Pembuat Skenario Paling Sempurna
Lagi-lagi, pun setelah kejadian ini, aku percaya tidak ada satupun di dunia ini berdiri sendiri. Semua saling mempengahuri tanpa kita sadari. Dari satu kejadian ini juga aku makin yakin bahwa Allah Swt adalah perancang skenario terbaik yang pernah ada, yang menggerakkan semuanya dengan sangat sempurna sampai membuat hambaNya sering kali kehilangan kata-kata.
Pengalaman ini terjadi Oktober 2017 silam saat aku sedang menjalankan tugas sebagai Pengajar Muda di Walandawe, sebuah desa di kecamatan terjauh di Konawe, Sulawesi Tenggara. Saat itu belum ada sinyal telepon dan internet sama sekali. Listrik juga masih terbatas. Untuk bisa mengakses sinyal, aku perlu menumpang kendaraan untuk sampai di perusahaan tambang dan meminjam WiFi di sana, yang jauhnya sekitar 3-4 jam perjalanan.
Selama beberapa hari di bulan Oktober itu, aku sering bermimpi buruk. Dalam mimpi itu, aku berulang kali bermimpi Bapakku meninggal. Sebelum menghembuskan napas terakhir, beliau memanggil-manggil namaku yang sedang di Konawe, ratusan kilometer dari Pekalongan. Aku memang sering memimpikan kematianku di dalam mimpi, tapi memimpikan orang tuaku sendiri saat itu, cukup membuatku was-was. Ditambah lagi saat itu belum saatnya jadwal pergi ke Kabupaten. Perlu 90 hari lagi sampai bisa menumpang mobil dari kecamatan ke kabupaten untuk mengakses sinyal.
Dalam kondisi tersebut, aku berusaha sebisa mungkin untuk tenang dan mendistraksi pikiranku agar tetap bisa menjalankan kewajibanku sehari-hari sampai hari turun ke kabupaten tiba. Aku pergi ke hutan, bermain dengan anak-anak, dan menata buku di perpustakaan berkali-kali sampai bosan. Beberapa hari berlalu namum mimpi itu masih saja datang. Aku berdo'a dan terus berprasangka baik, "Jika tidak ada kabar yang datang ke desa, artinya semua baik-baik saja." Itu yang terus aku pegang.
Suatu hari di hari Minggu, di saat sekolah libur dan aku seharian mengisi hariku kembali menata buku di perpustakaan desa, suatu hal aneh terjadi.
Aku yang baru akan kembali ke rumah karena sudah saatnya jam makan siang, kemudian dikagetkan oleh segerombolan orang dan puluhan mobil jeep terpakir di halaman sekolah. Beberapa di antaranya orang Thailand dan Belanda. Sungguh suatu pemandangan tidak biasa melihat keramaian di desa yang sunyi senyap ini. Desa yang sangat jarang dilewati mobil, hingga paling-paling hanya satu kali dalam seminggu.
Seseorang berlogat Jawa medhoknya menghampiri. Mungkin bisa melihat dari wajahku bahwa aku bukan penduduk asli, "Mbaknya pendatang juga ya?" Percakapan itupun berlanjut hingga membuat banyak wajah takjub bercampur prihatin. Banyak di antara mereka bilang tidak akan mengizinkan anak gadisnya pergi sejauh ini untuk mengajar anak-anak di pelosok negeri. Aku cuma bisa tersenyum, kembali mengingat mimpi yang sedang sering menghampiri akhir-akhir ini, "Betul juga sih. Bapakku juga sempat enggak setuju aku datang ke sini."
Hingga seorang Bapak berinisial J izin ingin mengobrol empat mata denganku. Beliau dengan suara penuh ketulusan menawarkan, "Saya lihat kamu jadi ingat anak saya. Duh, enggak tega saya. Saya pengen bantu kamu. Kamu butuh apa? Kamu butuh uang berapa di sini?" Bapak tersebut buru-buru mengeluarkan uang dari dompet sebelum dengan sopan aku tolak, "Enggak Pak. Enggak usah. Saya juga bingung beli apa di sini, kan enggak ada pasar, enggak ada mall. Saya cuma butuh sinyal telepon aja ini Pak buat menghubungi orang tua di Jawa."
Rombongan jeep yang memang akan masuk hutan untuk melakukan ekspedisi itu ternyata dilengkapi dengan peralatan komunikasi yang canggih. Dengan bantuan Bapak J, aku akhirnya berhasil menghubungi rumah dengan alat komunikasi mereka. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Bapakku ternyata baik-baik saja. Beliau sempat sakit dan memang sedang rindu pada anak perempuannya ini. Mungkin itu juga yang membuatku banyak memimpikan beliau.
Aku berucap terima kasih kepada Bapak J yang lewat perantaranya aku bisa melanjutkan hari-hariku di desa dengan perasaan lega luar biasa. Kami berjanji untuk terus menjaga komunikasi walau masa tugasku di Konawe selesai.
Waktu terus berjalan, hingga tiba masa aku pulang ke Pekalongan dan bertemu Bapak dan Ibuku kembali.
Lebaran pertama setelah pulang bertugas, aku mendapat telepon. Itu dari Bapak J. Kami mengobrol sedikit, sampai akhirnya beliau bertanya, "Kamu kenal suara ini?"
Napasku tercekat.
"Halo Ayen." Seseorang dengan suara yang familiar dari balik telepon menyapa.
"Hah, ini Mas B bukan sih?" Aku mencoba memproses.
"Iya, ini B. Teman kerja kamu dulu. HAHA"
Setelah itu aku tahu bahwa Bapak J adalah bapak mertua dari Mas B, teman kantorku dulu sebelum menjadi Pengajar Muda.
Setiap kali menceritakan ini, aku masih tidak berhenti terkagum-kagum dengan bagaimana cara Allah mendesain ini semua. Dari segala kemungkinan manusia, orang yang membantuku nun jauh di Walandawe sana adalah keluarga dari temanku sendiri. Dan bagaimana cara Allah mengorkestrakan temanku ini akhirnya tahu bahwa perempuan nekat yang pernah ditemui mertuanya saat mengikuti ekspedisi di Sulawesi itu adalah temannya sendiri.
Allah Maha Kuasa.
Karena kejadian itu, aku kembali diingatkan bahwa tidak ada kejadian yang kebetulan. Semua yang terjadi pada kita hari ini adalah akibat dari keputusan-keputusan yang pernah kita buat di masa lalu. Apa yang kita lakukan detik ini menjadi sebuah sebab dari kejadian-kejadian di masa depan. Sebuah sebab-akibat yang saling mempengaruhi tanpa bisa kita ragukan lagi.
#Day26

Komentar
Posting Komentar