANAH ANOA
Ditulis oleh Ayendha – Pengajar Muda XIV – Konawe,
Sultra
Part 1 : Prolog, saat Ayendha jadi bakal calon PM
“Akhirnya sama-sama ketemu orang nggak waras, yang dengan suka rela
ninggalin sesuatu yang udah jelas demi sesuatu yang penuh ke-nggak-jelasan di
depan sana.”
(Obrolan di suatu Minggu
malem, di Kota Tua bareng Mbak Sisca, Firda dan Handri CPM XIV)
Diary tanggal 12 April 2017
Sudah H-5 menuju tanggal 17 April 2017. Hari pertama dari 49 hari yang akan
kami para Calon Pengajar Muda (CPM) XIV lalui sebelum resmi diberangkatkan.
Sudah menjadi ‘kewajiban’bagi para CPM untuk melalui serangkaian camp pelatihan
agar nanti kami siap di sana, di ujung-ujung desa sana, di daerah yang
(mungkin) belum pernah kita jajaki, atau bahkan kenali sebelumnya. IM atau
Indonesia Mengajar merupakan gerakan yang menghimpun kepedulian orang-orang
demi satu visi: melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan bangsa, secara
bersama-sama. Didirikan tahun 2009, Gerakan ini setiap dua kali setahun mengirimkan
pemuda pemudi untuk menjadi guru SD sekaligus penggerak masyarakat selama satu
tahun lamanya. Mereka ini yang selalu berhasil membuatku kagum, adalah Pengajar
Muda (PM), dan kami kami ini yang masih deg
degan yet excited menuju camp pelatihan masih disebut CPM alias Calon PM.
Memantapkan Hati yang Galau
Aku adalah sarjana strata satu lulusan IPB jurusan Ilmu dan Teknologi
Pangan. Alhamdulillah setelah lulus kuliah, aku diterima di sebuah perusahaan
sosial yang bergerak di bidang pertanian. Persis seperti doaku pada sang Maha
Mendengar. Lalu, mengenai keinginan untuk menjadi Pengajar Muda sebenarnya
sudah ada sejak aku secara tidak sengaja mengenal dan kemudian terinspirasi
oleh para alumni PM di kampusku dulu. Aku memang selalu tertarik untuk mengajar
anak-anak SD di desa binaan beberapa organisasi kampus, kadang ikut yang di
sini kadang ikut yang di sana. Awalnya hanya hobi saja sih tapi lama kelamaan
bikin nagih. Dan kesannya selalu sama, senang dan berasa kembali hidup setelah berinteraksi
dengan mereka. Aku juga suka berbaur dengan masyarakat desa walaupun Cuma
sebatas ikut menyosialisasikan program diversifikasi pangan, hidup bersih atau
kegiatan kerelawanan yang sifatnya sementara sebelumnya. Namun, untuk menjadi
pengajar muda dan pengagas perubahan di pelosok negeri tanpa listrik, tanpa
sinyal dan running water selama
setahun? Dan sendiri pula? Nyaliku belum seberani itu, belum lagi tolakan telak
dari orang tua.
Jadilah aku setahun lalu memendam impian ini. Memutuskan untuk merantau lebih jauh ke Jakarta dari desaku di Pekalongan, mencoba peruntungan bersama berjuta penduduk lain di sibuknya Ibukota. Puji syukur, aku diterima di bagian export sales di sebuah perusahaan social enterprise di kawasan elite kota Jakarta dengan tanggung jawab yang bisa dibilang penting. Dengan tim yang hanya dua orang, aku menikmati setiap tantangan di bulan-bulan awal aku bekerja. Aku belajar banyak sekali hal dengan banyak sekali pengalaman berharga. Walaupun kalau boleh jujur, pengalaman pertama untuk bekerja ini tidak bisa dibilang mudah, aku sempat kewalahan dengan setiap jatuh bangun menyelesaikan setiap tugas yang diberikan. Namun, lama kelamaan aku merasakan ada yang berubah dari diriku, aku tiba-tiba menjadi seperti robot, aku tergila gila kerja dan merindukan sesuatu yang aku tidak tahu apa. Bangun pagi di jantung Ibu kota, menuju kantor, berinteraksi di depan laptop dari pagi sampai malam, mengejar target, pulang sampai larut, kembali bekerja di akhir pekan untuk mengejar ketertinggalan, begitu seterusnya, sampai perhatianku tercurahkan hanya untuk apa saja yang ada di kantor, bahkan aku terlalu sibuk sampai jarang mengobrol dengan Ibu dan Bapak setiap minggu, terlalu sibuk untuk mengetahui bahwa teman-temanku sudah banyak yang menikah, sampai sibuk untuk bertanya kepada diri sendiri, “hey, apa kamu bahagia?” Berkali kali aku merindukan untuk berinteraksi dengan orang, anak-anak, dan melakukan hal untuk orang lain, hal-hal yang aku ingat membuatku sangat bahagia. Bisikan-bisikan itu datang tiada henti. Kadang aku mengabaikan, kadang aku memikirkannya berlama-lama dan akhirnya aku menyerah untuk tidak mendengarkan kata hati ini.
Jadilah aku setahun lalu memendam impian ini. Memutuskan untuk merantau lebih jauh ke Jakarta dari desaku di Pekalongan, mencoba peruntungan bersama berjuta penduduk lain di sibuknya Ibukota. Puji syukur, aku diterima di bagian export sales di sebuah perusahaan social enterprise di kawasan elite kota Jakarta dengan tanggung jawab yang bisa dibilang penting. Dengan tim yang hanya dua orang, aku menikmati setiap tantangan di bulan-bulan awal aku bekerja. Aku belajar banyak sekali hal dengan banyak sekali pengalaman berharga. Walaupun kalau boleh jujur, pengalaman pertama untuk bekerja ini tidak bisa dibilang mudah, aku sempat kewalahan dengan setiap jatuh bangun menyelesaikan setiap tugas yang diberikan. Namun, lama kelamaan aku merasakan ada yang berubah dari diriku, aku tiba-tiba menjadi seperti robot, aku tergila gila kerja dan merindukan sesuatu yang aku tidak tahu apa. Bangun pagi di jantung Ibu kota, menuju kantor, berinteraksi di depan laptop dari pagi sampai malam, mengejar target, pulang sampai larut, kembali bekerja di akhir pekan untuk mengejar ketertinggalan, begitu seterusnya, sampai perhatianku tercurahkan hanya untuk apa saja yang ada di kantor, bahkan aku terlalu sibuk sampai jarang mengobrol dengan Ibu dan Bapak setiap minggu, terlalu sibuk untuk mengetahui bahwa teman-temanku sudah banyak yang menikah, sampai sibuk untuk bertanya kepada diri sendiri, “hey, apa kamu bahagia?” Berkali kali aku merindukan untuk berinteraksi dengan orang, anak-anak, dan melakukan hal untuk orang lain, hal-hal yang aku ingat membuatku sangat bahagia. Bisikan-bisikan itu datang tiada henti. Kadang aku mengabaikan, kadang aku memikirkannya berlama-lama dan akhirnya aku menyerah untuk tidak mendengarkan kata hati ini.
Sampai Desember 2016, saat pembukaan Indonesia Mengajar angkatan XIV,
terbersit niat dalam diri untuk mendaftar. Kepalaku mulai dipenuhi dengan
bermacam-macam pertanyaan,
apa
niatku lurus?
Apa ini
yang terbaik?
Meninggalkan
sesuatu yang mapan untuk mengejar sesuatu yang tidak jelas setahun kedepan?
apakah itu masuk akal?
Bagaimana
dengan orang tua dan adekku?
Tapi sebagian hatiku juga mengelak, hey aku pun tidak hidup hanya untuk
mengejar kemapanan, aku perlu menjadi aku seutuhnya, menjauh sejenak dari
keriuhan dunia ini dan mengubah cara pandang tentang bagaimana dunia berjalan,
belajar mencintai negeri ini dari sudut pandang lain, di luar Jakarta, Bogor
dan Pekalongan. Aku perlu benar-benar kembali hidup dan belajar untuk hidup.
Hingga akhirnya aku beranikan untuk mengomunikasikan setiap inchi perasaanku
pada orang tua dan rekan kerjaku di kantor. Namun tidak seperti setahun lalu,
jawaban Ibu berbeda, “silakan coba saja,
jika memang itu bisa buat kamu lebih baik dan itu yang terbaik menurut Allah,
semoga dimudahkan prosesnya.”
Betul, niat sudah bulat, jika memang ini terbaik, maka jalannya akan lancar
jika tidak dimudahkan berarti ada hal lain yang lebih baik. Sesederhana itu,
walau aku juga tidak mau menyianyiakan kesempatan ini, aku akan melakukan yang
terbaik yang aku bisa. Masalah hasil, urusan Tuhan. Bismillah, aku mulai
mengisi poin demi poin pertanyaan esai pada seleksi paling awal secara online.
