Postingan

IELTS Test: Process Over Result

Perjalanan tes IELTS-ku yang kedua ini cukup berbeda dari yang pertama bulan Desember 2021 lalu. Walaupun hasil tes yang sekarang belum sesuai target tapi kok aku menerimanya dengan damai dan bahagia. BTW, targetku emang setinggi langit sih. Mintanya sama Allah dapat minimal 8.0 di listening dan reading (karena yang sebelumnya bisa segini) dan minimal 7.0 di speaking dan writing (yang bikin nightmare di tes sebelumnya). Tapi tetap alhamdulillah walau tidak semua score yang aku pengenin dikabulkan Allah, pada akhirnya hasil tes ini bisa dipakai sesuai kebutuhanku saat ini. Selain beda dari periode waktu dan harga yang makin ke sini makin mahal karena penguatan nilai USD, ternyata ada pemaknaan berbeda dari kedua tes yang pernah aku ambil ini. Tes pertamaku di British Council Jogjakarta. Niatnya liburan seminggu dan ditutup dengan tes. Niatnya cuma buat muasin ego aja, enggak tahu mau dipakai buat apa. Kayanya merasa arogan karena tiap hari cap cip cus ngomong dan email pakai English ...

The Reward of Goodness is Only Goodness

Gambar
Setelah dalam dua pekan ini berulang kali dengar kata Cognitive Reframing dan Cognitive-based Therapy (CBT) yang kemudian berujung pada membaca buku fenomenal; Filosofi Teras, Allah kasih aku pengalaman empiris untuk secara langsung menguji konsep-konsep tersebut dalam hidupku. Hari ini aku dimintai tolong oleh seseorang. Bagi orang-orang yang mengenalku, mungkin aku terlihat sungguh baik yang akan selalu dengan senang hati menolong orang ( image anak-anak NGO be like). Tapi nyatanya tidak begitu. Sebaliknya, aku sering merasa kesal jika harus mengerjakan sesuatu yang tidak ada dalam daftar rencanaku. Walau akhirnya tetap aku lakukan juga karena alasan tanggung jawab. Seperti halnya hari ini. "Why should I clean other people's mess?" Ini respon pertama yang muncul dalam benakku. Semulia-mulianya membantu orang lain, aku tetap merasa ini melelahkan. Karena hari ini aku sedang dalam kondisi tidak fit, namun harus naik motor bolak-balik 4 jam di teriknya siang hari di Dep...

Hening Membawa Pesan Tuhan

Kemarin saat mengikuti sebuah sesi bertajuk, "How to be a great facilitator" aku jadi tersadar ada yang jauh lebih penting dari teknik dan cara. Satu dari hal penting itu adalah tentang percaya dan apresiatif pada keheningan.   Saat sesi tersebut, ada momen di mana aku dan peserta diminta bermeditasi dalam sunyi. Biasanya kan ada musik-musik yang mengiringi, tapi ini tidak. Kami diminta untuk menajamkan indera pendengaran pada suara apapun yang ada, selirih apapun, meski jika suara itu tidak ada. Kemudian di kesempatan berikutnya ketika trainer melontarkan sebuah pertanyaan dan kami semua diam, ada jeda yang lebih panjang dari yang aku sangka, sampai kemudian ada respon yang terdengar. Selama momen-momen dalam sunyi itu aku merasa tidak nyaman. Rasanya menakutkan, kikuk, aneh dan seperti ada yang salah. Di akhir, trainer menyampaikan, "Seorang fasilitator harus terbiasa dengan keheningan. Sunyi atau diam ketika sesi itu juga sebuah proses dan respon yang perlu diterima...

Buah dari Setahun Journaling

Gambar
Tidak semua orang bisa jadi penulis. Kemampuan merangkai kata-kata yang padu, indah, relevan dan sampai di hati pembaca itu pasti sebuah talenta yang hanya dimiliki segelintir orang. Oleh karena itu tidak perlu lah semua orang di dunia ini menjadi penulis. Itu yang dulu aku katakan pada diri sendiri awal 2022 ketika terbersit niat untuk menulis buku. Padahal saat menulis dua lembar pertama, aku cukup percaya diri. Terlebih setelah mendapat dorongan dari teman-teman untuk segera menerbitkan buku sendiri. Namun kepercayaan diri itu juga nyatanya diuji dengan rasa ragu dan khawatir. Ragu jika apa yang dituliskan itu tidak layak dibaca orang lain. Khawatir jika buku yang sudah terbit nanti dihujani kritik oleh orang lain. Self-limiting belief (keyakinan yang membatasi diri) saat itu cukup kuat hingga membuatku memutuskan untuk berhenti menulis buku. Keinginan untuk menjadi penulis buku itu pun aku kubur dalam-dalam. Tapi aku tetap menulis. Hampir setiap hari selama setahun penuh. Namun b...

