Buah dari Setahun Journaling
Tidak semua orang bisa jadi penulis. Kemampuan merangkai kata-kata yang padu, indah, relevan dan sampai di hati pembaca itu pasti sebuah talenta yang hanya dimiliki segelintir orang. Oleh karena itu tidak perlu lah semua orang di dunia ini menjadi penulis.
Itu yang dulu aku katakan pada diri sendiri awal 2022 ketika terbersit niat untuk menulis buku.
Padahal saat menulis dua lembar pertama, aku cukup percaya diri. Terlebih setelah mendapat dorongan dari teman-teman untuk segera menerbitkan buku sendiri. Namun kepercayaan diri itu juga nyatanya diuji dengan rasa ragu dan khawatir. Ragu jika apa yang dituliskan itu tidak layak dibaca orang lain. Khawatir jika buku yang sudah terbit nanti dihujani kritik oleh orang lain.
Self-limiting belief (keyakinan yang membatasi diri) saat itu cukup kuat hingga membuatku memutuskan untuk berhenti menulis buku. Keinginan untuk menjadi penulis buku itu pun aku kubur dalam-dalam.
Tapi aku tetap menulis. Hampir setiap hari selama setahun penuh. Namun bukan dalam rangka menulis buku.
Tanpa struktur atau format yang jelas. Tanpa ekspektasi akan dibaca orang lain. Biasanya berkisar antara cerita kejadian penting dalam sehari, hal-hal yang disyukuri atau sekedar menuliskan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Orang-orang menyebutnya Journaling. Mirip dengan menulis pada buku diary saat kecil dulu. Sebuah kebiasaan yang kini mulai dibiasakan kembali setelah adanya kebutuhan mengekspresikan emosi. Mungkin biasa disebut journaling untuk media terapi.
Buku journal yang aku pakai selama 2022 ini aku dapat dari Wangsa Jelita. Tema besar dari pertanyaan-pertanyaan reflektif di dalamnya lekat dengan well-being (kesejahteraan) seperti menggambar roda kehidupan, mengidentifikasi nilai-nilai, dan memahami esensi hubungan, emosi, waktu dan evaluasi harian, minggunan, bulanan dan tahunan. Setelah hampir 2 pekan menunda, akhirnya bagian refleksi akhir tahun pun selesai juga dikerjakan.
Walaupun di awal tahun 2022 gagal menulis buku untuk orang lain, aku terharu di akhir 2022 setidaknya aku berani menulis untuk diriku sendiri. Konsistensi menulis tanpa ekspektasi ini ternyata bisa diapresiasi.
Karena setiap menulis aku tahu bahwa buku journal adalah tempat yang aman untuk menulis apapun, biasanya isi tulisanku beragam, lebih sering berantakan, apa adanya, dan tanpa filter. Tanpa disangka, saat awalnya meniatkan kebiasaan ini hanya sebagai tugas terapi, aku menemukan proses journaling ini sebagai sebuah ritual penting buatku apalagi saat mulai asing dengan diri sendiri.
Selama dua jam menulis refleksi akhir, aku menyadari bagaimana selama ini pandanganku terhadap kegiatan menulis perlahan berubah. Alih-alih membebani diri sebagai seorang penulis saat mulai menggoreskan pena atau menekan papan tuts, sebenarnya cukup menulis tanpa ekspektasi. Memasrahkan diri pada apa yang mengalir sebagai buah dari pemikiran atau pun perasaan. Jika nantinya akan dibaca orang lain, tinggal memastikan pesan yang disampaikan sesuai makna dan mudah dipahami oleh pembaca. Bukankah memang seperti itu prinsip komunikasi? Dan bukankah menulis itu sendiri adalah upaya kita mengomunikasikan sesuatu? Jika sudah dapat feel-nya, urusan tata cara penulisaan dan ejaan bisa jadi langkah selanjutnya.
Selain mendapat rasa sebuah pencapaian, buah dari konsistensi menulis journal ini bagiku adalah punya sarana merekam proses tumbuh kembangku beserta semestanya. Apa saja yang terjadi pada diriku setahun ke belakang? Bagaimana pemikiran dan perspektifku berkembang dari satu kejadian ke kejadian berikutnya? Apa pola-pola yang bisa dibaca dari respon-respon itu? Siapa orang-orang yang sering muncul di hidupku? Bagaimana orang-orang itu mempengaruhi hidupku? Wow, ternyata aku memang bertumbuh. Wow, ternyata x, y, z ikut berkontribusi dalam proses pendewasaanku.
Pada akhirnya aku sadar bahwa waktu tidak berlalu begitu saja. Dia membawa perubahan.
Pada akhirnya secanggung apapun aku membaca tulisanku setahun lalu, atau semalu apapun aku melihat lembaran yang sempat aku remas-remas karena amarah, aku yang seperti itu membentuk diriku hari ini. Aku yang akan lebih bijak esok hari pun tetaplah bagian dari aku hari ini.
Pada akhirnya aku sadar bahwa semua orang bisa menulis tanpa menyandang predikat sebagai penulis. Setiap orang mungkin tidak perlu menjadi penulis, tapi setiap orang perlu secara berkala menuliskan pikiran dan emosinya, baik menggunakan media tulisan atau bukan.
Jadi, sudah menulis apa hari ini?
#Day29


Komentar
Posting Komentar