Sedikit info, buat temen-temen yang mungkin berniat mendaftar menjadi
Pengajar Muda, pada seleksi paling awal ini, poin-poin yang perlu diisi dan
disiapkan terdiri dari informasi dasar, informasi kontak, pendidikan,
pengalaman (organisasi, kerelawanan, kompetisi, kerja dsb) dan yang terakhir
esai sebanyak 10 pertanyaan. Pertanyaan nya bisa jadi berbeda dari tahun ke
tahun namun sesuai pengalaman mengisi seleksi CPM XIV ini, pertanyaannya
meliputi alasan kita ingin menjadi Pengajar Muda, pengalaman menghadapi
tantangan dan kesulitan dalam hidup, pengalaman bekerja sama dengan tim, cara
pandang kita terhadap pendidikan di Indonesia dan sebagainya. Tidak ada tips
khusus untuk mengisinya, just be your
self dan jujurlah dengan apa yang kita tulis. Jangan lupa untuk membuat cerita
yang runtut, jelas dan membuat pembacanya pengen baca essay kamu sampai akhir.
:D
Maju Terus Pantang Mundur
Ternyata, seleksi online ini bukan sembarang seleksi. Dari satu soal essay
ke essay yang lain, niat kita diuji, keikhlasan kita ditantang. Sempat meragu
di tengah pertanyaan berhari-hari lamanya, aku sempatkan mengobrol dengan
teman-teman, meminta dukungan dan penguatan. Dua hari sebelum penutupan
seleksi, di tengah-tengah tugas kantor, aku habiskan semalam penuh untuk
mengisi dengan hati-hati setiap poin nya. Isi, baca, hapus, isi lagi, begitu
sampai aku yakin betul dengan apa yang aku isi. Bismillah, enter!
16 Desember 2016 dan pendaftaran PM XIV pun di tutup. Antara harap-harap
cemas dan nothing to lose. Saat itu
belum ada teman kerja yang tahu kalau aku mendaftar jadi PM, walaupun di tempat
kerjaku ada setidaknya lima orang alumni PM. Aku memutuskan untuk diam dulu,
toh belum tentu diterima juga, pikirku waktu itu. Tanggal 1 Januari 2017, di
ketinggian 2249 mdpl saat sedang mendaki puncak Gunung Guntur, salah seorang
senior yang juga sedang menjalankan tugas menjadi Pengajar Muda mengirimkan
sebuah pesan, “ Selamat Ayen, lanjut DA!
Kok daftar PM nggak bilang-bilang...”
Aku gelagapan, ah yang benar! Kok aku
nggak dapat email apa-apa? Pengumuman itu ternyata tertera di website
Indonesia Mengajar dan dikirim melalui surel, sayangnya nggak sampai karena
nyasar ke junk folder. Setelah
mengecek ke website, ternyata namaku terpampang di sana. Alhamdulillah, nggak
nyangka bisa lolos jadi 1/210 dari 10.312 pendaftar. I’m the lucky one!
Sambil menikmati sunrise di hari pertama tahun 2017, aku menancapkan niat!
Maju terus pantang mundur nih!
Direct Assessment: Sehari Super
Seru!
Bersama surel pengumuman tahap satu, para kandidat diminta mengisi
kesediaan mengikuti tahap lanjut: Direct
Assessment. Aku sengaja memilih hari kedua seleksi: 17 Februari 2017,
Selasa. Bukan main gusarnya waktu itu, mereka-reka akan seperti apa seleksinya
nanti? Apalagi katanya, yang daftar jadi PM itu anaknya keren-keren semua,
pemimpin pada masa dan wilayahnya masing-masing, wah aku kudu extra persiapan! Going to the extra miles!
Sempat bertanya-tanya dengan dua alumni PM di kantor, aku catat dan
pelajari dengan sungguh-sungguh cerita mereka. Semakin menyimak, semakin ingin
rasanya jadi PM. Tidak hanya bercerita tentang PM, mereka pun dengan senang
hati bercerita pengalaman mereka setahun mengajar. Dengan tugas kantor yang
masih banyak-banyaknya, sambil mengerjakan weekly
sales report untuk dilaporkan hari Senin, aku menyiapkan manuver yang akan
aku gunakan untuk DA hari Selasa. Hari Senin sore setelah menyelesaikan meeting
yang rasanya selesai lebih lama dari sebelumnya, aku terburu-buru pulang ke
kosan untuk menyelesaikan beberapa alat peraga yang akan ku bawa besoknya.
Alhamdulillah, lokasi DA tidak jauh dari kos, hanya sekitar setengah jam
dengan ojek. Dalam hati aku berdoa, semoga ini langkah awal yang Allah mudahkan
untukku. Menjadi yang terakhir sampai karena macet yang tak terduga, aku tidak
henti-hentinya berdoa agar tidak panik pagi itu. Tidak disangka saat melihat
wajah teman-teman kandidat PM yang juga ikut seleksi hari itu, aku mulai
tenang. Mereka semua menyenangkan dan ramah, aku jadi lebih rileks dan
menikmati seleksinya. Aku jadi salut sendiri, walau kita semua bisa dikatakan
berkompetisi untuk terpilih namun atmosfir yang terbentuk dari teman-teman
justru penuh keakraban dan keramahan. Pukul 07.30 tepat acara hari yang spesial
itu dibuka. Salah seorang tim dari IM tiba-tiba menuliskan sesuatu di papan
tulis. Bunyinya: seberapa NGOTOT kah saya
untuk ini?. Aku deg-degan sendiri membacanya, mencari jawaban paling jujur
dalam hati ini. Iya aku ingin jadi PM, tapi apakah aku bener-bener ngotot harus
jadi PM? Apakah nanti ketika pun sudah diterima, aku akan tetap ngotot untuk
menyelesaikan misi ini setahun ke depan? Dan satu jawaban telak dari kakak itu
membuat aku berusaha tuli dengan setiap inchi bisikan egois dan manja yang
sempat berseliweran saat itu, pesannya seperti ini “kalau tidak cukup ngotot, maka kita tidak akan bisa melewati aral dan
rintang yang akan dihadapi nanti, sebagai konsekuensi terjadinya perubahan 180
derajat hidup kita, bahkan sampai hal-hal sepele sekalipun.”
Iya, hidup kita semua akan berubah total di sana, yang biasanya kita hanya
butuh beberapa langkah untuk ke toilet dan mendapatkan air bersih yang
berlimpah, nantinya harus terbiasa dengan berjalan kaki cukup jauh untuk
sekadar mengambil air hasil tampungan hujan. Yang biasanya tinggal pencet hp
untuk pesan ojek online untuk menuju kantor, nantinya harus terbiasa dengan
mengayuh sepeda atau berjalan kaki berjam-jam untuk mengajar. Yang biasanya
bisa pesan apa saja tanpa beranjak dari tempat tidur, nantinya harus terbiasa
dengan makan seadanya dari kebun di sebelah rumah.
Aku mulai membayangkan, sempat berfikir,
emang sanggup? Namun buru-buru langsung luntur, harus sanggup, toh adik-adik di sana yang sama-sama orang Indonesia
saja sanggup kok. Hanya perlu pembiasaan, and everything will be fine.
Seleksi dimulai dari Tes Potensi Akademik (TPA) dengan berbagai bagian soal
seperti kemampuan verbal, membaca, matematika, logika dll. Sebenarnya tes ini
bukanlah pengalaman yang pertama, namun karena sudah lama sekali tidak
berjumpa, aku jadi lama sekali mengerjakannya. Ku lirik ke-15 temanku dengan
tenang mengerjakan di ruangan itu, wah sepertinya mudah saja bagi mereka. Aku
mencelos, dengan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang karena begadang dan perut
yang keroncongan karena baru diisi satu buah pisang, banyak pertanyaan yang
akhirnya tidak sempat terjawab, terlalu susah rasanya saat itu. Berkali-kali
aku menenangkan diri, masih seleksi pertama, yang the next harus lebih baik. :D
Selesai dengan rumitnya soal logika matematika dan deret angka yang cukup
membuat cenat cenut, kami ber-16 siap melalui tes selanjutnya, yaitu Focus Group Discussion. Nah ini adalah
tes yang paling aku khawatirkan. Pernah dua kali menjadi peserta seleksi FGD
dan sekali menjadi fasilitator FGD nyatanya tidak membuatku lebih rileks. Masih
teringat jelas seleksi FGD saat aku mengikuti tes Pertukaran Pelajar Antar
Negara, aku hampir tidak ada kesempatan berkata-kata karena setiap peserta
berbicara dengan cepat dan cermat tanpa bisa dipotong. Aroma persaingan sangat
kental sampai saling peserta saling ingin menonjolkan diri masing-masing.
