Dari Kota Batik ke Tanah Anoa (Part 1)




DARI KOTA BATIK KE TANAH ANOA

Ditulis oleh Ayendha – Pengajar Muda XIV – Konawe, Sultra

Part 1 : Prolog, saat Ayendha jadi bakal calon PM
 


“Akhirnya sama-sama ketemu orang nggak waras, yang dengan suka rela ninggalin sesuatu yang udah jelas demi sesuatu yang penuh ke-nggak-jelasan di depan sana.”

(Obrolan di suatu Minggu malem, di Kota Tua bareng Mbak Sisca, Firda dan Handri CPM XIV)



Diary tanggal 12 April 2017

Sudah H-5 menuju tanggal 17 April 2017. Hari pertama dari 49 hari yang akan kami para Calon Pengajar Muda (CPM) XIV lalui sebelum resmi diberangkatkan. Sudah menjadi ‘kewajiban’bagi para CPM untuk melalui serangkaian camp pelatihan agar nanti kami siap di sana, di ujung-ujung desa sana, di daerah yang (mungkin) belum pernah kita jajaki, atau bahkan kenali sebelumnya. IM atau Indonesia Mengajar merupakan gerakan yang menghimpun kepedulian orang-orang demi satu visi: melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan bangsa, secara bersama-sama. Didirikan tahun 2009, Gerakan ini setiap dua kali setahun mengirimkan pemuda pemudi untuk menjadi guru SD sekaligus penggerak masyarakat selama satu tahun lamanya. Mereka ini yang selalu berhasil membuatku kagum, adalah Pengajar Muda (PM), dan kami kami ini yang masih deg degan yet excited menuju camp pelatihan masih disebut CPM alias Calon PM. 


Memantapkan Hati yang Galau

Aku adalah sarjana strata satu lulusan IPB jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan. Alhamdulillah setelah lulus kuliah, aku diterima di sebuah perusahaan sosial yang bergerak di bidang pertanian. Persis seperti doaku pada sang Maha Mendengar. Lalu, mengenai keinginan untuk menjadi Pengajar Muda sebenarnya sudah ada sejak aku secara tidak sengaja mengenal dan kemudian terinspirasi oleh para alumni PM di kampusku dulu. Aku memang selalu tertarik untuk mengajar anak-anak SD di desa binaan beberapa organisasi kampus, kadang ikut yang di sini kadang ikut yang di sana. Awalnya hanya hobi saja sih tapi lama kelamaan bikin nagih. Dan kesannya selalu sama, senang dan berasa kembali hidup setelah berinteraksi dengan mereka. Aku juga suka berbaur dengan masyarakat desa walaupun Cuma sebatas ikut menyosialisasikan program diversifikasi pangan, hidup bersih atau kegiatan kerelawanan yang sifatnya sementara sebelumnya. Namun, untuk menjadi pengajar muda dan pengagas perubahan di pelosok negeri tanpa listrik, tanpa sinyal dan running water selama setahun? Dan sendiri pula? Nyaliku belum seberani itu, belum lagi tolakan telak dari orang tua. 

Jadilah aku setahun lalu memendam impian ini. Memutuskan untuk merantau lebih jauh ke Jakarta dari desaku di Pekalongan, mencoba peruntungan bersama berjuta penduduk lain di sibuknya Ibukota. Puji syukur, aku diterima di bagian export sales di sebuah perusahaan social enterprise di kawasan elite kota Jakarta dengan tanggung jawab yang bisa dibilang penting. Dengan tim yang hanya dua orang, aku menikmati setiap tantangan di bulan-bulan awal aku bekerja. Aku belajar banyak sekali hal dengan banyak sekali pengalaman berharga. Walaupun kalau boleh jujur, pengalaman pertama untuk bekerja ini tidak bisa dibilang mudah, aku sempat kewalahan dengan setiap jatuh bangun menyelesaikan setiap tugas yang diberikan. Namun, lama kelamaan aku merasakan ada yang berubah dari diriku, aku tiba-tiba menjadi seperti robot, aku tergila gila kerja dan merindukan sesuatu yang aku tidak tahu apa. Bangun pagi di jantung Ibu kota, menuju kantor, berinteraksi di depan laptop dari pagi sampai malam, mengejar target, pulang sampai larut, kembali bekerja di akhir pekan untuk mengejar ketertinggalan,  begitu seterusnya, sampai perhatianku tercurahkan hanya untuk apa saja yang ada di kantor, bahkan aku terlalu sibuk sampai jarang mengobrol dengan Ibu dan Bapak setiap minggu, terlalu sibuk untuk mengetahui bahwa teman-temanku sudah banyak yang menikah, sampai sibuk untuk bertanya kepada diri sendiri, “hey, apa kamu bahagia?” Berkali kali aku merindukan untuk berinteraksi dengan orang, anak-anak, dan melakukan hal untuk orang lain, hal-hal yang aku ingat membuatku sangat bahagia. Bisikan-bisikan itu datang tiada henti. Kadang aku mengabaikan, kadang aku memikirkannya berlama-lama dan akhirnya aku menyerah untuk tidak mendengarkan kata hati ini.


Sampai Desember 2016, saat pembukaan Indonesia Mengajar angkatan XIV, terbersit niat dalam diri untuk mendaftar. Kepalaku mulai dipenuhi dengan bermacam-macam pertanyaan,

apa niatku lurus?

Apa ini yang terbaik?

Meninggalkan sesuatu yang mapan untuk mengejar sesuatu yang tidak jelas setahun kedepan? apakah itu masuk akal?

Bagaimana dengan orang tua dan adekku? 


Tapi sebagian hatiku juga mengelak, hey aku pun tidak hidup hanya untuk mengejar kemapanan, aku perlu menjadi aku seutuhnya, menjauh sejenak dari keriuhan dunia ini dan mengubah cara pandang tentang bagaimana dunia berjalan, belajar mencintai negeri ini dari sudut pandang lain, di luar Jakarta, Bogor dan Pekalongan. Aku perlu benar-benar kembali hidup dan belajar untuk hidup. Hingga akhirnya aku beranikan untuk mengomunikasikan setiap inchi perasaanku pada orang tua dan rekan kerjaku di kantor. Namun tidak seperti setahun lalu, jawaban Ibu berbeda, “silakan coba saja, jika memang itu bisa buat kamu lebih baik dan itu yang terbaik menurut Allah, semoga dimudahkan prosesnya.”


Betul, niat sudah bulat, jika memang ini terbaik, maka jalannya akan lancar jika tidak dimudahkan berarti ada hal lain yang lebih baik. Sesederhana itu, walau aku juga tidak mau menyianyiakan kesempatan ini, aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa. Masalah hasil, urusan Tuhan. Bismillah, aku mulai mengisi poin demi poin pertanyaan esai pada seleksi paling awal secara online.


Sedikit info, buat temen-temen yang mungkin berniat mendaftar menjadi Pengajar Muda, pada seleksi paling awal ini, poin-poin yang perlu diisi dan disiapkan terdiri dari informasi dasar, informasi kontak, pendidikan, pengalaman (organisasi, kerelawanan, kompetisi, kerja dsb) dan yang terakhir esai sebanyak 10 pertanyaan. Pertanyaan nya bisa jadi berbeda dari tahun ke tahun namun sesuai pengalaman mengisi seleksi CPM XIV ini, pertanyaannya meliputi alasan kita ingin menjadi Pengajar Muda, pengalaman menghadapi tantangan dan kesulitan dalam hidup, pengalaman bekerja sama dengan tim, cara pandang kita terhadap pendidikan di Indonesia dan sebagainya. Tidak ada tips khusus untuk mengisinya, just be your self dan jujurlah dengan apa yang kita tulis. Jangan lupa untuk membuat cerita yang runtut, jelas dan membuat pembacanya pengen baca essay kamu sampai akhir. :D


Maju Terus Pantang Mundur

Ternyata, seleksi online ini bukan sembarang seleksi. Dari satu soal essay ke essay yang lain, niat kita diuji, keikhlasan kita ditantang. Sempat meragu di tengah pertanyaan berhari-hari lamanya, aku sempatkan mengobrol dengan teman-teman, meminta dukungan dan penguatan. Dua hari sebelum penutupan seleksi, di tengah-tengah tugas kantor, aku habiskan semalam penuh untuk mengisi dengan hati-hati setiap poin nya. Isi, baca, hapus, isi lagi, begitu sampai aku yakin betul dengan apa yang aku isi. Bismillah, enter!

16 Desember 2016 dan pendaftaran PM XIV pun di tutup. Antara harap-harap cemas dan nothing to lose. Saat itu belum ada teman kerja yang tahu kalau aku mendaftar jadi PM, walaupun di tempat kerjaku ada setidaknya lima orang alumni PM. Aku memutuskan untuk diam dulu, toh belum tentu diterima juga, pikirku waktu itu. Tanggal 1 Januari 2017, di ketinggian 2249 mdpl saat sedang mendaki puncak Gunung Guntur, salah seorang senior yang juga sedang menjalankan tugas menjadi Pengajar Muda mengirimkan sebuah pesan, “ Selamat Ayen, lanjut DA! Kok daftar PM nggak bilang-bilang...”


Aku gelagapan, ah yang benar! Kok aku nggak dapat email apa-apa? Pengumuman itu ternyata tertera di website Indonesia Mengajar dan dikirim melalui surel, sayangnya nggak sampai karena nyasar ke junk folder. Setelah mengecek ke website, ternyata namaku terpampang di sana. Alhamdulillah, nggak nyangka bisa lolos jadi 1/210 dari 10.312 pendaftar. I’m the lucky one!

Sambil menikmati sunrise di hari pertama tahun 2017, aku menancapkan niat! Maju terus pantang mundur nih!


Direct Assessment: Sehari Super Seru!

Bersama surel pengumuman tahap satu, para kandidat diminta mengisi kesediaan mengikuti tahap lanjut: Direct Assessment. Aku sengaja memilih hari kedua seleksi: 17 Februari 2017, Selasa. Bukan main gusarnya waktu itu, mereka-reka akan seperti apa seleksinya nanti? Apalagi katanya, yang daftar jadi PM itu anaknya keren-keren semua, pemimpin pada masa dan wilayahnya masing-masing, wah aku kudu extra persiapan! Going to the extra miles!

Sempat bertanya-tanya dengan dua alumni PM di kantor, aku catat dan pelajari dengan sungguh-sungguh cerita mereka. Semakin menyimak, semakin ingin rasanya jadi PM. Tidak hanya bercerita tentang PM, mereka pun dengan senang hati bercerita pengalaman mereka setahun mengajar. Dengan tugas kantor yang masih banyak-banyaknya, sambil mengerjakan weekly sales report untuk dilaporkan hari Senin, aku menyiapkan manuver yang akan aku gunakan untuk DA hari Selasa. Hari Senin sore setelah menyelesaikan meeting yang rasanya selesai lebih lama dari sebelumnya, aku terburu-buru pulang ke kosan untuk menyelesaikan beberapa alat peraga yang akan ku bawa besoknya. 

