Serigala Hitam dan Jurus 4M
"Seperti apa bentuk serigala putih dan serigala hitam dalam dirimu?"
Pertanyaan tersebut menjadi pemantik diskusi di sebuah sesi retreat yang aku ikuti sore kemarin. Rasanya seru saat diberi waktu khusus untuk benar-benar melakukan evaluasi ke dalam diri. Mengakui keberadaan sisi 'putih' dan sisi 'hitam' di dalam satu tubuh. Serigala putih dilihat sebagai dorongan ke arah lebih baik, sedangkan serigala hitam dilihat sebagai penghambat. Misal, kita pengen bisa menyelesaikan tantangan 30 Hari Menulis. Serigala putih kita bisa berbentuk rasa semangat, optimisme, pantang menyerah, fokus dan bahagia saat menulis. Sedangkan rasa malas memulai, takut kena kritik, menunda-nunda menulis, tidak sabaran sampai di hari terakhir, itu beberapa contoh jelmaan serigala hitam.
Setelah masing-masing selesai dengan refleksi individu, kami diminta saling berbagi di lingkaran besar. Fasilitator kemudian kembali melempar pertanyaan kepada peserta, "Lalu, apa yang kita perlu lakukan agar serigala hitam tidak mengambil alih kesadaran kita?" Jawaban grup berbeda-beda. Ada yang berfokus pada pentingnya pemenuhan kebutuhan diri seperti fisik, spiritual, mental dan sosial agar selalu dalam keadaan yang seimbang. Ada juga yang menitikberatkan pada pentingnya dukungan sekitar seperti keluarga, teman atau komunitas.
Bahasan ini kemudian mengingatkanku pada sebuah kajian Islam yang pernah aku tonton. Konten itu mengulik tentang bagaimana kita bisa membangun sebuah "tim" dengan diri kita sendiri agar berhasil menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. "Tim" ini berisikan ruh/jiwa/kesadaran kita dan nafsu/hasrat/keinginan yang ada di dalam diri. Aku pun masih bingung membedakannya, tapi mari kita bahas sama-sama saja ya. Ibarat seperti sebuah perusahaan, anggap saja ruh/jiwa sebagai diri yang sadar, bertindak sebagai si manajer yang mengatur dan mengambil keputusan. Lalu anggap saja nafsu/hasrat sebagai seorang pegawai.
Aku jadi merasa, "Oh mungkin serigala hitam dan hasrat itu sama saja!"
Sama halnya di sebuah perusahan yang punya tata tertib dan aturan yang jelas, "tim" yang ini pun juga harus begitu!
Dalam kajian itu, Ustadzah menyampaikan langkah-langkah mengelola serigala hitam. Aku menyebutnya sebagai Jurus 4M. “M” yang pertama adalah Musyarakah, buat kesepakatan antara ruh (si manajer) dan hasrat (si pegawai), lengkap apa yang harus dilakukan dan konsekuensi jika kesepakatan tersebut dilanggar. Beritahu "tim" dengan jelas apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Misalnya bangun pagi pukul 04.00 setiap pagi. Jika tidak dilakukan, wajib baca buku 2 halaman. Kedua, Muraqabah yang artinya melakukan pengawasan, apakah si pegawai melakukan tugasnya sesuai kesepakatan. Awasi apa yang coba pegawai ini bisikkan untuk mangkir dari kesepakatan awal. Ketiga, bersungguh-sungguh untuk mengembalikan si pegawai agar kembali patuh pada manajernya, atau yang disebut sebagai Mujahadah. Terakhir, seperti halnya ritual tutup buku menjelang akhir tahun di perusahaan, ini saatnya melakukan Muhasabah, kontemplasi atau evaluasi akhir. Di sini, diri kita sebagai manajer, perlu memberi penilaian seperti apa pencapaian si pegawai (nafsu/hasrat kita), berapa persen dia berhasil dari kesepakatan awal. Bedanya dengan perusahaan yang melakukan tutup buku setiap akhir tahun, proses Muhasabah ini perlu dilakukan setiap hari, sebelum beristirahat dan menyambut hari yang baru. Hasil Muhasabah tadi pun menjadi bahan untuk kembali ke langkah pertama: musyarakah.
Walaupun topik ini pada mulanya berawal dari dua perspektif yang berbeda, aku punya pembelajaran yang sama: Mau seperti apa bentuk serigala hitam atau nafsu/hasrat/desire atau apapun kita menyebutnya, pada akhirnya kita selalu punya kebebasan untuk memilih: mengikuti atau mengontrolnya.
Selamat melakukan rapat dengan "tim" kamu ya!
#Day27
Komentar
Posting Komentar