1: ∞ (Satu Banding Tak Terhingga)


Foto: sesaat di Sarai


Ditulis tanggal 26 Februari 2022.

Semalam rasanya jantung mau copot waktu ngejar jadwal pesawat Jakarta - California. Hampir saja tertinggal pesawat karena sibuk ngurus ini itu dan proses check-in yang sesulit itu, tapi Alhamdulillah masih bisa masuk kabin di detik-detik terakhir dan masuk pesawat juga! 

...

Waktu bangun aku keringat dingin. Hadeuh, mimpi aja kaya gini rasanya. Apalagi benerannya.

Yes, itu mimpi. Benernya si aku ya lagi di kasur dan tertidur. 

Jadi aku mulai sadar polanya, kalau lagi kepikiran sesuatu, tetiba-tiba hal itu akan masuk ke dalam mimpi dengan gambaran senyata itu. Sebelumnya, aku pernah mimpi masuk ke ruang tes IELTS berkali-kali, ketemu banyak orang gak aku kenal dan lalu masuk ke ruangan seperti ruangan kuliah bertemu teman yang nilai-nilai IELTS bagus-bagus. Absurd memang. Dan memang saat itu, aku sedang dalam hari-hari penantian keluarnya nilai tes IELTS yang kuambil beberapa hari sebelumnya. 

Dulu waktu zaman mahasiswa, aku mimpi ketemu Doraemon di gunung belakang sekolahnya Nobita, di saat sedang menunggu pengumuman pertukaran mahasiswa ke Thailand.

Yang sekarang, adalah karena aku sedang menunggu hasil pengumuman tes YSEALI Professional Fellowship Program - Civic Engagement Theme, program pelatihan kepemimpinan selama 1 bulan di Amerika Serikat. 

Dilihat dari mimpi-mimpi sebelumnya, aku meyakini mimpi-mimpi tersebut gak bisa aku gunakan untuk menerka-nerka apakah itu pertanda aku akan mendapatkan hasil yang kuinginkan. Nyatanya hasil IELTS ku tidak seindah yang aku alami di dalam mimpi (di mimpi itu IELTS ku 8 semua cuy WKWKW). Pun nyatanya aku (sempat) tidak diterima pertukaran pelajar ke Thailand (walau pada akhirnya bisa berangkat juga, atas izinNya). Jadi mimpi hampir ketinggalan pesawat ke California ini jadi semacam penguatan saja bahwa agaknya aku sudah tak sabar mendengar pengumumannya. Dan agaknya aku sangat ingin pergi ke Amerika Serikat dan naik pesawat ke tempat yang nun jauh di sanaaaa.

Karena hari ini Sabtu dan panitia bilang pengumumannya di awal Maret, maka ku tak tertarik mengecek ke email (sebelumnya tiap menit aku buka inbox, kalau-kalau dapat pengumuman 'SELAMAT' di sana). Di saat ku buka laptop, ada pop-up notification, "EH UDAH ADA PENGUMUMAN!"

Jantungku langsung dugun-dugun (dibaca: deg-degan) dan dengan cepat aku skimming inti dari email tadi. Ternyata....impianku untuk ke Amrik harus ditunda dulu pemirsah, setidaknya untuk tahun ini. Karena email tersebut menyatakan sebagaimana berikut:



Sedetik aku mulai memproses informasi tersebut, tapi karena ku sedang in the middle of keriweuhan: 3 zoom sampai triple devices, telpon mendadak dari client dan chat WA dari temen yang nagih kiriman makanan, aku gak cukup waktu untuk bergalau-galau ria. Walau ada rasa kesal di dalam hati, "hih pada gak tau apa ya ini aku sedang sad habis dapat rejection email."

Siangnya, aku mulai memproses kenyataan bahwa bayangan-bayangan akan memakai baju syal bulu-bulu di tengah salju, atau foto elegan di depan patung Liberty, atau bikin vlog ala-ala buat pamer di media sosial itu tidak akan terjadi tahun ini lewat jalan ini. Anehnya, aku baik-baik saja. Walau rasa kecewa tentunya ada, namanya juga manusia penuh ekspektasi. Di sela-sela obrolan di meja makan hari itu, aku memberi tahu Bapak dan Ibuku, yang sepertinya selama ini sangat antusias dengan kesempatan anaknya ke AS. :D

As expected, komentar keduanya mengamini apa yang aku yakini. Keduanya mengapresiasiku karena sudah mencoba, dan mengingatkanku untuk melihat hal baik dari kejadian ini. May Allah SWT rewards them for their unconditional love. Amin.

Dengan adanya penolakan ini, aku mulai menyusun kembali rencana lain untuk bulan September dan bulan-bulan berikutnya. Saat itulah, aku kembali teringat nasihat-nasihat yang senantiasa menentramkan hatiku"

"Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang luput dariku tidak akan pernah menjadi takdirku dan apa yang ditakdirkan untukku takkan pernah luput dariku."

Umar bin Khattab RA.

Sehingga ketika inner-critic dengan nakal berbisik: "Ayen, look! You didn't do your best, that's why!" nasihat dari Umar RA tersebut membuatku ingat bahwa in the end, ini sudah ditakdirkan untukku, sehingga walau aku memutar ulang waktu, mengerahkan segala daya upaya dan cara, maka ia akan luput juga.

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S Al Baqarah: 216)

Dengan segala keterbatasanku, yang mengira hal ini baik untukku padahal mungkin tidak. Dan Allah SWT-lah yang Maha Mengetahui hal terbaik untuk hambaNya, seperti apa yang juga disampaikan di video ini :)


Sumber: YouTube Bayyinah Instutite


Sekarang pilihanku dua:

Tenggelam menyalahkanNya atau percaya akan rencana terbaikNya?

Semakin aku berpikir betapa sayangnya Allah SWT yang selalu memberikan yang terbaik, semakin terpampang nyata nikmat-nikmat yang selama ini aku terima cuma-cuma. Bukan lagi satu atau dua, tapi tak terhingga! Infinite! Terus aku jadi malu sendiri, masa iya aku protes karena satu keinginanku enggak terpenuhi, seperti ini, ketika Allah SWT terus menerus memberiku nikmat setiap saat hingga aku tak sanggup lagi menghitungnya? Belum lagi betapa banyak doa-doa yang selama ini selalu Ia ijabah. Layakkah aku protes pada satu hal yang aku tidak dapatkan (padahal belum tentu itu baik bagiku), di saat aku telah secara cuma-cuma mendapatkan nikmat yang tak terhingga dariNya?

Karena jika aku membagi 'tak terhingga' (∞) dengan satu (1), maka jumlahnya tetap akan tak terhingga, bukan? Ah, jadi ingat kata Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW said, "Shouldn't I be a grateful servant?"

 

(HR Bukhari & Muslim)






Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk