Membunuhnya

"Tak kutemukan cara selain membunuhmu. Hanya dengan membunuhmu, kau menjelma menjadi nyata..."



Kini aku harus kejam. Bukan pada hati yang lain. Tapi lebih kepada hati sendiri. "Ini tentang apa? Aku tak paham." tanyamu.
Tentang sebuah rasa yang datang bukan karena aku mau, tapi karena waktu. Yang pelan-pelan memberikan pembenaran setiap anakan perasaan yang tumbuh. Dan kini perasaan itu tumbuh subur karena Aku merawatnya dengan sangat baik, sedang kau (tanpa sengaja) memberinya pupuk.
"Tapi Aku sungguh tak bermaksud untuk itu!" sanggahmu cepat.
Memang, bukankah sudah kubilang, Akulah yang salah dalam hal ini.
"Lalu?" tanyamu lagi.
Aku akan membunuhnya, sebelum ia menjelma bagai monster. Karena aku tahu, hanya dengan ini, kau kembali nyata dalam hari-hariku. Kau kembali menjelma menjadi "kau" yang selama ini kukenal.
"Kau tak apa?" nadamu mengisyaratkan kekhawatiran.
Aku baik-baik saja. Dan aku akan lebih baik setelah membunuhnya.
Kau tersenyum dan rodapun kembali berjalan seperti sedia kala...

Karena ketika sebuah perasaan tumbuh tanpa kendali di saat yang tak tepat, maka berbijaksanalah membunuhnya, jika kau tidak ingin dia membunuhmu, nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk