Walandawe: Mangkok Kebahagiaan



Sebelum melihat sendiri, Walandawe adalah sesuatu yang asing bagi saya. Desa ini merupakan satu dari 8 desa yang terletak di kecamatan Routa, kecamatan terjauh namun terkaya di Kabupaten Konawe. Kalau dilihat dari dua penempatan lain yang sama-sama di kecamatan Routa (Lalomerui dan Parudongka), Walandawe terletak di tengah. Seminggu pertama di sini, saya menjuluki desa ini sebagai ‘a bowl of happiness’ atau semangkok kebahagiaan. Dilihat dari kenampakan alamnya, desa ini seperti mangkok karena letaknya di ceruk lembah dengan dikelilingi pegunungan sejauh mata memandang. Kemudian sedikit berfilosofi, dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan, orang-orang di sini adalah para pencipta kebahagiaan dengan caranya sendiri, sesederhana dengan semangkok o’susu (siput sungai) yang dimasak bersama vetsin (sebagaimana orang di sini menyebut penyedap rasa) sebagai lauk. Akses menuju desa ini lumayan jadi pikiran, karena memang tidak ada transportasi umum ke arah sini.



Akses Jalan yang Menantang
Jika akses transportasi adalah syarat dari kemajuan, maka berarti kecamatan Routa punya PR besar untuk maju. Menjadi kecamatan paling potensial di Konawe, akses menuju kecamatan ini justru yang paling menantang. Dari Unaaha (kabupaten), ada dua jalur yang dapat dipilih. Pertama lewat Lalomerui, lebih dekat (8-10 jam dengan sepeda motor jika jalanan kering) namun jalanannya kurang bersahabat dengan beberapa tanjakan lumpur yang licin. Jalur ini melewati kecamatan Asera (Kabupaten Konawe Utara). jika hujan jalanan basah, bisa 12 jam atau malah bermalam berhari-hari seperti perjalan pertama saya lewat jalur ini. Hujan deras membuat dua jembatan yang harus kami lewati roboh sehingga saya harus menginap 3 malam di tiga desa yang berbeda. Setelah Asera, perjalanan masih berbatu, terjal, mendaki dan sebagian masih tanah tanpa pengerasan sehingga jika basah menjadi berbahaya dan tidak ada yang berani lewat. Jika musim kemarau, jalanan menjadi sangat berdebu. Perlu ekstra hati-hati juga saat melewati dua bukit yang terkenal dengan bukit ‘penyesalan’ dan bukit ‘menangis’ di sana karena jalanan tanah merah becek, licin, dan menanjak.

Kedua melewati desa Parudongka, lebih mudah jalannya namun jauh lebih lama dan mahal. Jalur ini melewati 4 Kabupaten yaitu Kolaka Timur, Kolaka, Kolaka Utara dan Luwu Timur (Prov. Sulawesi Selatan). Menurut warga sekitar, jaraknya sekitar 600 Km lebih. Melewati jalur ini, butuh waktu 2 hari 1 malam agar tiba di desa karena hanya ada sekali jadwal kapal untuk menyeberangi danau Towuti (danau terbesar kedua di Indonesia setelah danau Toba) yaitu jam 11. Jalanan sampai kecamatan tergolong mudah namun Setelah itu, kembali menyapa jalan licin, menanjak dan terkadang berlumpur. Sepanjang kecamatan Routa, dari ujung desa ke desa, kita akan sangat merindukan aspal. Sedikit tips, pakailah sepatu boot atau sandal gunung, jaket dan baju yang siap kotor karena terkadang mendadak hujan datang, terjatuh dari motor atau kita harus turun mendorong motor. Bawalah juga pisau lipat saat perjalanan, karena itu akan berguna jika terjadi sesuatu dengan motor yang ditumpangi dan harus diperbaiki di jalan.

Tidak ada transportasi umum dari kabupaten ke desa dan juga sebaliknya. Sehingga kalau turun ke kabupaten, maka caranya adalah dengan menumpang siapapun yang lewat atau harus memesan mobil pengusaha di kelurahan yang lewat jauh-jauh hari sebelumnya. Bisa jadi menunggu kepastian mobilnya satu hingga dua minggu. Karena tidak ada sinyal telepon atau internet maka pandai-pandailah mencari informasi mengenai traffic yang lewat desa. Demikian juga sebaliknya kalau kembali dari kota kabupaten ke desa.

Untuk mencapai desa terdekat, dengan jarak 17 Km ke kelurahan Routa, membutuhkan perjalanan 1 jam dengan sepeda motor. Dan 2 jam perjalanan ke desa Lalomerui (desa penempatan temen saya) dengan sepeda motor. Jalan mendaki dan berbatu bahkan lebih sering becek. Jika hujan, maka orang-orang tidak berani lewat karena sulit dan berbahaya. Hal inilah yang membuat saya sulit keluar desa, kecuali memang ada undangan di kecamatan atau jadwal rutin turun ke kabupaten selama dua bulan sekali. Itupun jika ada tumpangan kendaraan yang lewat.

Titipkan Rindumu pada Angin Berhembus
Di desa ini kita akan belajar untuk menghargai komunikasi secara live tanpa adanya sinyal telepon dan internet. Jika mendesak butuh menelepon maka kita harus menuju desa penempatan teman saya di Lalomerui dan menumpang wifi di kantor tambang di sana. Atau menuju desa penempatan teman saya di Parudongka lalu naik pete-pete menuju pelabuhan dan menyeberang danau sampai di Timampu. Itupun jika kebetulan ada orang yang sedang menuju kesana karena tidak tersedia angkutan umum. Sulitnya akses jalan membuat saya tidak pernah pergi hanya untuk menelepon. Jika merasa rindu, cukup dititipkan pada angin yang berhembus. Menunggu dengan sabar sampai jadwal ke kabupaten tiba, biasanya dua bulan sekali.

Listrik Masuk Desa
Dengan adanya air yang melimpah, membuat desa ini sekarang terang benderang. Sudah empat bulan saat saya tiba di sini, listrik masuk ke desa. Sebelumnya masyarakat menggunakan pelita dan genset. Namun walaupun sumber listrik tenaga air melimpah, penggunaan listrik tetap dibatasi yaitu dari jam 4 sore sampai jam 8 pagi kecuali hari Minggu yang menyala non stop. Ada petugas penanggung jawab di desa untuk mengatur jadwal aliran listrik ini. Dengan adanya listrik ini, TV menjadi hiburan wajib warga desa tidak terkecuali anak-anak. Dari parabola dan listrik yang mengalir itu, masyarakat mendapatkan informasi terkini mengenai dunia di luar mereka. Namun sayangnya, televisi juga menjadi sumber perubahan perilaku yang sangat signifikan di kehidupan anak-anak seperti penggunaan kata-kata gaul (gue, elu, dll) dan berkelahi seperti di film-film remaja Indonesia. Bimbingan orang tua dan guru sangat dibutuhkan untuk mengawasi anak-anak.

Sosial Bermasyarakat
Desa ini dihuni  pada awalnya oleh hanya suku asli tolaki, kemudian pendudukan Toraja mulai datang (sudah hampir 5 tahun) dan sekarang penduduk Bali pun juga mulai mengisi keberagaman di sini (per bulan Januari 2017). Sehingga ada yang namanya kampung Tator dan Kampung Bali. Total KK desa ini adalah 56 dengan 16 nya berada di dusun Tetenggo Una atau sekitar 15 km dari sini. Mata pencahariaan penduduk bisa dibilang homogen yaitu berkebun merica karena setiap KK pasti punya lahan merica yang digarap. Namun di penghujung tahun 2017, dengan hadirnya perusahaan tambang di desa sebelah, mata pencaharian terutama para laki-laki beralih menjadi pekerja tambang. Menurut informasi, setiap KK baru yang masuk akan mendapat lahan pertanian di sini. Setiap hari kesibukan para bapak-bapak adalah ke kebun dari jam 7 pagi sampai sore. Sedangkan Ibu-ibu biasanya ikut ke kebun, ke sungai mencari siput atau ke hutan mencari sayur untuk lauk atau sekedar di rumah. Pagi sampai siang bisa dibilang tidak ada kehidupan di desa ini, hanya terlihat anak-anak yang pergi ke sekolah dan siangnya bermain-main di lapangan. Sisanya adalah sapi yang berkumpul di rumput halaman sekolah atau di perempatan desa. Namun jika cerah, sore hari biasanya orang-orang berkumpul di lapangan sekolah untuk bermain voli dan bola lalu dilanjutkan dengan shalat Maghrib di masjid.

Mungkin karena sedikit jumlah orangnya, maka sifat kekeluargaan di sini sangat terasa. Terbukti saat ada buka bersama di masjid, tanpa di komando setiap Ibu-Ibu membawa apa saja yang ada di dapurnya untuk dinikmati bersama di masjid. Kemudian jika ada yang mendapat siput atau sayur berlebih biasanya akan dibagi dengan senang hati ke tetangga sebelah. Terlihat juga saat ada satu orang yang sakit maka semuanya akan berkumpul dan meninggalkan pekerjaannya untuk ikut menjenguk. Selain itu, penduduk desa ini juga memiliki semangat gotong royong yang tinggi, terlihat dari adanya kerja bakti setiap Jumat pagi dan semangat saling membantu jika ada tetangga yang membutuhkan bantuan. Inilah yang saya suka di sini, orang-orang di sini tidak perhitungan dalam memberi. Kebaikan tanpa tendensi apapun.

Penduduk desa ini juga toleran dan terbuka dengan pendatang baru tidak terbatas dengan suku maupun agama. Terbukti antar tiga suku di sini, kehidupan bermasyarakat dapat dilaksanakan dengan nyaman. Ketika saya datang pertama kali pun mereka menyambut dengan baik, sampai ada yang membawakan saya pakaian, peralatan mandi dan mukena karena mendengar tas saya masih tertahan di kabupaten sebelah. Saat saya tinggal sendiri di rumah karena Bapak dan Ibu ke desa sebelah, selalu ada yang menawari makan di rumahnya atau membawakan makanan/kue ke rumah.


Kehidupan Beragama
Mayoritas penduduk desa ini beragama Islam. Toleransi agama baik karena masyarakat dapat hidup berdampingan dengan penduduk yang beragama Kristen dan Hindu. Ada satu Imam masjid yang menjadi Imam shalat shubuh, maghrib dan Isya. Anak-anak juga terbiasa mengaji saat siang hari dan sore hari.

Selain sapi, desa ini juga punya banyak sekali anjing berkeliaran bahkan sangat mungkin untuk masuk ke rumah. Saran untuk penduduk pendatang yang beragama muslim, harus menjaga pakaian yang dijemur dan juga sandal dengan baik agar tidak terkena najis.

...
12 bulan merupakan waktu yang relatif bagi setiap orang. Namun 12 bulan di desa Walandawe merupakan waktu yang patut disyukuri karena banyak pelajaran saya dapat dari alamnya dan penduduknya. Sudah barang tentu, desa itu akan jadi rumah kedua saya setelah 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk