Bye Bye BTS Part 1: From Shawol to Army
Annyeoung!
Terkhusus untuk para Army yang lagi baca, aku mau disclaimer dulu, kalau tulisan ini bukan dibuat untuk mengkampanyekan anti-BTS atau anti-Korea. Tulisan ini murni berbagi perspektif dan pengalaman pribadi. Saat tulisan ini lahirpun, aku tetap bangga dan kagum dengan Bangtan kok! Jinja.
Okay, sebelum ngomongin BTS lebih jauh, kita quiz dulu. Ada yang tahu enggak nama-nama member BTS? Bias kamu yang mana?😀
Tulisan ini sudah lama di pikiran, tapi baru kali ini ada keberanian (dan pastinya semangat) untuk diselesaikan dan dibagikan. Tujuannya sebenarnya untuk dokumentasi pribadi, dan syukur-syukur kalau ada yang dapat manfaat dari sini. Amin.
Flashback
Sebenarnya aku mulai terpapar dengan K-pop belum lama ini. Tapi sejak SMA memang sudah kenal budaya Korea lewat drama-dramanya. Yang suka K-drama kayanya familiar dengan Jewel in The Palace, Winter Sonata, Princess Hours, Full House, dll kemudian berlanjut di bangku kuliah, walau cuma nonton Descendent of The Sun (gegara seluruh kelas ngomongin ini). Syukurnya dulu kuliahku super duper padat ditambah emang anaknya kura-kura (kuliah-rapat-kuliah-rapat) jadi praktis emang enggak sempet buat nonton K-drama yang durasinya berjam-jam. Pluuus, alasan utamanya adalah sayang sama kuota internet karena WiFi yang tidak semudah dan semurah saat ini 😂
Lalu aku memasuki dunia kerja. Mulai dari mbak-mbak resepsionis di bimbel, les privat, sampai kerja kantoran di jantung kota Jakarta: Kemang. Aku mulai merasa kesepian dan sendirian. Sebagai fresh graduate yang minim pengalaman kerja, saat itu aku belum cukup bekal untuk mengelola work-life balance. Alhasil setiap hari aku stres. Pekerjaan yang sulit, stres. Supervisor kasih teguran, stres. Weekend lembur, stres. Masalah dengan rekan kerja, stres. Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, badanku demam, padahal enggak sakit. Tapi seakan badanku merespon pikiranku, "sakit aja apa ni? biar enggak usah kerja." WKWKW separah itu! Saat itupun aku pernah dengan barbar memotong rambutku sendiri di malam hari depan cermin dan membiarkan rambutnya berserakan sampai besok hari. I know, it sounds scary.
Dan pelampiasanku adalah menonton drama Korea. Tiada malam tanpa nonton. Apalagi kosanku saat itu full WiFi, sehingga rasanya no effort buat nonton drama apapun yang aku mau :')
Saat itu, yang aku rasakan adalah sejenak melupakan rasa sakit dan stres dengan memasuki sebuah dunia yang lain yang disuguhkan oleh drama-dama itu. Tapi memang anehnya, semakin nonton semakin enggak tahu cara berhentinya. Sampai beberapa kali aku rela begadang nonton 8 episode non-stop, sampai telat solat shubuh dan telat ke kantor. Seperti sudah bisa ditebak, di kantor aku jadi ngantuk, enggak konsen, ngeselin, dan makin stres 😁
Begitulah polanya.
Aku memutuskan resign setelah belum setahun kerja, lalu putar haluan ikut program mengajar setahun di daerah terpencil. Setahun itu kebiasaan nonton dramaku sembuh, karena tentunya di desa enggak ada sinyal, banyak kegiatan bareng orang-orang di desa dan temen-temen sepenempatan, serta aku enggak sempet nyetok drama sebelum berangkat hehe.
Tapi ternyata oh ternyata, aku kembali adiktif dengan K-drama ketika kembali bekerja. Emang lucu hubungan pekerjaan dengan perkoreaan ini. Dengan stres dan tekanan baru, maka aku kembali mencari ketenangan dan penghiburan lewat Kdrama. Tahun 2019 paling parah, di mana aku mengkatamkan 15 drama Korea dalam setahun. CKCK padahal khatam Al Quran paling banter sekali :')
Aneh emang. Biasanya aku nonton setelah pulang kerja, sebelum tidur, sambil makan pagi, atau di sela-sela nunggu rapat. Emang sededikatif itu. Heran juga kalau dipikir-pikir sekarang.
Kemudian babak per K-pop-an dimulai. Jeng Jeng.
Debut Sebagai Shawol
Sebegitu setianya aku dengan K-drama saat itu, aku masih belum mengerti kenapa orang-orang suka dengan boyband dan girlband Korea. Dulu ngeliatnya risih aja gitu dan lagu-lagunya enggak cocok sama selera. Lagu-lagu Korea yang aku dengar saat itu mentok adalah OST dari drama yang aku tonton, which is ya...sama aja si 😂
Sampai akhirnya aku ketemu SHINee. Eh bukan ketemu langsung maksudnya, tapi tahu dan familiar dengan member dan lagunya. Kok bisa? Waktu itu aku sedang terlibat di sebuah riset angka kematian akibat bunuh diri di Asia Tenggara. Sampai akhirnya aku tahu dan merasa simpati dengan grup boyband ini. Yang Shawol atau demen Korea garis keras mungkin tahu ceritanya. Bagi yang belum, enggak perlu cari tahu :')
Intinya salah satu member grup boyband tersebut bunuh diri karena masalah kesehatan mental.
Intinya salah satu member grup boyband tersebut bunuh diri karena masalah kesehatan mental.
Dari situ aku mulai familiar dan suka dengan lagu-lagunya, walau enggak semuanya si. Saat itu pas banget SHINee launching album baru, jadi banyak banget konten-kontennya bertebaran di YouTube dan Instagram. Apalagi kalau udah beberapa kali nonton, duh pasti itu algoritme bakal bikin kita enggak bisa berhenti. Lalu Taemin wamil (wajib militer) dan grup tersebut pun hiatus.
Waktuku fangirling sama SHINee mulai mengkhawatirkan, sampai-sampai aku tulis surat perpisahan di buku jurnalku, sebagai tanda hubungan kami harus udahan :')
Alhamdulillah, Allah SWT kasih aku sakit tipes selama kurang lebih 2 bulan. Of course dong aku jadi enggak kepikiran lagi buat nonton, yang aku pikirin cuma gimana biar cepet sembuh. Karena sumpah enggak enak banget rasanya diinfus dan muntah terus setiap makan. Dengan begitu berakhirlah episodeku sebagai Shawol (fandom SHINee).
Dari Shawol ke Baby Army
Setelah sembuh dari tipes, aku kembali ke kampung halaman dan bekerja jarak jauh dari sana. Walau alhamdulillah WiFi berlimpah, kecanduan Kdrama dan Kpop ku enggak parah-parah amat. Drama tetap jalan, terutama yang hits dan jadi perbincangan wankawan: Start Up, CLOY, Reply, Prison Playbook, dr Romantic, Navillera, Hospital Playlist, Racket Boys dll.
Nah di drama terakhir yang aku tonton itulah aku berkenalan dengan BTS. Emang paling pinter si Korea saling mendukung industri hiburannya :')
Aku yang dulu anti sama BTS dan kesel sama insiden McD, malah kemudian tenggelam di dalam kehaluan. Dari dengerin lagu Go Go --> cari tahu --> terjebak algoritme YouTube --> terpapar lagu-lagunya BTS yang lain, yang ternyata emang sooo earcatching. Can't lie, sorry guys. I should admit they are so so talented, Masha Allah.
Dan di saat yang sama, kondisi mentalku memang sedang tidak baik-baik saja. Lewat lagu-lagunya BTS yang emang mengkampanyekan self-love dan isu kesehatan mental, aku jadi kaya dipukpuk sama Suga (eh, halu lagi!). Tujuh manusia Bangtan itu menjelma jadi seperti temen masa kecil, di mana aku merasa aman, nyaman dan diterima. Jadi emang bener sih kalau ada Army yang bilang kalau, "you're gonna love them, just like that, effortless, even when you don't realize it."
Maka tiga bulan setelahnya aku dengan bangga bilang kalau diriku Army. Masih baby karena masih baru. Kegilaanku memang enggak sampai beli merchandise mereka (walau kuakui sempet kepikiran), atau beli tiket konser mereka (well, pandemi juga sik, jadi no concert), atau cari perhatian mereka. Farngirling ala Ayendha saat itu, kurang lebih seperti ini
- Tiada hari tanpa lagu-lagu mereka, semua aktivitas pakai backsound BTS
- Hafalin lirik (maunya sama dance nya tapi ku tak sanggup...)
- Cari tahu lirik dan sumber inspirasinya
- Cari buku-buku dan film yang menginspirasi Namjoon dan Suga nyiptain lagu
- Nontonin BTS Run (udah fix gantiin Running Man, reality kesukaan sebelumnya)
- Cari tahu membernya, umurnya, background story nya
- Tenggelam dalam BU (B-Universe) dan sampai kebawa mimpi segala :')
- Cari tahu tentang awal lahirnya B21 dan film-film nya
- Nonton movie nya. Kan banyak tuh, ada Burn The Stage, Bring The Soul, Break the Silence
- Lastly, biar less guilty, belajar pidatonya RM di United Nation.
Sampai sampai aku hebring saat tahu temen Philippines ku juga Army, dan lalu kita berjanji nonton concert BTS bersama :')
and that was how I become K-waver and proud Army.
Hingga akhirnya aku merasa ada yang enggak beres dengan diriku...
[bersambung part 2]

Komentar
Posting Komentar