Kandas. Aku kandas pada tahap itu dan sekarang aku berfikir mungkin keadaannya
akan sama?
Pertama-tama panitia seleksi membagikan artikel yang berisi beberapa lembar
kepada masing-masing peserta. Kami diminta untuk membaca, mencermati dan
menjawab pertanyaan yang tertera di bawahnya. Aku deg-degan, awalnya membaca
dengan sangat hati-hati namun melirik waktu yang terbatas, sisanya aku baca
dengan cepat saja. Belum selesai mengisi pertanyaan tersebut, kami sudah
diminta berpindah ruangan untuk melakukan FGD dari topik yang sudah dibaca.
Kami semua dibagi dua kelompok, aku di kelompok A yang beranggotakan 8 orang.
Menuju ruang eksekusi, aku masih berusaha membuka buka artikel dan mengingat
poinnya, sayangnya rasa kantukku belum begitu hilang jadi konsentrasiku tidak
maksimal. Kami ber-8 membentuk sebuah lingkaran dan duduk di kursi
masing-masing. Sudah ada 4 orang assesor (yang juga alumni PM) di luar
lingkaran. Waktu kami 15 menit, dengan 2 menit waktu presentasi di akhir
diskusi. Kami yang berperan sebagai para manajer diminta mendiskusikan solusi
terbaik dari keempat solusi dalam artikel tersebut, hmm bukan hal yang mudah
apalagi teman-teman yang lain sudah lebih berpengalaman dalam bekerja. Aku kudu
taktis, aktif, namun tidak dominatif. Sempat terbayang dengan horornya proses
FGD, aku mencoba serileks mungkin, sebuah keuntungan aku bisa berkesempatan
menjadi moderator saat itu. Walau banyak yang bilang, kalau di tips menghadapi
FGD, jadi moderator justru tidak membantu. Saat itu aku berfikir lain, every people expect who dare to initiate
rather than be silent. Alhamdulillah semua teman-teman dalam kelompok ku
sangat cooperative, tidak ada yang
saling menjatuhkan dan mengintimadasi. Perbedaan pendapat adalah wajar, namun
kita tetap berusaha mencapai kata mufakat dari setiap anggota diskusi. Tidak
ada tips khusus, just enjoy the process,
learn and listen from others, keep the fun vibes, do not stress.
Sejujurnya aku tidak suka dengan situasi yang menegangkan dan stressful, so
karena aku moderator saat itu, melihat di tengah-tengah diskusi kita semua
mulai tegang, aku berusaha mencairkan suasana dengan bahan candaan dan gurauan,
walau tidak sepenuhnya lucu namun it’s
helpful, setidaknya buat aku sendiri yang sempat gugup. Belum sepenuhnya
selesai, kita sudah di stop. Waktu sudah habis dan saatnya mempresentasikan
hasil diskusi. Aku buru-buru merangkum hasil diskusi dan meminta persetujuan
teman-teman. Aku menyerahkan kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusi
kepada teman-teman, mewakili kelompok. Namun ternyata tidak seorang pun yang mengajukan
diri, dan malah kembali menunjukku. Aku sempat bersikeras menolak namun karena
waktu sudah habis dan kami harus segera menyelesaikan ini, aku kembali
membacakan hasil diskusi kami di depan para assesor.
Masih diiringi obrolan mengenai seleksi FGD sebelumnya, kami berpisah untuk
melakukan individual interview.
Wawancara ini dilakukan dua kali dengan dua orang berbeda, ada yang 60 menit
ada yang 30 menit. Bisa dibilang ini adalah seleksi yang paling penting karena
di sini kesungguhan dan ketulusan niat kita di konfirmasi. Setiap poin-poin
kepemimpian yang diharapkan ada dalam calon PM dicari di sini. Pertanyaan
wawancaranya tidak sulit, semua tentang pengalaman dan pandangan kita. Beberapa
pertanyaan diambil dari esai yang kita isi dalam tahap online sebelumnya, so
jangan sampai lupa dengan apa yang sudah kita tulis. Mungkin karena dasarnya
aku suka bercerita dan pembawaan dari kakak penilainya juga enak, jadi aku bisa
dibilang sangat menikmati sesi ini, sampai lupa waktu.
Setelah menjadi yang paling terakhir selesai wawancara, aku terburu-buru
untuk makan siang dan shalat dhuhur, waktu istirahat sebenarnya sudah lewat.
