Kita Berhak Memilih
Ah, Saya mah apa atuh ngomongin ini, S1 aja belum lulus, hehe
Tapi rasanya perlu juga untuk sekedar sharing. Yang nggak pengen baca, boleh lhoh geser dikit. :)
Belum seminggu sejak Saya tetiba kangen dengan kakak tingkat Saya di IPB. Waktu itu Saya sedang galau maksimal (kalau bahasa gaulnya). Mandek di asrama, mogok nggak ada semangat untuk nge-lab. Pengen pulang ke Indo, kangen keluarga dan temen-temen. Waktu itu semuanya tampak suram di depan mata Saya. Kemarinnya habis bolak-balik ngelab, terus dapat data jelek, eh sorenya dijutekin dan dimarahin teknisi di lab. Temen-temen sebangsa dan setanah air sibuk juga dengan riset masing-masing, beda lab dan beda kamar bikin Saya jadi susah ketemu mereka. Intinya mah yang Saya lihat ya semua yang jelek-jelek, Saya melihat semua hal yang terjadi nggak sesuai dengan harapan. Bahkan cuma dibilang "bego lo" sama temen aja bawaannya pengen nonjok, sensi maksimal.
Terus, kenapa Saya kangen dia? simpel, karena di depan Saya dan juga orang-orang di sekitar dia, kakak itu tidak pernah jutek, sedih, marah, bahkan nekukin wajah. Cerita sedikit, dulu Saya pernah satu tim dengan dia. Kalau Sayalah orang yang selalu mempertanyakan, "wait, emang bisa kak?" atau "sumpah! Bapaknya ngebetein banget sih! Nggak tau apa ini lagi butuh-butuhnya tanda tangan?!" maka dia adalah orang yang bisa dengan sabar menunggu tiga jam hanya untuk ngobrol sama orang selama lima menit. Dan Saya bisa bilang, pertemuan itu nggak bisa disebut solusi.
Menurut hemat Saya, orang yang hebat itu bukan orang yang kalau pengen marah dia akan marah, kalau pengen benci dia akan benci, kalau pengen sedih dia akan sedih, kalau pengen ngeluh dia akan ngeluh. Orang yang hebat itu ya orang yang mau memilih.
Saya seperti orang yang lama tak menyapa pagi itu nanya, "Kakak apa kabar?" dan berlanjut dengan deretan keluh kesah.
Dan dia menjawab, "Alhamdulillah sangat baik. Karena Kakak pilih bahagia tiap harinya. Sedihya ditahan aja. Tularkan semangat penuh manfaat ke orang disekelilingmu. Dengan semangat Ayend yang ceria nan sedikit alay itu.. upss. Maka Allah swt akan meringankan langkahmu adik sayang"
Simple sentence. Kakaknya aja mungkin sudah lupa pernah ngomong ini, tapi effeknya besar bagi Saya. Saya jadi ingat dulu diajari untuk membentuk senyum tiap pagi, gampang, cuma tarik ujung bibir ke samping beberapa centi sambil tarik nafas. Saya lupa saran itu belakangan ini, rasanya bahagia itu bukan pilihan.
Ok, kita memang pengen dan punya pilihan untuk sedih dan marah. Tapi coba deh dipikir, sesial itukah sampai tidak ada pilihan untuk bahagia?
Memang si, alasan untuk sedih itu mungkin banyak banget ya, tapi ingat tentang
1. Risetnya capek? Hey, Saya itu satu dari puluhan pendaftar yang akhirnya dapat diterima exchange ke Thailand lho. Gratis lagi. Saya bahkan sempat ditolak baru kemudian diterima. Masa iya nggak pilih semangat? Malu dong Saya sama tim penyeleksi.
2. Dijutekin orang? Hey, Saya punya Bapak, Ibu, Kakak, Adik di Indonesia yang sekalipun nggak pernah jutek, selalu peluk, cium, sayang tumpah ruah. Masa iya nggak pilih senyum? Malu dong sama keluarga di rumah.
3. Merasa nggak pede? Hey, Saya itu satu-satunya delegasi yang akhirnya mewakili Indonesia ke Ausi dari ratusan pendaftar yang lain dan ketemu orang hebat dari negara2 lain. Networking di mana-mana. Masa iya nggak pilih pede? Malu dong Saya sama mentor.
4. Punya temen yang nyebelin? Hey, Saya ini nggak inget apa sama sahabat-sahabat yang relain waktunya buat ketemu Saya di Jakarta ketika mau terbang ke Thailand? Bahagia nggak si punya sahabat kaya mereka? Ngapain juga milih mikirin yang nyebelin? Malu dong sama sahabat Saya.
5. Nggak tahu deh, bawaannya malas ngapa-ngapain, sendu gitu? Hey, STOP! Saya ini masih punya anggota badan yang lengkap, masih bisa makan apa yang Saya ingin makan, bisa pergi ke tempat yang Saya pengen, masih bisa shalat lima waktu sambil berdiri, dan banyak hal lain yang tidak sepatutnya diabaikan untuk buat Saya bahagia. Masa iya? Malu dong Saya sama Allah.
So, di tengah pilihan negatif yang menggiurkan, Saya akan memilih hal yang lebih baik, memilih bahagia. Karena memang kita berhak memilih perasaan apa yang akan kita semat di hari-hari kita. Kita berhak memilih untuk bahagia, mungkin tidak hanya untuk diri sendiri, tapi untuk orang-orang di sekitar kita yang berurusan dengan kita. Saya saja nggak sreg liat orang yang dikit-dikit marah, dikit-dikit ngeluh, masa iya Saya mau kaya gitu juga. Ok, selamat memilih untuk senyum dan bahagia, Saya dan Kakak yang menginspirasi itu (Kak Mila) sudah memilih untuk bahagia untuk hari-hari kita, kamu? :)
Komentar
Posting Komentar