Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Refleksi Lima Juni

Gambar
Sebelum Juni berakhir: Lima Juni selalu punya arti berbeda buatku. Hari pertama aku lahir ke dunia. Hari banyak doa-doa baik dipanjatkan. Lucunya, lima juni juga sering kali jadi penanda hal besar dalam perjalanan hidupku. Lima Juni 2016 - hari pertama aku bekerja di JAVARA. Sudah barang tentu, tak ada orang yang tahu kalau saat itu hari ulang tahunku. Lima Juni 2017 - hari pertama aku menginjakkan kaki di Walandawe. Sebuah desa di Sulawesi Tenggara, tempat aku belajar sebagai Pengajar Muda. Lima Juni 2018 - hari pertama aku masuk kos di Jakarta. Lima Juni tahun lalu aku kesal akan banyak hal. Saat itu aku di rumah, tapi tidak ada yang ingat kalau hari itu hari ulang tahunku, bahkan Ibuku sendiri. :D Tapi aku terhibur dengan dua kiriman makanan dari; temanku dan anak magang di kantorku (Ashoka). Tidak banyak yang kuingat dari hari-hari tersebut. Mungkin karena justru yang esensial yang terlupa; mengaudit dan mengevaluasi diri. Lima Juni tahun ini, ketika usia genap 28 tahun, aku mencob...

Pandemi dan Well-Being

Gambar
Apa kabar kamu setelah 15 bulan hidup di masa pandemi? Saat remaja dulu, kayanya enggak pernah terfikir tentang isu well-being, apalagi merasa perlu punya well-being yang prima untuk diri sendiri. Entah kamu punya pemikiran yang sama atau enggak, tapi aku merasa pandemi ini memaksaku untuk menyelami isu ini lebih dalam, setidaknya untuk keperluan kita sendiri. Well-being (n): the state of being comfortable, healthy or happy. atau kalau yang aku pahami; kondisi di mana semua elemen dalam diri kita berfungsi secara optimal dan menjadikan kita bisa berkontribusi pada hal lain di luar diri kita. Saat ada yang off maka pasti rasanya tidak nyaman. Contohnya sariawan, bikin kita enggak nafsu makan dan ngomong. Sama halnya ketika mental dan emosi kita yang juga enggak baik-baik saja, maka kemungkinan besar kemampuan kita untuk berfikir dan beraktifitas dengan optimal pun terganggu. Disclaimer , aku bukan ahlinya di topik ini, tapi aku ingin cerita beberapa oleh-oleh yang aku dapat dari hasil n...

Mencari Warna dan Bentuk

Gambar
Pernahkah, di suatu titik dalam hidupmu, kamu merasa tidak nyaman dengan dirimu sendiri? Tidak nyaman menunjukkan warna dan bentuk aslimu di dalam sebuah kerumunan? Bisa jadi dua hal ini yang sebenarnya terjadi: Kamu sudah tahu warna dan bentuk aslimu namun kondisi di sekitarmu tidak memungkinkanmu untuk menunjukkannya, atau Kamu bahkan belum tahu apa warna dan bentukmu sendiri. Asumsi liarku, apa yang disebut ' warna dan bentuk ' inipun senantiasa berkembang. Gampangnya, saat kecil kamu merasa 'warna'-mu adalah jingga, bentuknya trapesium maka tidak serta merta akan terus trapesium jingga sampai tua. 'Warna dan bentuk' ini jika boleh aku bayangkan adalah semacam kulminasi dari nilai, prinsip, identitas... Pengembangannya kental dipengaruhi oleh pola asuh, pengalaman, kebiasaan, dan perenungan (balik ke postingan sebelumnya). Konsekuensi dari pencarian warna dan bentuk ini akan berbeda dari satu individu ke individu lainnya. Dalam kasusku saat ini, kebingungan m...

Mengenal Diri Sendiri, Perlukah?

Gambar
Akhir-akhir ini, atau lebih tepatnya setelah pandemi, perjalanan ke dalam diri menjadi agenda sehari-hari. Karena setelah lelah menatap layar laptop seharian untuk memenuhi deadline, memikirkan to-do-list selanjutnya, dan melakukan aktifitas autopilot seperti tidur, makan, buang air, membalas obrolan - yang dipikirkan di penghujung hari adalah: pada akhirnya semua ini untuk apa? (Jadi pengen nyanyi lagunya Hindia!) Setelah 27 tahun merasakan hidup, sepertinya baru sekarang lah aku menjadi lebih peka terhadap emosi yang aku rasakan. Roda emosi ini sangat membantu untuk orang-orang sepertiku yang sulit mengenali dan menyampaikan emosi (atau yang biasa disebut Alexythimia ). Roda emosi ini diperkenalkan pertama kali oleh Robert Plutchik. Dulu rasanya kata mindfulness atau istilah ' Sadar Penuh, Hadir Utuh ' itu layaknya sebuah domain abstrak yang jauh dan tidak relevan dengan diri sendiri. Sekarang, setelah masa pandemi, aku jadi punya lebih banyak waktu untuk ruminating  dan memp...

Obrolan Mati Listrik

18 Januari, hari Senin "Aku ingin menjadi manusia yang damai dan mendamaikan, manusia yang welas asih dan mengasihi, manusia yang utuh dan mengutuhkan. Sebelum aku mati." Malam ini gelap, aku menulis di pojok ruang kamarku ditemani sinar dari hpku yang sebentar lagi baterainya habis. Hujan di luar masih awet. Langit belum lelah menumpahkan airnya dari subuh tadi. Memang ya, tidak semua kontrol di tangan manusia. Dengan secangkir kopi pekat siang tadi, yang membuatku rela dengan munculnya sensasi mual karena memang aku dan kopi yang tak akur, aku telah bertekad mencurahkan 200% fokus untuk deretan to do list yang menunggu untuk dicoret. Itu ekspektasinya. Lalu di saat adrenalin dan endorfinku mencapai mode siaga, di mana itu jarang sekali terjadi, aku tidak bisa melanjutkan kerjaku. Listrik mati karena hujan lebat dan sinyal ponsel pun raib. Sedetik aku kesal dan mempertanyakan, "Ah, kenapa sih harus sekarang." Tapi aku senang karena setelahnya aku sadar, kesal di s...