Life at Ashoka
Sebelum mulai membuka lembaran-lembaran baru kehidupan di 2023, aku ingin merayakan sesuatu dulu: proses pendewasaanku selama 4,5 tahun ke belakang bersama Ashoka. Teman-teman dekatku sering ikut terkagum-kagum bagaimana bisa aku yang gampang bosan ini bertahan di kantor yang sama selama hampir lima tahun, di saat mereka sudah pindah ke dua atau tiga tempat berbeda. Sampai-sampai salah satu temanku bilang, "Lama-lama nama belakang kamu ganti jadi Ayendha Ashoka." 🤣
Tidak selalu nyaman untuk menceritakan domain kehidupan yang satu ini (pekerjaan) secara blak-blakan. Namun sepertinya tidak ada salahnya berbagi refleksi di hari ini, untuk setidaknya mengingatkan diriku sendiri bagaimana aku berproses di Ashoka.
Aku masih ingat dengan jelas bagaimana bersyukurnya aku di hari pertama bergabung sebagai tim di bulan Juli 2018. Aku yang saat itu masih sering punya sindrom impostor tidak percaya kalau aku yang kemampuan Bahasa Inggris nya pas-pasan, tidak punya latar belakang di bidang Social Entrepreneurship (Kewirausahaan Sosial) dan minim pengalaman kerja ini bisa diterima. Belum lagi saat wawancara demi wawancara itu aku berkali-kali meminta pergantian jadwal karena saat itu aku masih menjalankan peran sebagai Pengajar Muda di desa yang tanpa sinyal. Beberapa hari setelah bergabung, aku langsung menyadari betapa besar PR ku agar bisa thrive di Ashoka dengan kondisi dasarku saat itu yang minim pengetahuan dan pengalaman.
Mental yang aku bangun di tahun pertama bergabung adalah belajar. Jadi kalau harus terbentur, terbentur dan terbentur ya tidak apa-apa karena aku yakin akan sampai masanya aku terbentuk. Walaupun sebenarnya sampai sekarang proses belajar itu terus berlanjut, tapi proses belajar di tahun pertama itu memang yang paling berat. Di tengah lingkungan baru yang segalanya cepat dan berkembang, dibombardir dengan obrolan-obrolan berat seputar inovasi sosial, perubahan paradigma, kepemimpinan baru, dan dampak sosial, hingga dikelilingi oleh tokoh-tokoh besar dan berdampak global, aku terengah-engah untuk mengikuti. Aku harus berjibaku dengan diriku yang tidak percaya diri, suka mengeluh, kekanak-kanakan dan ngeselin. Aku yang sehari-hari merasa kecil, bodoh, tidak berarti dan tidak berdaya. Sampai kalau diingat kembali, aku sering malu sendiri mengakuinya. 🤣
Jadi sekarang bersyukur, aku dapat perlahan-lahan berubah jadi pribadi yang lebih damai, kenal diri, berani, dewasa dan (semoga) enggak ngeselin lagi, seiring berjalannya waktu :')
Perubahan yang cukup signifikan itu tentunya tidak lepas dari berbagai tempaan yang aku alami di Ashoka, karena seperti halnya di tempat lain, pekerjaan ini pun tidak melulu penuh bunga, madu dan pelangi setiap hari. Sering kali aku merasa ingin menyerah dan menghilang saja. Namun karena aku tahu orang-orang di Ashoka sedang memperjuangkan nilai-nilai yang sejalan dengan nilai-nilai hidupku yaitu untuk memampukan sebanyak mungkin orang menjadi changemakers, aku memilih bertahan dan tanpa terasa sampai selama ini!
Melacak kembali peranku di Ashoka yang berkembang dari seorang Program Associate saat pertama bergabung yang tugasnya melakukan hampir semua hal, menjadi Program Lead untuk Venture & Fellowship, Mentor Lead untuk Program Saya Pembaharu, Country Coordinator untuk Program Changemaking Journey dan DIWA (Deepening Impact for Woman Activators) hingga sekarang menjadi Program Lead untuk DIWA, aku merasa perlu berterima kasih kepada Ashoka dan seisinya karena sudah jadi tempat bertumbuh yang kaya dan penuh warna. 💌
Sejak bergabung di tahun 2018, Alhamdulillah tahun lalu lebih banyak kebahagiaan, kedamaian dan kesyukuran yang aku rasakan di Ashoka. Doaku semoga di 2023 ini baik aku dan Ashoka bisa terus tumbuh dan menumbuhkan, dan menciptakan lebih banyak manfaat untuk sesama. 📣
Beberapa jejak dari tahun 2022 di Ashoka:



.jpeg)

Komentar
Posting Komentar