Perempuan Perekayasa Rasa (Tiga Purnama Pertama menjadi PM)
Keadaan memang bukan variabel bebas yang dapat dengan mudah
direkayasa. Perempuan itu bukan Tuhan yang bisa menghentikan hujan yang
tiba-tiba datang, jembatan yang tiba-tiba roboh, atau ketidakberharapan
lainnya. Namun satu barang tentu bisa direkayasa olehnya adalah rasa.
Itu satu hal yang pertama dipelajari oleh perempuan itu di
tiga bulan pertamanya di penempatan. Setelah tahu bakal ditempatkan di Konawe,
maka yang terbayang adalah hamparan laut biru yang membentang, namun ternyata
lekukan hijaunya gunung dengan birunya langitlah yang menggantikan. It was oke. She likes mountain too. Selain Jawa, perempuan
itu belum pernah menginjakkan kaki di pulau lain di Indonesia. Pulau baru di
manapun itu, akan menyenangkan untuk jiwanya yang petualang.
Sekilas tentang perempuan itu, ia berangkat jauh
meninggalkan kehidupannya yang terlalu hingar bingar di pusat negeri, sudah
barang tentu banyak pertentangan terjadi. Berbagai pertanyaan menggoyahkan
hilir mudik hadir dari sanak famili dan handai taulan, teman-temannya juga.
Namun sekali melangkah maka pantang untuknya mundur, biarlah segala pertentangan
itu terjawab dengan bertranformasinya perempuan ke bocah-bocahan itu menjadi
perempuan, pemuda, manusia seutuhnya. Mari kita lihat saja. Siapa tidak
penasaran?
Kemudian dimulailah perjalanan 3 hari dua malam itu agar
sampai di desa bernama Walandawe, desa yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.
10 jam yang diprediksi berubah menjadi 36 jam karena dua jembatan roboh disusul
hujan deras yang menyapa kedatangannya bersama dua temannya. Mobil yang
membawanya tertahan, tanpa tau harus berbuat apa, dia yang kehujanan pasrah
saja harus menginap di 3 desa berbeda, merelakan bawaanya yang berat tertinggal
di jembatan roboh, menumpang dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya untuk
sampai.
Merekayasa Rasa. Itulah kemampuan penting yang perlu
dimainkan saat itu. Rasa kesal, lelah, bingung dan khawatir menguasai hati
perempuan itu. Namun bukan PM (Pengajar Muda) namanya kalau ia tidak dituntut
untuk merakayasanya menjadi tawa yang renyah dan celetukan, “udah, ketawain
aja.” Toh mengutuki keadaan tiada berguna. Memilih berbahagia menanti hal tak
terduga apa lagi yang akan terjadi?
Routa, nama yang sepertinya begitu ngeri, sampai didaulat
menjadi Nusa Kambangan-nya Sulawesi. Tempat para PNS di-‘buang’. Tinggal
berbulan-bulan di sana yang sangat sangat jauh dari pusat kota, tanpa sinyal,
sepi, dan gelap? Ops, sebegitu buruknya kah? “Tidak juga!” kata perempuan
perekayasan rasa tadi.
Kemudian tiga bulan berlalu. Banyak hal terjadi, kehidupan
bisa sebegitu manis dan kadang bisa begitu patut dipertanyakan. Namun
kebanyakan semua itu baik, dengan caranya masing-masing. Baik untuk
mendewasakan jiwanya yang sepertinya masih ‘bocah’ saja. Mengajar pesantren
kilat selama seminggu menjadi cerita pertamanya. Sebuah penghargaan luar biasa
ketika Sang Imam desa mempercayakan untuk mengelola masjid dan mengisi kegiatan
keagamaan selama bulan Ramadhan itu. Dan satu pengalaman di malam itu tidak
akan terlupakan: secara mendadak dipanggil ke mimbar masjid untuk berceramah di
depan seluruh warga desa! Pengalaman deg-degan terbaik!
Anak-anak menjadi temannya yang setia. Hampir 24 jam bersama
mereka, hingga ia bertanya, “Apakah PM tidak punya me time?”, ia tertawa saja.
Lebaran di desa menjadi pengalaman baru juga, walaupun sepi
dan rindu yang ia rasakan. Menahan tangis saat melantunkan takbir di kamar.
Baru kemudian ia tahu, Idul Fitri di desa itu akan kalah ramai dibanding dengan
Idul Adha yang semua warga desa berkumpul di desa. Saat itu ia memutuskan pergi
menemui kedua teman satu kecamatannya: Handri dan Sabar. Merasakan sensasi
lebaran berbeda di tiga desa. Melakukan perjalanan tak terencana dan memicu
adrenalin bersama akan jadi memori tersendiri baginya. Terutama bagian ini:
hampir mati masuk jurang! Ia berkali-kali bersyukur ada tangan yang menahannya
agar tetap hidup sampai saat ini.
Cerita di semester baru dimulai! Ia menjadi wali kelas 4, 5,
dan 6 sekaligus. Muridnya berjumlah total 11 anak dalam satu kelas. Stress
baginya adalah ketika: kepikiran kelas 4 yang belum bisa membaca sedangkan
pelajaran makin sulit, kelas 6 yang akan ujian nasional, anak-anak yang
terbiasa dipukul dan berperangai keras, dan mengajar tiga materi berbeda dalam
satu kelas. Di tambah penerimaan warga desa yang kurang terhadap dirinya
karena: keteguhannya untuk tidak memukul muridnya sehingga dianggap ‘guru tidak
tegas’, sikapnya yang terbuka diartikan sebagai ‘guru tidak sopan’, sikapnya
yang berani diartikan sebagai ‘guru yang nekat’. Sampai rumor itu pun menyebar
se seantero desa yang dengan cepat sampai di telinganya. Sampai pada kalimat
‘terserah Bu Ayen mau bikin apa di desa ini.’
Mungkin ini fase terberat itu: adaptasi. Toh ia pun faham
betul bahwa penolakan sangat bisa terjadi di penempatan. Sialnya perempuan itu
sangat perasa dan memiliki kebiasaan untuk memikirkan apapun. Jadilah
penerimaan terhadap dirinya yang kurang itu menjadi monster yang menggerogoti
semangatnya. Hingga pada pertengah Juli itu ia melarikan diri ke desa teman
satu kecamatannya, menumpang orang lagi dan lagi selama dua jam, hanya untuk
satu hal: mencurahkan kegundahannya. Maka ‘kill them with your kindness’
menjadi oleh-oleh sekaligus mantra ampuh untuk kembali strong di desa.
Dan ya, ia bertekad untuk membuktikan bahwa dirinya tidak
seperti yang orang lain pikirkan. Ia kembali bangkit saat ia memberanikan diri
mengadakan ‘Perayaan Hari Anak’ untuk kegiatan sekolahnya. Ia latih anak-anak
desa menari, menyanyi, memainkan drama, dan membaca puisi. Walaupun percayalah
bahwa itu tidak mudah, acara itu pun berjalan lancar dengan dihadiri cukup
banyak orang tua. Ungkapan kagum dan senyum orang tua yang hadir meruntuhkan
segala kerak di hatinya. Ia mulai lega.
Perayaan 17 Agustus segera tiba. Saatnya menyambut euforia
itu. Berkolaborasi dengan guru-guru serta jajaran kecamatan Routa, berbagai
lomba untuk SD se kecamatan Routa direncanakan. Semangat baru muncul saat
setiap hari ia menenggelamkan diri melatih murid-muridnya: lari, balap karung,
balap kelereng, lomba cerdas cermat, senam dan bola gotong. Satu hal yang ia
sesalkan itu adalah ia tidak bisa menemani murid-muridnya berangkat ke lokasi
lomba dan mengantarkannya kembali setelahnya. Penyebab utamanya adalah ia harus
banyak terlibat dalam serangkaian kegiatan Agustusan itu bersama stakeholder kecamatan. Untunglah rasa
bersalahnya itu terbayar saat bisa menginap beberapa malam bersama bocah-bocah
itu, bermain donal bebek bersama di bawah terang bulan, berlatih LCC bersama,
dan melihat mereka bertanding. Ia pun tak bisa lebih bahagia lagi melihat
muridnya adalah juara lari, juara balap kelereng dan juara LCC. Satu pengalaman
hari itu juga tidak terlupakan: menjadi MC kegiatan. Memang tidak semuanya
berjalan menyenangkan, ia sempat dikira membocorkan soal LCC kepada muridnya
hingga guru-guru sekolah lain bersikap kurang hangat padanya. Namun kembali ia
merekayasa rasa: tersenyumlah, tegakkan badanmu, kamu tidak salah. Biar waktu
menyembuhkan kesalahpahaman ini.
Perayaan usai, ia pun kembali berkumpul dengan keenam
pengajar lainnya di Unaaha, kota kabupaten. Sejenak rehat, berefleksi, melepas
rindu, dan mengumpulkan kembali amunisi. Lebaran haji pun tiba. Pengalaman baru
baginya berlebaran bersama teman-teman seperjuangan di kecamatan Latoma,
mengenal senyum dan cerita baru, mandi di sungai terindah di Konawe bersama
anak-anak yang menyenangkan, dan merasakan kehangatan sebuah keluarga petani cokelat
yang begitu luar biasa baiknya; Mama Ken dan Papa Ken.
Tiga bulan berlalu, tidak bisa diungkap secara detail dalam
tulisan, namun semoga terpatri dalam hati dan neuron otak. Purnama selanjutnya
menunggu untuk dinikmati. Mari merayakan usainya tiga purnama yang hebat ini!
Sampai jumpa di tiga purnama selanjutnya, wahai para perekayasa rasa!
Best Gambling Site - ᐈ 7 of the Best Casino Sites
BalasHapusBest choegocasino Online Casinos 인카지노 · 1. mBitCasino · 2. mBitCasino · 3. bet365 Casino · 4. BetVictor · 5. mBitStoker · 6. mBitCasino. 제왕 카지노