Refleksi Lima Juni
Sebelum Juni berakhir:
Lima Juni selalu punya arti berbeda buatku. Hari pertama aku lahir ke dunia. Hari banyak doa-doa baik dipanjatkan. Lucunya, lima juni juga sering kali jadi penanda hal besar dalam perjalanan hidupku.
Lima Juni 2016 - hari pertama aku bekerja di JAVARA. Sudah barang tentu, tak ada orang yang tahu kalau saat itu hari ulang tahunku.
Lima Juni 2017 - hari pertama aku menginjakkan kaki di Walandawe. Sebuah desa di Sulawesi Tenggara, tempat aku belajar sebagai Pengajar Muda.
Lima Juni 2018 - hari pertama aku masuk kos di Jakarta.
Lima Juni tahun lalu aku kesal akan banyak hal. Saat itu aku di rumah, tapi tidak ada yang ingat kalau hari itu hari ulang tahunku, bahkan Ibuku sendiri. :D
Tapi aku terhibur dengan dua kiriman makanan dari; temanku dan anak magang di kantorku (Ashoka).
Tidak banyak yang kuingat dari hari-hari tersebut. Mungkin karena justru yang esensial yang terlupa; mengaudit dan mengevaluasi diri.
Lima Juni tahun ini, ketika usia genap 28 tahun, aku mencoba menanyakan ke diri sendiri, "apa artinya jika aku berulang tahun hari ini?" Dan ini yang aku temukan:
- Hari ini adalah penanda bahwa;
- aku dilahirkan dari sebuah rahim. Rahim Ibuku. Maka sudah sepatutnya aku mengingat kepayahan dan kekuatan beliau hari itu. Maka ucapan selamat juga harus disampaikan kepada beliau juga bapak dan semua keluargaku.
- aku sudah x tahun hidup. Tahun ini 28 tahun. Pertanyaan otomatis yang muncul adalah, "aku ngapain aja ya selama 28 tahun ini?". Konsekuensi dari penyadaran ini juga sepatutnya jadi rasa syukur karena Allah kasih kesempatan untuk hidup dengan baik selama ini.
- Hari ini tidak perlu jadi sesuatu yang penting bagi orang lain, maka;
- aku tidak berhak kesal atau kecewa jika orang lain (atau bahkan orang tuaku, saudara atau teman dekatku) tidak mengingatnya.
- aku tidak berhak meminta hadiah apapun dari orang lain
- Hari ini bisa jadi hari terahir aku hidup, maka;
- aku ingin menggunakannya dengan bijak untuk kebaikan dan kebahagiaanku
- aku gunakan untuk mengingat apa yang aku yakini, syukuri dan pelajari
- Hari ini bisa jadi awal dari perubahan besar dalam hidupku, maka;
- aku tentukan apa perubahan yang ingin aku lihat di masa depan dengan mempertimbangkan apa yang paling esensial menurutku pribadi
- dan prosesnya bisa aku upayakan sekarang, saat ini juga
- aku tentukan apa yang ingin aku kejar dan lepaskan
- Diyan ke Pekalongan dan ngajak ketemu di alun-alun. Aku jadi bisa nostalgia naik motor lagi ke kota dan makan bubur depan masjid. Aku yang lagi suka SHINEe juga jadi punya teman yang nyambung karena teman Diyan yang ikut saat itu, ternyata Army :')
- Keponakanku video call dan buru-buru tanya, "Bulek Ayen mau kado apa?"
- Ibuku seperti biasa, sibuk. Alih-alih meluncurkan kode-kode atau HHC agar Ibuku ingat ulang tahunku, dengan santainya aku bilang kepada beliau, "nanti malam makan di luar yuk Bu, hari ini Ayen ulang tahun." Ibuku heboh dan (seperti yang aku duga) meminta maaf karena lupa. Aku sambung lagi, "Enggak masalah. Aku malah mau terima kasih ke Ibu karena aku dilahirkan dan dibesarkan dengan baik." Bagiku kalimat-kalimat macam itu emang tidak perlu ditahan, katakan saja :)
- Mbakku kirim paket isinya benih sayuran setelah tahu aku habis pasang pralon hidroponik di rumah.
- Sisca bilang gini "...terima kasih untuk eksistensimu. Aku senang bisa kenal kamu." Bagiku, ini jauh lebih aku tunggu dari ucapan doa dan harapan. :)
- Ais bilang gini, "semoga Ayen bisa sebenar-benarnya bahagia dan jadi Ayen yang lebih baik dari hari ini." Doa ini cukup dan sungguh aku harapkan hari itu.
- Verlita dan Uma video call. Mereka mungkin enggak tahu, tapi saat itu aku bersyukur atas eksistensi mereka di hidupku. Walau bahasannya seperti biasa: ngalor-ngidul. :D
- Waktu telponan bertiga, mereka tanya; "kamu doa gih biar di-aminin bareng." Waktu aku berdoa dengan template bahwa semoga kita semua sehat jiwa raga, buru-buru ditambah, "kebiasaan deh! Doa buat sendiri dulu dong kamu maunya apa!" Terdengar biasa aja, tapi aku jadi berpikir; haha, apa ya yang benar-benar aku pengen sekarang? Setelah bercerita bahwa aku pengen beli minyak olive tapi enggak jadi beli karena mahal, tebak apa yang terjadi? Minyak olive itu pun nyampe ke rumah beberapa hari setelahnya dengan ucapan; Selamat ulang tahun dan selamat masak-masak ;)
- Malamnya mentee ku mau ditelpon karena dia sedang gusar. Lidahku gatal pengen bilang, Duh aku enggak bisa karena aku ulang tahun dan kamu harusnya ngucapin selamat ulang tahun, bukan malah ganggu aku makan sama keluargaku. Tapi aku tepis dan aku coba dengarkan dia dengan baik seperti hari-hari biasanya. Aku berpikir; tidak ada hubungannya antara aku berulang tahun dan dia yang sedang butuh bantuan.
"Selamat atas pembelajarannya di 29 tahun hidupmu. Banyak masalah dan tantangan yang bikin kamu sedih dan lelah, tapi kamu hebat karena bisa bangkit lagi! Selamat atas keberanian kamu membuat keputusan-keputusan penting untuk hidupmu. Aku harap kamu tidak pernah menyesali keputusan tersebut di masa depan. Terima kasih karena sudah memprioritaskan kesehatan jiwa ragamu sebelum yang lain. Terima kasih sudah memperjuangkan yang esensial dan membatasi yang tidak penting. Terus jadikan beliefs dan values kamu sebagai landasan dari apa yang kamu pikirkan, katakan dan lakukan. Terus ingat untuk bercermin dan melihat ke dalam sebelum ke luar. Terus menjadi pembelajar seperti yang selalu kamu lakukan. Teruskan yang baik, tinggalkan yang buruk. Selamat dan terima kasih sekali lagi."

Komentar
Posting Komentar