Super Hero Masa Kini

Pasti kenal dong sama yang namanya Superman, Batman, Spiderman atau bahkan Pangeran Bertopeng? Figur yang lahir untuk menegakkan keadilan, menumpas kejahatan, yang siap menangkap di saat ada seorang nenek yang akan jatuh dari gedung, hap! Yang berlari dengan cepat untuk menyelamatkan seorang anak kecil dalam kebakaran, wush wush!

Pertanyaannya, pernahkah kita bertemu langsung dengan super hero ini dalam kehidupan nyata kita? Pernahkah kita menjadi saksi peristiwa heroic ini dengan mata kepala sendiri?
Saya iya. Tapi bukan mereka yang Saya lihat, melainkan keberanian mereka dalam diri seseorang, teman-teman Saya.

Weekend kemarin, kampus di mana Saya studi untuk exchange, mengadakan kegiatan Social engagement camp di Technic Dusit Border Patrol Police School, Huai Chompu. (Laporan perjalanan secara keseluruhan akan Saya ceritakan secara terpisah). Pesertanya adalah mahasiswa International dari berbagai negara seperti Indonesia, Malaysia, China, Sri Lanka, Myanmar, Bhutan, India, dan beberapa volunteer mahasiswa Thailand.

Selepas kegiatan teaching and playing dengan anak-anak lokal di sana, panitia mengajak kami bermain di sungai tidak jauh dari tempat camp kami. Waktu itu beberapa mahasiswa Indonesia termasuk Saya bersama mahasiswa dari China, India, dan Sri lanka kebetulan satu mobil. Kami tertawa, menari, dan bernyanyi sampai suara habis. Benar-benar bahagia rasanya.

Setibanya di sungai; Saya, Dila, Nia, Emily dan Sharon bergegas melepas sepatu dan mulai bermain di pinggiran sungai. Beberapa teman kami yang lain memanjat ke atas untuk bermain seluncur yang akhirnya kami ikuti juga. Kami berlima bersama beberapa teman yang lain meluncur dari atas ke bawah. Yang ada hanya tawa riang gembira di wajah kami berlima. Hingga akhirnya Saya melihat air sungai yang pelan-pelan berubah warna menjadi merah. Dan aliran darah segar mengalir dari kepala teman Saya, Emily. Kami berempat yang tadinya berpegangan tangan sontak mengerumuni Emily untuk mencari tahu apa yang terjadi dengannya. Rupanya setelah meluncur tadi, kepala Emily membentur batu dan pelipisnya terluka cukup dalam. Gadis yang beberapa saat yang lalu tertawa riang bersama sekarang hanya berdiri mematung sambil memegangi pelipisnya yang terus mengeluarkan darah. Yang bisa Saya lakukan saat itu hanya berteriak, memanggil dan melambaikan tangan ke teman-teman kami di pinggiran sungai. "Help, Help, Blood, Blood!" Saya berteriak.

Tiba-tiba seseorang datang, tidak berjubah dan tidak bertopeng. Dia hanya berpakaian kaos oblong warna abu-abu, celana basket merah, dan tanpa alas kaki. Tidak terbang, tapi berlari dari pinggir sungai ke tengah sungai di mana ada Emily yang hanya berdiri mematung, seseorang itu dengan cepat melepas kaosnya untuk menahan darah yang terus kelar. "Hold it on." katanya. "Can you walk?" sambungnya. Emily hanya diam. Orang itu dengan cepat mengangkat Emily dan membawanya ke pinggir sungai. Saya terdiam di tengah sungai karena dua hal. Satu, Saya shock atas apa yang terjadi dengan Emily. Yang kedua, Saya shock melihat aksi heroic itu dari teman Saya sendiri. Dialah sosok super hero pertama dalam insiden ini. Mujahid namanya yang biasa kami panggil Babe. (Kalau kebetulan lo baca ini, jangan salting ya. haha Lo emang biasanya nyebelin Hid tapi waktu itu lo gentlement abis!)

Sosok super hero kedua adalah P'Yo, panitia dalam camp ini yang mengarungi sungai dan mencari-cari kaca mata dan gelang Emily yang terlepas. Kembali Saya tertegun dengan keberanian kakak ini yang mau mengorbankan keselamatannya untuk mencari-cari di aliran sungai yang deras.

Sosok super hero ketiga adalah P'Tjiab, panitia dalam camp ini juga. Dengan sigap kakak cantik ini mencari kendaraan dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Entahlah, Saya kagum dengan ketanggapan dan gerak cepat kakak yang satu ini. Kakak inilah yang membawa dan menemani Emily ke rumah sakit yang cukup jauh letaknya dari camp kami yang di puncak bukit.

Pulang dari rumah sakit kami menyambut Emily, dan satu kalimat yang terus dia katakan adalah "Where is your friend? I want to meet him." Dan haru rasanya melihat Emily mengucapkan terima kasih yang begitu dalam kepada teman Saya dengan air mata yang mengalir.

Sekarang Emily sudah lebih baik, bengkak di matanya sudah berkurang. Sebelas jahitannya sudah mulai mengering, dan dia sudah mendapatkan kaca mata barunya. Yang tersisa sekarang adalah rasa kagum Saya dan peserta lain kepada para super heroes ini. Saya pribadi merasa sangat beruntung memiliki teman yang ringan tangan untuk membantu, peka dengan apa yang terjadi. Itulah lelaki gentle yang sebenarnya. Setidaknya menurut Saya. Maka Saya menolak keras kepada siapa saja yang berkata bahwa "Cowok yang baik kepada cewek adalah banci." Dan teman Saya itu tidaklah pantas disebut cowok, dia seorang pria. Good Job bro!

Semoga jiwa kepahlawanan seperti itu dapat Saya temukan dalam diri Saya sendiri, lebih-lebih semoga semakin banyak yang tersentuh dan berubah menjadi lebih baik karena kejadian ini.

"Bagi Saya, lelaki yang mulia bukanlah lelaki yang petentang petenteng, banyak omong tapi tak beresensi, sok keren dengan selalu mengeksklusifkan diri dengan gengnya, sok berdebat tanpa alasan yang jelas, dan selalu menutup diri dari setiap nasihat yang datang padanya. Lelaki yang mulia adalah yang dapat memuliakan perempuan, keluarganya, bertutur santun, berani berbuat baik, punya prinsip diri yang kuat, dan rela keluar dari kelompoknya demi menjadi lebih baik."




Beberapa menit sebelum kejadian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk