Doi dan Hormon Dopamin, Adrenalin, Serotonin
Sebenernya udah nggak tepat lagi kalau Saya cerita ini, toh sekarang perasaannya udah beda. Tapi ya sudahlah, tiba-tiba aja keinget sama orangnya dan kepikiran buat nulis. Jangan geer deh, sekarang udah nggak suka lagi kok, mau nunggu aa' yang nanti siap ngetuk pintu rumah aja. :p
Duh, Saya ini pasti kalah paham deh sama orang-orang yang hari-harinya penuh dengan cinta-cinta. semisal "Pagi cinta, gingap?" atau "Met bobok ya cinta."
tapi nggak berarti Saya nggak pernah jatuh cinta ya. Walaupun seumur-umur Saya tidak pernah pacaran, dan akan tetap seperti itu sampai nikah nanti (Amin ya Allah, hehe) kalau yang namanya salting atau kikuk gitu Saya pernah mengalaminya beberapa kali.
Saya sama doi nggak pernah ada apa-apa. Serius. Pergi bareng nggak pernah, ngobrol lama juga nggak pernah, bahkan telpon-telponan dan smsan juga nggak pernah. Tapi karena beberapa hal, Saya diam-diam suka sama doi. Untungnya Saya dan doi nggak satu kelas, maka Saya nggak kebayang gimana Saya mau konsen dengerin dosen kalau ada doi. Tsaaah.
Tapi bener kata orang-orang bilang, suka sama orang itu aneh, padahal kan suka orang harusnya sesimpel suka sama bakso nggak si? Apa salah?
Tapi nyatanya rumit, kompleks, bisa jadi mirip nano-nano rasanya. Hehe
Nggak tahu juga sih, hormon yang mana yang bertanggung jawab Saya salting waktu itu. Deuh, geli sebenernya nyeritainnya soalnya sekarang Saya sudah nggak ada perasaan itu lagi. Serius.
Waktu itu ada acara yang mempertemukan Saya dan doi, makan malam gitu deh. Saya dan dua temen Saya datang duluan, lalu kami duduklah bertiga, Saya di tengah. Ceritanya teman sebelah kiri Saya pergi ke toilet sebentar. Selang beberapa menit si doi datang dan tanpa basa-basi duduk di samping Saya. Nah, tiba-tiba saja darah Saya serasa naik ke atas kepala dengan cepat, seeer. Tangan Saya gemetar, pikiran Saya nggak fokus, dan tiba-tiba lupa mau ngomong apa. Keadaan ini bertambah parah ketika doi mulai angkat bicara. Duh, mati! Saya yang tadinya cerewet jadi diem, Saya yang tadinya lapar jadi kenyang, dan mendadak Saya jadi sering ketawa, dikit-dikit ketawa, bahkan doi nggak ngelucupun Saya bisa ketawa lho.
Tik tok tik tok. Kami duduk dan makan sekitar dua jam, dan rasanya cuma lima menit. Sebentar sekali, Saya saja sudah tidak ingat waktu itu ngomongin apa saja. Pulangnya Saya mendadak rajin, bersihin kamar, baca buku, ngerjain laporan, dan baru bisa tidur jam 3 dini hari karena rasanya bahagia serasa mengalahkan rasa kantuk. Aneh nggak? Yah, pasti tahulah kalau yang sudah pernah suka sama orang terus ketemu orangnya.
Menurut Saya perasaan ini unik, dan Saya selalu ingat perasaan ini karena memang sangat jarang Saya rasakan selama hidup Saya. Haha. Usut punya usut, katanya perasaan aneh ini dipengaruhi tiga hormon. Yang pertama Dopamin. Inilah hormon yang katanya memicu rasa senang dan kecanduan, bawaannya pengen mengulang suasana-suasana bareng doi. Yang kedua Adrenalin. Yang katanya bikin deg-degan nggak karuan dan telapak tangan jadi berkeringat. Yang ketiga Serotonin yang bikin kantuk. Karena kadarnya yang turun ketika suka sama orang, rasa kantuknya jadi hilang deh.
Sebenernya Saya penasaran sih, siapa yang mulai dengan riset mengenai percintaan gini, soalnya seumur-umur Saya nggak pernah denger ada judul riset "The effect of hormone in the body on reaction of love." Entah lah, yang jelas Saya ngerasa ajaib saja, Tuhan menciptakan perasaan bernama suka atau cinta itu. Dan Saya pengen ngerasain rasa "salting" itu lagi, dan semoga saltingnya sama orang yang tepat. Ini kode banget nggak si? :)
Ah, rasanya jurusan psikologi lebih tau dibanding Saya mengenai hormon-hormon di atas, Saya mah taunya efek coating CMC ke kualitas tomat, hehe
Saya sedang futur semangat, dan rasanya butuh beberapa hormon di atas. #eh
Nb: Saya nggak mention siapa-siapa lho. Kalau ada yang ngerasa ya maap-maap. No offense cuy, cuma tetiba ingat aja lucunya salting sama kamu waktu itu. Baik-baik ya di sana, kamu :)
Komentar
Posting Komentar