Untungnya aku masih diberi kesempatan sebelum mulai seleksi selanjutnya,
perkenalan diri. Yes, setiap peserta diminta memperkenalkan dirinya
masing-masing di depan peserta lain dan assesor selama 15 menit, kemudian
peserta yang lain berhak mengajukan pertanyaan. Satu saran: “try to stand out from the crowd!
Presentasikan dirimu seunik mungkin, namun tetap menjadi dirimu sendiri.” Aku
tidak bersuara merdu dan aku juga tidak jago stand up comedy, jadi aku putuskan
untuk pakai alat peraga. Kalender meja bisa jadi salah satu alat, aku tempel
kalender dengan kertas HVS dan mulai membuat animasi diri. Satu lembar kalender
mewakili satu bagian hidupku, dari mulai aku lahir, SD, SMP, SMA, kuliah,
komunitas, rencana masa depan dan prinsip hidupku. Aku yang tidak jago gambar
membuat animasinya ala kadarnya saja, namun itu sangat membantu untuk
mengundang perhatian teman-teman dan menceritakan seperti apa diriku dengan
cara yang lebih mudah.
Selesai dengan perkenalan diri, kami melanjutkan pada seleksi selanjutnya
yaitu tes psikologi menggambar. Kami diminta menggambar orang yang sedang
beraktifitas, pohon dan gabungan pohon-rumah-orang. Terus terang tes itu tidak
mudah. Apalagi kita dilarang menghapus gambar, kalau salah garis ya di coret.
Setengah jam berlalu dan gambarku tidak karuan dengan proporsi besar kecilnya
gambar berantakan. Aku jadi sedih melihat gambaranku sendiri L
Tes terakhir dari rangkaian DA ini adalah Micro Teaching, atau praktik
mengajar. Melihat grup yang sudah lebih dulu menyelesaikan tes ini dengan muka
lepas tertawa sambil geleng-geleng kepala sempat buat aku menerka nerka apa
yang akan terjadi di dalam sana. Kami berlima duduk di bangku dalam ruang
kuliah yang sudah dipenuhi dengan para alumi Pengajar Muda, yang sebagiannya
mungkin adalah asessor. Kami diminta bergantian mengajar di depan para alumni
dan teman-teman seperjuangan sesuai dengan mata pelajaran yang telah dibagi
sebelumnya. Dan apa yang terjadi? Rahasia! Yang jelas pengalaman 15 menit
mengajar itu tidak akan pernah terlupakan. Yang jelas kami semua bahagia.
Dengan selesainya sesi microteaching,
maka selesailah tes DA hari itu. Lega dan yang pasti senang sekali. Dan jika
pun aku tidak lolos menjadi pengajar muda, mengikuti tes hari itu, bertemu
dengan orang-orang hebat itu, belajar banyak hal dan mendapat pengalaman
berharga, aku sudah banyak bersyukur.
Sehari yang Merubah Banyak Hal
Hari itu seperti biasa, aku berkutat dengan laptopku di kantor. Mengamati
setiap email kantor yang masuk dan mulai membalasnya satu per satu. Yang beda
hanya kasak-kusuk di hati, mempertanyakan bagaimana kelanjutan proses seleksi
menjadi Pengajar Muda. Hingga kemudian sebuah pesan whatsapp masuk, “Ayendha, pengumumannya sudah dikirim ke
email ya. Silakan dicek.” Aku gemetar dan tanpa banyak menunggu kubuka
email dan ya, 6 Februari 2017, aku lolos ke tahap selanjutnya; Medical
Check Up.
A Day with a Big Deal
Besoknya, pagi-pagi
sekali aku menguatkan hati menuju ruangan BoD. Mengajukan resignation letter. Penjelasan sudah aku susun sebaik mungkin,
masih berpikir Ibu tidak akan senang dengan berita ini namun ternyata, justru
pelukan hangat dan doa yang tulus aku dapat pagi itu dari beliau. Hari-hari
menuju resign adalah hari-hari yang
penuh harapan namun juga keraguan. Banyak rekan dan atasan yang menyayangkan
keputusanku namun mereka juga sangat bahagia dengan berita baik ini. Berbagai
tawaran menarikpun hadir menggoyahkan hati, tapi aku kembali mengecek niat,
mengecek kembali alasan awal aku mendaftar. Bismillah.
Setelah proses MCU, email
berikutnya, 22 Februari hadir. Saatnya mempersiapkan pelatihan!
Sampai jumpa teman-teman (C)PM
XIV!
[To be continued...]
Komentar
Posting Komentar