Pandemi dan Well-Being
Apa kabar kamu setelah 15 bulan hidup di masa pandemi?
Saat remaja dulu, kayanya enggak pernah terfikir tentang isu well-being, apalagi merasa perlu punya well-being yang prima untuk diri sendiri. Entah kamu punya pemikiran yang sama atau enggak, tapi aku merasa pandemi ini memaksaku untuk menyelami isu ini lebih dalam, setidaknya untuk keperluan kita sendiri.
Well-being (n): the state of being comfortable, healthy or happy.
atau kalau yang aku pahami; kondisi di mana semua elemen dalam diri kita berfungsi secara optimal dan menjadikan kita bisa berkontribusi pada hal lain di luar diri kita. Saat ada yang off maka pasti rasanya tidak nyaman. Contohnya sariawan, bikin kita enggak nafsu makan dan ngomong. Sama halnya ketika mental dan emosi kita yang juga enggak baik-baik saja, maka kemungkinan besar kemampuan kita untuk berfikir dan beraktifitas dengan optimal pun terganggu.
Disclaimer, aku bukan ahlinya di topik ini, tapi aku ingin cerita beberapa oleh-oleh yang aku dapat dari hasil ngobrolku bersama seorang mentor yang juga merupakan psikolog. Awal mula dari obrolan ini adalah perasaan cemas dan gelisah serta pikiran yang rasanya selalu hiruk pikuk, yang sudah mulai mengganggu aktifitas sehari-hari dan mempengaruhi hubungan sosial dan performa kerja.
Setelah diawali dengan self-assessment untuk mengetahui tingkat stres (yang ternyata masuk taraf sedang haha), aku ditanya, "ada yang pengen kamu ceritain ke aku, Yen?" dan mengalirlah ceritaku yang lompat-lompat, dipenuhi dengan kebingungan dan keluhan. Lalu si mentor bertanya, "oke, sepertinya aku mulai menangkap apa yang sedang terjadi padamu. Boleh aku mulai berkomentar?"
Menurutnya, bisa jadi aku adalah orang yang Overthinker (berpikir berlebihan terhadap sesuatu = semuanya dipikirin). Cirinya, si otak enggak bisa diam, maunya berfikir terus. Nah ini mulai menjadi-jadi ketika pandemi. (Emang bener si, perasaan cemas berlebihan ini makin intens setahun kebelakang). Katanya, sebelum pandemi dulu, aku punya banyak aktifitas fisik yang membuatku banyak bergerak dan otak terdistraksi dengan kerja fisik, bukan berfikir. Otak, katanya, tidak pandai multitasking, sehingga jika kita fokus pada aktifitas yang kita lakukan, maka dia tidak keluyuran mikirin yang macem-macem. Which is make sense si. Contohnya kalau aku main bulutangkis, masak, ngobrol sama teman, otakku mau enggak mau pasti fokus sama apa yang aku kerjakan.
Yang kedua; mungkin aku sedang mengalami Quarter Life Crisis. Wow, telat ya, aku kira cuma yang usianya 25 tahun aja yang mengalami sindrom ini. Cirinya adalah banyak mengkhawatirkan masa depan, entah pekerjaan atau jodoh.
Lalu dia cerita beberapa cara yang mungkin bisa bantu:
- Ubah Cara kita Memandang Sesuatu dengan teknik POV (point of view)
- Belajar untuk fokus pada apa yang bisa kita kontrol. Sesuatu yang belum terjadi di masa depan, atau hasil akhir, tidak bisa kita kontrol. Sesuatu yang sudah terjadipun juga.
- Manusia dengan segala keterbatasannya, hanya bisa mengontol saat ini, hari ini, dan proses menuju hasil akhir di masa depan.
- Give the best, lets God do the rest
- Meditasi. Tujuannya untuk meningkatkan mindfulness (ketersadaran diri). Kita sering enggak sadar dan hidup di masa lalu atau masa depan. Cara paling mudah adalah memusatkan fokus pada satu hal, misal nafas kita sendiri. Lakukan rutin 10-15 menit setiap hari (minimal sekali). Hindari distraksi apapun dan fokus pada diri. Sebenarnya meditasi ini bukan teknik yang baru aku pakai. Sebelumnya praktik meditasi pakai aplikasi gitu sangat membantuku mengurangi stres, namun dia menambahkan bahwa meditasi ini harus rutin dilakukan setiap hari, tidak hanya jika kita stres.
- Journaling. Dia menyarankan, journaling ini justru tidak harus setiap hari, namun hanya ketika pikiran lagi penuh. Bisa dimulai dengan menuliskan fikiran dan emosi negatif, biar kita merasa lega. Baca ulang dan sadari yang terjadi. Bisa jadi masalah itu hal kecil namun terasa berat karena dipikirkan terus menerus. Satu hal yang menarik; otak kita tidak bisa memikirkan masalah dan solusi dalam waktu yang sama. Jadi agar dapat memikirkan solusi, kita perlu terlepas dari memikirkan masalah itu sendiri. Hmm cukup membingungkan ya? tapi aku rasa dia benar!
- Mengenali diri; tahu batasan diri. Set our personal boundaries. Tahu apakah sesuatu itu menjadi kebaikan / tanggung jawab kita. Jadi kita enggak jadi YES-man terus.
- Tahu limit diri. Kapan aku harus bilang STOP untuk beraktifitas, dan STOP untuk berleha-leha.
- Jangan terlena dengan self-love yang akhirnya bikin kita procrastinating. Self-love sejatinya adalah cara kita untuk istirahat dengan optimal demi hal penting lainnya dalam hidup kita.
- Kalau mulai susah buat keputusan, ingat untuk fokus pada proses bukan hasil akhir. Tidak menyesali keputusan dan berkomitmen untuk belajar
- Pakai metriks pro dan kontra: pilih yang memberikan konsekuensi negatif yang paling bisa kita terima
- Saat minta pendapat orang lain, tentukan ekspektasimu. Keputusan tetap di tanganmu bukan orang lain.
- Temukan VALUE. Kalau aku mungkin: respect other people (and myself), being impactful for my surrounding, responsible with my roles, etc
- Eksplorasi VALUE dan aktifitas yang selaras dengannya
- Pilih aktifitas atau pekerjannya pakai cara Ikigai
- Buat perencanaan hidup
- Monitoring dan evaluasi secara berkala

Komentar
Posting Komentar