AKSI REAKSI
Dunia memang seperti ini,
tidak selamanya akan berjalan sesuai hukum Newton AKSI = REAKSI
Bukan berarti kalau kita bantu orang, otomatis orang itu juga bantuin kita.
Bukan berarti kalau kita mengkhawatirkan orang, otomatis orang itu juga mengkhawatirkan kita.
Bukan berarti kalau kita nanyain dia "sudah makan belum?", besoknya gantian dia yang nanyain kita "sudah makan belum?" "makan apa?"
Bukan berarti juga kalau kita sayang sama orang, lantas orang itu juga akan sayang sama kita.
Bukan berarti kalau kita berkorban untuk dia, lantas dia mau berkorban juga buat kita.
Bukan berarti kalau kita kangen dia, lantas dia nya kangen juga sama kita.
Duh, memang yah, dunia ini pahit kalau dipikir-pikir. Tidak fair.
Tapi tunggu dulu,
mungkin bukan dunia yang salah, tapi kita,
kita yang tergolong orang-orang yang terlalu banyak berpamrih ketika memberi,
mungkin kita memberi karena ingin diberi.
Lain jika, kita orang-orang yang melakukan segala sesuatunya tanpa pamrih, maka kita tidak akan pernah sibuk berharap mendapatkan yang (setidaknya) sama dengan apa yang telah kita beri.
Kita akan sibuk memikirkan orang lain yang tidak seberuntung kita dan membutuh bantuan kita, bukan justru sibuk dengan diri sendiri yang penuh harap dan kian gusar.
Mungkin senyum tak selamanya berbalas senyum,
mungkin uluran tangan tak selamanya berbalas uluran tangan,
namun yang jelas, AKSI itu sudah kita usahakan, kewajiban kita sebagai seorang manusia yang seyogyanya saling membantu, keharusan seorang manusia senantiasa berbuat baik dengan lingkungannya, dan kebutuhan batin kita untuk bahagia sudah tersalurkan,
masalah REAKSI?
Bukan hak kita lagi yang memikirkan hal itu, biar dunia yang menjawab.
Bisa jadi, REAKSI itu tak selamanya serupa AKSI, namun bentuk lain yang membuat AKSI < REAKSI.
tidak selamanya akan berjalan sesuai hukum Newton AKSI = REAKSI
Bukan berarti kalau kita bantu orang, otomatis orang itu juga bantuin kita.
Bukan berarti kalau kita mengkhawatirkan orang, otomatis orang itu juga mengkhawatirkan kita.
Bukan berarti kalau kita nanyain dia "sudah makan belum?", besoknya gantian dia yang nanyain kita "sudah makan belum?" "makan apa?"
Bukan berarti juga kalau kita sayang sama orang, lantas orang itu juga akan sayang sama kita.
Bukan berarti kalau kita berkorban untuk dia, lantas dia mau berkorban juga buat kita.
Bukan berarti kalau kita kangen dia, lantas dia nya kangen juga sama kita.
Duh, memang yah, dunia ini pahit kalau dipikir-pikir. Tidak fair.
Tapi tunggu dulu,
mungkin bukan dunia yang salah, tapi kita,
kita yang tergolong orang-orang yang terlalu banyak berpamrih ketika memberi,
mungkin kita memberi karena ingin diberi.
Lain jika, kita orang-orang yang melakukan segala sesuatunya tanpa pamrih, maka kita tidak akan pernah sibuk berharap mendapatkan yang (setidaknya) sama dengan apa yang telah kita beri.
Kita akan sibuk memikirkan orang lain yang tidak seberuntung kita dan membutuh bantuan kita, bukan justru sibuk dengan diri sendiri yang penuh harap dan kian gusar.
Mungkin senyum tak selamanya berbalas senyum,
mungkin uluran tangan tak selamanya berbalas uluran tangan,
namun yang jelas, AKSI itu sudah kita usahakan, kewajiban kita sebagai seorang manusia yang seyogyanya saling membantu, keharusan seorang manusia senantiasa berbuat baik dengan lingkungannya, dan kebutuhan batin kita untuk bahagia sudah tersalurkan,
masalah REAKSI?
Bukan hak kita lagi yang memikirkan hal itu, biar dunia yang menjawab.
Bisa jadi, REAKSI itu tak selamanya serupa AKSI, namun bentuk lain yang membuat AKSI < REAKSI.
"Jangan terlalu berfokus pada REAKSI, tanyakan dulu apakah kita benar-benar ber AKSI dengan hati."
photo was taken in Sydney, Australia

Komentar
Posting Komentar