Untuk Lelaki Paling Gentle; Bapakku

Bapak tidak banyak kata, lebih banyak diam, mendengarkan, tersenyum, tertawa atau hanya sekedar mengangguk.

Ada cerita sedikit. Dulu Aku pernah membuat Bapak menangis. Betapa bahagianya Aku. Dulu Aku siswa yang pas-pasan. Ranking tak pernah bagus, mentok hanya ranking lima. Pagi itu Aku sedang mengemut ice cream ku yang tinggal separo, menunggu Bapak keluar dari ruang pengambilan rapor. Dengan diam bapak menghampiriku, memberiku buku rapor, tersenyum, kemudian mengajakku pulang. Tidak ada yang tahu, hanya Aku dan Tuhan, Bapak menangis waktu itu. Aku terdiam, membuka raporku, dan semakin terdiam. Bingung, kenapa Bapak menangis ketika Aku mendapat rangking 1? Dan beberapa hari setelahnya Aku sadar arti air mata itu.

Diam-diam aku berdoa, semoga Aku semakin sering membuatnya menangis, namun menangis karena bahagia, menangis karena bangga.

Bapak adalah orang yang tidak banyak kata. Oleh karenanya ketika Bapak mulai berkata, maka yang keluar adalah mutiara, bukan sembarang kata.

Ibu bilang aku ini mirip sekali dengan Bapak, tinggi-tingginya sama, kurus-kurusnya sama, sampai hitam-hitamnya pun sama. Ah, bagaimana Bapak tidak hitam? Dulu waktu Bapak kecil, hampir seluruh harinya habis di luar rumah yang panas. Bukan, bukan untuk bermain, tapi bekerja. Bapak kecil dulu sudah gemar bekerja keras, mencari kayu bakar, berjualan, mengerjakan apa saja biar bisa makan dan menabung untuk sekolah. Pantas saja sampai detik inipun, Bapak selalu bekerja keras dari mulai matahari malu-malu sampai sang Bulan termangu, jauh malam sampai mungkin sang Bulan bosan melihat Bapakku bekerja.

Bapak bukan malaikat atau Rasul yang tidak pernah mengeluh. Bapak adalah manusia yang juga mengeluh. Lelah katanya. Tapi rasa-rasanya Bapak hanya mengatakan itu sebentar pada beberapa larutnya malam. Esoknya, Bapak sudah sumringah lagi, siap menyambut para pelanggan di toko.
 

Beberapa hari lalu, Kakak bilang Bapak sedang sakit. Bagaimana bisa Bapak sakit di saat anak-anaknya jauh dari rumah? Bagaimana bisa Aku tidur nyenyak dan makan enak di sini kalau tahu Bapak sakit nun jauh di sana. Maafkan karena lebih sering jauh darimu dari pada dekat denganmu di saat di mana seharusnya anakmu ini selalu di sampingmu. Mohon jangan sakit lagi. Aku pun berjanji akan menjaga kesehatan di perantauan ini, tidak saja untukku tapi untuk Bapak dan keluarga di rumah. Karena bagaimanapun, kita harus bertemu dengan bahagia di bulan Januari nanti.

Percayalah, nama Bapak ada dipundakku. Dengan bangga telah ku bawa menjelajah ke berbagai negeri. Jangan bangga dengan anakmu ini, banggalah pada Bapak sendiri karena pencapaian anakmu ini (sejauh ini) adalah karena kerja keras Bapak. Peluh dan doa yang tidak berhenti mengalir. Sampai saat sekarang ini, Bapak ada bersamaku di sini, di negeri gajah ini.

Namun jika anakmu ini pernah bikin malu, mohon jangan salahkan Bapak, sepenuhnya ini salah anakmu yang tidak mendengarkan nasihatmu. Karena secuilpun Bapak tidak pernah mengajariku hal yang salah.

Aku dedikasikan ungkapan sayang tak terhingga di hari Bapak untuk Bapakku di rumah. 

Bagiku, Bapak adalah lelaki paling tampan, paling gentle, paling keren, paling pengertian, dan paling dicinta.

Salam dan cinta yang tumpah ruah dari anakmu yang rindu setengah mati, kurang lebih 3000 km jarak raga ini, tapi 0 km jarak hati ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk