Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Routers 14

Gambar
Routers, yang katanya lulusan Hogwarts . Awalnya satu RT. Sampai mikir, becanda nih kalau kita satu penempatan. Eh taunya malah satu kecamatan. Menjadi seorang perempuan diantara dua lelaki ini kadang ada senengnya, kadang ada sebelnya. Dua lelaki yang malah lebih rewel kalau masalah makanan, kebersihan, dan baju diskon. Jadi perempuan di antara mereka kadang aku jadi harus lebih logis dan tangguh, sebentar mengesampingkan sisi 'F' yang dominannya keterlaluan. Jadi perempuan diantara mereka sudah kebal dibilang cengeng, rapuh, lemah, penakut, walaupun nyatanya cuma di bibir aja. Nyatanya yang buatin bubur waktu meriang ya mereka ini, yang kirimin paket kebahagiaan berupa seamplop surat yang isinya penguatan ya mereka, yang stand bye pasang telinga kalau keluh kesah tiba-tiba harus tumpah ya mereka, yang nungguin Ayen di kamar sebelah sampai bener-bener tidur ya mereka ini. Maklum, Ayennya penakut. Dari mulai melewati dua jembatan putus, hujan-hujanan di puncak Indomie...

A Bowl of Happiness

Gambar
Walandawe, a village where I, as PM or voluntary teacher, teach and learn for a year. Walandawe village is one of 8 villages in Routa district, Konawe regency, province of South East Sulawesi, Indonesia. Not many local people here know where this name came from since some people still use the old name, Wiwirano. Some people said Walandawe came from word Landawe means colonizer because it was used for hiding from colonializm.  For me, walandawe seems like a bowl of happiness. Because it’s similar with a bowl in the middle of niche valley where you just can see a relief of green forest which are contrast with the blue sky. In the other side, people here can be described as happiness creator in the middle of limitation: signal, electricity, market, or clinic as simple as eating river snail or o’susu in local language mixed with MSG. Even the village is categorized as small with 40 families but the diversity here is high, shown from 4 tribes live together: Tolaki as the indige...

Working towards Sustainable Education in Indonesia

Gambar
*re-post from  http://blessed-to-give.org/teaching-to-create-happiness-in-indonesia/ Although some may say Ayendha has sacrificed a lot to teach in a remote village in Indonesia, she believes that the simplest acts can yield the best results. I’m a young Indonesian who has recently graduated from the Food Science and Technology Department in Bogor Agricultural University. Helping children is one of my greatest passions in life. On my 24th birthday, I was blessed with the opportunity from  Indonesia Mengajar  to work as a teacher in a far-off village called Walandawe, in a remote area in South East Celebes, Indonesia. Although it still forms part of the same country, Walandawe is incredibly different from the Indonesian village I was raised in. The language, landscape, social codes and ethnicity of the people are all very different to what I’m used to. The village is very small, home to only 4o families, and, since there is...

Prosa 3 : Merdeka di Tanah Merah

Gambar
Perayaan Kemerdekaan merupakan momen yang selalu ditunggu oleh semua warga kecamatan Routa. Tidak terkecuali kami bertiga, para Pengajar Muda di kecamatan ini. Nyatanya, ini adalah ajang berkumpulnya semua warga dari 7 desa dan 1 kelurahan sekaligus ajang unjuk gigi, menunjukkan desa mana yang berhak menjadi the cream of the cream. Sebelumnya, perayaan ini walaupun diikuti oleh semua warga desa dari anak-anak sampai orang tua, perlombaan hanya diperuntukkan untuk orang dewasa saja. Anak-anak biasanya hanya datang menonton bersama orang tuanya. Namun ada rona berbeda ketika pengajar muda hadir. Tepatnya setelah Pengajar Muda XII kecamatan Routa ikut ambil bagian, terwujudlah ajang perlombaan yang ikut dimeriahkan oleh anak-anak. Berbagai cabang diperlombakan. Nah tahun ini, pengajar muda XIV kecamatan Routa pun ikut memberikan rona baru. Setelah terlebih dahulu mengutaran beberapa ide dengan Pak Halim sebagai camat Routa, Alhamdulillah setiap langkah berjalan lancar. Usulan kami d...

Prosa 2 : Pukul Saja Anak Saya Bu

Gambar
Apakah saya bisa menjadi guru yang baik?   Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala saya. Hari itu belum genap seminggu saya menjadi Bu Guru. Layaknya dalam sebuah hubungan sepasang kekasih, masa-masa sulit adalah saat ini. Masa-masa saling mengenal, mencoba lalu gagal, dan memulai lagi. PDKT namanya. Apa yang dia suka? apa yang dia benci? Murid saya tidak banyak memang, 11 anak untuk tiga rombongan belajar (IV, V dan VI) namun setiap mereka memiliki karakter yang berbeda. Bukan hal yang mudah untuk menertibkan kesebelasan dengan sebelas karakter berbeda ini. Kebiasaan mereka yang ringan tangan bahkan untuk sekedar berbicara dengan temannya, bersungut-sungut sambil diam di pojokan sebagai arti ‘Saya tidak mau Bu’ atau mengeluh jika perhatian saya lebih pada yang lain, cukup membuat saya mengucap istighfar berkali-kali.  Siang itu seusai kelas, tiga murid saya sedang berlatih menari untuk perayaan hari anak. Di tengah-tengah latihan salah satu ...

Prosa 1 : Cindelaras di Hari Anak

Gambar
“Menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga...” Potongan lagu itu ibarat menjadi original soundtrack kisah cinta saya dengan mereka . Minggu itu minggu pertama saya mengajar secara resmi sebagai guru di satu-satunya SD di sebuah desa yang tak terjamah modernisasi, Walandawe namanya. Murid saya ada sebelas, terdiri dari 5 anak di kelas IV, 1 anak di kelas   V dan 5 anak di kelas VI. Semuanya dalam satu kelas, dengan satu papan tulis dan satu guru, yaitu saya.  Ceritanya pada saat itu saya sedang semangat-semangatnya, atau mungkin sedang keras kepala, ingin membuat ‘sesuatu’ di hari anak yang akan segera datang. Alasannya klise, anak-anak di desa saya pun berhak merayakan, seperti halnya anak-anak lain yang hidup di kota dan lebih beruntung dari mereka. Saya merasa tidak terima. Jika tahun lalu saya ikut merayakan hari anak di Jakarta, tahun ini pun saya harus ikut merayakan, tentunya bersama murid-murid saya di desa, beribu mil jauhnya d...

DARI KOTA BATIK KE TANAH ANOA (Part 2)

Gambar
Ditulis oleh Ayendha – Pengajar Muda XIV – Konawe, Sultra Part 1 : Pre Deployment, dari CPM menjadi PM “Perjuangan tanpa persiapan seperti layaknya pergi perang tanpa senjata di tangan.”  15 Mei 2017 , bendera merah putih terbentang di atas kepala kami. Adalah lagu Padamu Negeri tersulit untuk dinyanyikan, kala itu. Di mana setiap baitnya tidak pernah lengkap dialunkan karena isak tangis yg menderu mengiringi. Saya dan ke 41 kawan seperjuangan lain akhirnya bukan lagi disebut calon. Bukan lagi memilih tapi siap mengabdi. Di jantung hutan Burangrang yang menjadi saksi, kami resmi menjadi Bapak dan Ibu guru yg tinggal menghitung hari lagi di deploy ke 6 sudut sunyi negeri ini: Musi Rawas, Hulu Sungai Selatan, Yapen, Sabu Raijua, Maluku Barat Daya dan Konawe. 30 Juni 2017, 10.25 WITA di tengah serangan nyamuk dan agas, menjelang genset yg akan padam, di sebuah sudut desa yg tak terjamah modernisasi, saya mencoba mengenang 6 Minggu yg luar bia...