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Gambar
Beberapa hari menghabiskan waktu di kampung halaman membuatku banyak berpikir tentang konsekuensi dari merantau jauh dari rumah. Setelah dua kali kehilangan anggota keluarga tanpa sempat menemani hari-hari akhirnya, aku jadi sadar ini konsekuensi nyata yang harus ditanggung oleh seorang perantau. Otakku mulai membuka buku-buku memori, mencoba menelusuri perjalananku merantau dari yang hanya sebuah cita-cita seorang anak kecil hingga kemudian menjalaninya sendiri selama lebih dari 10 tahun terakhir. Kalau dipikir-pikir, keinginan merantau itu awalnya banyak dipengaruhi oleh buku-buku yang aku baca sejak kecil. Sebelum mengenal media sosial seperti pada generasi zaman sekarang, hari-hariku saat usia Sekolah Dasar banyak dihabiskan membaca buku -buku roman Negeri 5 Menara, Laskar Pelangi dan Harry Potter. Kamu bisa tebak apa kesamaan dari ketiga tokoh di dalam roman tersebut? Betul, ketiganya adalah p erantau. Baik Alif, Ikal dan Harry, ketiganya sama-sama merantau ke negeri yang baru de...

Serigala Hitam dan Jurus 4M

Gambar
"Seperti apa bentuk serigala putih dan serigala hitam dalam dirimu?" Pertanyaan tersebut menjadi pemantik diskusi di sebuah sesi retreat yang aku ikuti sore kemarin. Rasanya seru saat diberi waktu khusus untuk benar-benar melakukan evaluasi ke dalam diri. Mengakui keberadaan sisi 'putih' dan sisi 'hitam' di dalam satu tubuh. Serigala putih dilihat sebagai dorongan ke arah lebih baik, sedangkan serigala hitam dilihat sebagai penghambat. Misal, kita pengen bisa menyelesaikan tantangan 30 Hari Menulis. Serigala putih kita bisa berbentuk rasa semangat, optimisme, pantang menyerah, fokus dan bahagia saat menulis. Sedangkan rasa malas memulai, takut kena kritik, menunda-nunda menulis, tidak sabaran sampai di hari terakhir, itu beberapa contoh jelmaan serigala hitam.  Setelah masing-masing selesai dengan refleksi individu, kami diminta saling berbagi di lingkaran besar. Fasilitator kemudian kembali melempar pertanyaan kepada peserta, "Lalu, apa yang kita perlu l...

Pembuat Skenario Paling Sempurna

Gambar
Lagi-lagi, pun setelah kejadian ini, aku percaya tidak ada satupun di dunia ini berdiri sendiri. Semua saling mempengahuri tanpa kita sadari. Dari satu kejadian ini juga aku makin yakin bahwa Allah Swt adalah perancang skenario terbaik yang pernah ada, yang menggerakkan semuanya dengan sangat sempurna sampai membuat hambaNya sering kali kehilangan kata-kata. Pengalaman ini terjadi Oktober 2017 silam saat aku sedang menjalankan tugas sebagai Pengajar Muda di Walandawe, sebuah desa di kecamatan terjauh di Konawe, Sulawesi Tenggara. Saat itu belum ada sinyal telepon dan internet sama sekali. Listrik juga masih terbatas. Untuk bisa mengakses sinyal, aku perlu menumpang kendaraan untuk sampai di perusahaan tambang dan meminjam WiFi di sana, yang jauhnya sekitar 3-4 jam perjalanan. Selama beberapa hari di bulan Oktober itu, aku sering bermimpi buruk. Dalam mimpi itu, aku berulang kali bermimpi Bapakku meninggal. Sebelum menghembuskan napas terakhir, beliau memanggil-manggil namaku yang sedan...