Alhamdulillah, lokasi DA tidak jauh dari kos, hanya sekitar setengah jam dengan ojek. Dalam hati aku berdoa, semoga ini langkah awal yang Allah mudahkan untukku. Menjadi yang terakhir sampai karena macet yang tak terduga, aku tidak henti-hentinya berdoa agar tidak panik pagi itu. Tidak disangka saat melihat wajah teman-teman kandidat PM yang juga ikut seleksi hari itu, aku mulai tenang. Mereka semua menyenangkan dan ramah, aku jadi lebih rileks dan menikmati seleksinya. Aku jadi salut sendiri, walau kita semua bisa dikatakan berkompetisi untuk terpilih namun atmosfir yang terbentuk dari teman-teman justru penuh keakraban dan keramahan. Pukul 07.30 tepat acara hari yang spesial itu dibuka. Salah seorang tim dari IM tiba-tiba menuliskan sesuatu di papan tulis. Bunyinya: seberapa NGOTOT kah saya untuk ini?. Aku deg-degan sendiri membacanya, mencari jawaban paling jujur dalam hati ini. Iya aku ingin jadi PM, tapi apakah aku bener-bener ngotot harus jadi PM? Apakah nanti ketika pun sudah diterima, aku akan tetap ngotot untuk menyelesaikan misi ini setahun ke depan? Dan satu jawaban telak dari kakak itu membuat aku berusaha tuli dengan setiap inchi bisikan egois dan manja yang sempat berseliweran saat itu, pesannya seperti ini “kalau tidak cukup ngotot, maka kita tidak akan bisa melewati aral dan rintang yang akan dihadapi nanti, sebagai konsekuensi terjadinya perubahan 180 derajat hidup kita, bahkan sampai hal-hal sepele sekalipun.”
 

Iya, hidup kita semua akan berubah total di sana, yang biasanya kita hanya butuh beberapa langkah untuk ke toilet dan mendapatkan air bersih yang berlimpah, nantinya harus terbiasa dengan berjalan kaki cukup jauh untuk sekadar mengambil air hasil tampungan hujan. Yang biasanya tinggal pencet hp untuk pesan ojek online untuk menuju kantor, nantinya harus terbiasa dengan mengayuh sepeda atau berjalan kaki berjam-jam untuk mengajar. Yang biasanya bisa pesan apa saja tanpa beranjak dari tempat tidur, nantinya harus terbiasa dengan makan seadanya dari kebun di sebelah rumah.

Aku mulai membayangkan, sempat berfikir, emang sanggup? Namun buru-buru langsung luntur, harus sanggup, toh adik-adik di sana yang sama-sama orang Indonesia saja sanggup kok. Hanya perlu pembiasaan, and everything will be fine. 

Seleksi dimulai dari Tes Potensi Akademik (TPA) dengan berbagai bagian soal seperti kemampuan verbal, membaca, matematika, logika dll. Sebenarnya tes ini bukanlah pengalaman yang pertama, namun karena sudah lama sekali tidak berjumpa, aku jadi lama sekali mengerjakannya. Ku lirik ke-15 temanku dengan tenang mengerjakan di ruangan itu, wah sepertinya mudah saja bagi mereka. Aku mencelos, dengan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang karena begadang dan perut yang keroncongan karena baru diisi satu buah pisang, banyak pertanyaan yang akhirnya tidak sempat terjawab, terlalu susah rasanya saat itu. Berkali-kali aku menenangkan diri, masih seleksi pertama, yang the next harus lebih baik. :D

Selesai dengan rumitnya soal logika matematika dan deret angka yang cukup membuat cenat cenut, kami ber-16 siap melalui tes selanjutnya, yaitu Focus Group Discussion. Nah ini adalah tes yang paling aku khawatirkan. Pernah dua kali menjadi peserta seleksi FGD dan sekali menjadi fasilitator FGD nyatanya tidak membuatku lebih rileks. Masih teringat jelas seleksi FGD saat aku mengikuti tes Pertukaran Pelajar Antar Negara, aku hampir tidak ada kesempatan berkata-kata karena setiap peserta berbicara dengan cepat dan cermat tanpa bisa dipotong. Aroma persaingan sangat kental sampai saling peserta saling ingin menonjolkan diri masing-masing. Kandas. Aku kandas pada tahap itu dan sekarang aku berfikir mungkin keadaannya akan sama? 

Pertama-tama panitia seleksi membagikan artikel yang berisi beberapa lembar kepada masing-masing peserta. Kami diminta untuk membaca, mencermati dan menjawab pertanyaan yang tertera di bawahnya. Aku deg-degan, awalnya membaca dengan sangat hati-hati namun melirik waktu yang terbatas, sisanya aku baca dengan cepat saja. Belum selesai mengisi pertanyaan tersebut, kami sudah diminta berpindah ruangan untuk melakukan FGD dari topik yang sudah dibaca. Kami semua dibagi dua kelompok, aku di kelompok A yang beranggotakan 8 orang. Menuju ruang eksekusi, aku masih berusaha membuka buka artikel dan mengingat poinnya, sayangnya rasa kantukku belum begitu hilang jadi konsentrasiku tidak maksimal. Kami ber-8 membentuk sebuah lingkaran dan duduk di kursi masing-masing. Sudah ada 4 orang assesor (yang juga alumni PM) di luar lingkaran. Waktu kami 15 menit, dengan 2 menit waktu presentasi di akhir diskusi. Kami yang berperan sebagai para manajer diminta mendiskusikan solusi terbaik dari keempat solusi dalam artikel tersebut, hmm bukan hal yang mudah apalagi teman-teman yang lain sudah lebih berpengalaman dalam bekerja. Aku kudu taktis, aktif, namun tidak dominatif. Sempat terbayang dengan horornya proses FGD, aku mencoba serileks mungkin, sebuah keuntungan aku bisa berkesempatan menjadi moderator saat itu. Walau banyak yang bilang, kalau di tips menghadapi FGD, jadi moderator justru tidak membantu. Saat itu aku berfikir lain, every people expect who dare to initiate rather than be silent. Alhamdulillah semua teman-teman dalam kelompok ku sangat cooperative, tidak ada yang saling menjatuhkan dan mengintimadasi. Perbedaan pendapat adalah wajar, namun kita tetap berusaha mencapai kata mufakat dari setiap anggota diskusi. Tidak ada tips khusus, just enjoy the process, learn and listen from others, keep the fun vibes, do not stress. 

Sejujurnya aku tidak suka dengan situasi yang menegangkan dan stressful, so karena aku moderator saat itu, melihat di tengah-tengah diskusi kita semua mulai tegang, aku berusaha mencairkan suasana dengan bahan candaan dan gurauan, walau tidak sepenuhnya lucu namun it’s helpful, setidaknya buat aku sendiri yang sempat gugup. Belum sepenuhnya selesai, kita sudah di stop. Waktu sudah habis dan saatnya mempresentasikan hasil diskusi. Aku buru-buru merangkum hasil diskusi dan meminta persetujuan teman-teman. Aku menyerahkan kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusi kepada teman-teman, mewakili kelompok. Namun ternyata tidak seorang pun yang mengajukan diri, dan malah kembali menunjukku. Aku sempat bersikeras menolak namun karena waktu sudah habis dan kami harus segera menyelesaikan ini, aku kembali membacakan hasil diskusi kami di depan para assesor.

Masih diiringi obrolan mengenai seleksi FGD sebelumnya, kami berpisah untuk melakukan individual interview. Wawancara ini dilakukan dua kali dengan dua orang berbeda, ada yang 60 menit ada yang 30 menit. Bisa dibilang ini adalah seleksi yang paling penting karena di sini kesungguhan dan ketulusan niat kita di konfirmasi. Setiap poin-poin kepemimpian yang diharapkan ada dalam calon PM dicari di sini. Pertanyaan wawancaranya tidak sulit, semua tentang pengalaman dan pandangan kita. Beberapa pertanyaan diambil dari esai yang kita isi dalam tahap online sebelumnya, so jangan sampai lupa dengan apa yang sudah kita tulis. Mungkin karena dasarnya aku suka bercerita dan pembawaan dari kakak penilainya juga enak, jadi aku bisa dibilang sangat menikmati sesi ini, sampai lupa waktu.

Setelah menjadi yang paling terakhir selesai wawancara, aku terburu-buru untuk makan siang dan shalat dhuhur, waktu istirahat sebenarnya sudah lewat. Untungnya aku masih diberi kesempatan sebelum mulai seleksi selanjutnya, perkenalan diri. Yes, setiap peserta diminta memperkenalkan dirinya masing-masing di depan peserta lain dan assesor selama 15 menit, kemudian peserta yang lain berhak mengajukan pertanyaan. Satu saran: “try to stand out from the crowd! Presentasikan dirimu seunik mungkin, namun tetap menjadi dirimu sendiri.” Aku tidak bersuara merdu dan aku juga tidak jago stand up comedy, jadi aku putuskan untuk pakai alat peraga. Kalender meja bisa jadi salah satu alat, aku tempel kalender dengan kertas HVS dan mulai membuat animasi diri. Satu lembar kalender mewakili satu bagian hidupku, dari mulai aku lahir, SD, SMP, SMA, kuliah, komunitas, rencana masa depan dan prinsip hidupku. Aku yang tidak jago gambar membuat animasinya ala kadarnya saja, namun itu sangat membantu untuk mengundang perhatian teman-teman dan menceritakan seperti apa diriku dengan cara yang lebih mudah. 

Selesai dengan perkenalan diri, kami melanjutkan pada seleksi selanjutnya yaitu tes psikologi menggambar. Kami diminta menggambar orang yang sedang beraktifitas, pohon dan gabungan pohon-rumah-orang. Terus terang tes itu tidak mudah. Apalagi kita dilarang menghapus gambar, kalau salah garis ya di coret. Setengah jam berlalu dan gambarku tidak karuan dengan proporsi besar kecilnya gambar berantakan. Aku jadi sedih melihat gambaranku sendiri L

Tes terakhir dari rangkaian DA ini adalah Micro Teaching, atau praktik mengajar. Melihat grup yang sudah lebih dulu menyelesaikan tes ini dengan muka lepas tertawa sambil geleng-geleng kepala sempat buat aku menerka nerka apa yang akan terjadi di dalam sana. Kami berlima duduk di bangku dalam ruang kuliah yang sudah dipenuhi dengan para alumi Pengajar Muda, yang sebagiannya mungkin adalah asessor. Kami diminta bergantian mengajar di depan para alumni dan teman-teman seperjuangan sesuai dengan mata pelajaran yang telah dibagi sebelumnya. Dan apa yang terjadi? Rahasia! Yang jelas pengalaman 15 menit mengajar itu tidak akan pernah terlupakan. Yang jelas kami semua bahagia.

Dengan selesainya sesi microteaching, maka selesailah tes DA hari itu. Lega dan yang pasti senang sekali. Dan jika pun aku tidak lolos menjadi pengajar muda, mengikuti tes hari itu, bertemu dengan orang-orang hebat itu, belajar banyak hal dan mendapat pengalaman berharga, aku sudah banyak bersyukur.



Sehari yang Merubah Banyak Hal

Hari itu seperti biasa, aku berkutat dengan laptopku di kantor. Mengamati setiap email kantor yang masuk dan mulai membalasnya satu per satu. Yang beda hanya kasak-kusuk di hati, mempertanyakan bagaimana kelanjutan proses seleksi menjadi Pengajar Muda. Hingga kemudian sebuah pesan whatsapp masuk, “Ayendha, pengumumannya sudah dikirim ke email ya. Silakan dicek.” Aku gemetar dan tanpa banyak menunggu kubuka email dan ya, 6 Februari 2017, aku lolos ke tahap selanjutnya; Medical Check Up.
 

A Day with a Big Deal

Besoknya, pagi-pagi sekali aku menguatkan hati menuju ruangan BoD. Mengajukan resignation letter. Penjelasan sudah aku susun sebaik mungkin, masih berpikir Ibu tidak akan senang dengan berita ini namun ternyata, justru pelukan hangat dan doa yang tulus aku dapat pagi itu dari beliau. Hari-hari menuju resign adalah hari-hari yang penuh harapan namun juga keraguan. Banyak rekan dan atasan yang menyayangkan keputusanku namun mereka juga sangat bahagia dengan berita baik ini. Berbagai tawaran menarikpun hadir menggoyahkan hati, tapi aku kembali mengecek niat, mengecek kembali alasan awal aku mendaftar. Bismillah. 

Setelah proses MCU, email berikutnya, 22 Februari hadir. Saatnya mempersiapkan pelatihan!

Sampai jumpa teman-teman (C)PM XIV!


[To be continued...]








Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk