Manusia Seutuhnya
Satu dari banyak kesyukuran setahun kebelakang adalah kesempatan untuk bisa membawa diri yang utuh di pelbagai situasi. Hal ini pula yang aku harap bisa terus dibudayakan olehku dan lingkunganku di setahun mendatang. Perenungan ini hadir setelah sesi ngobrol dengan seorang teman yang ternyata sedang terpaksa berkompromi dengan dirinya sendiri setiap hari. Mendengarnya bercerita, membawaku kembali ke masa di mana aku pernah merasa hal yang sama.
Dari kaca mataku, manusia sebagai makhluk yang terbentuk dari beragam persona, sungguh cakap dalam beradaptasi demi mendapatkan rasa aman dan diterima di lingkungannya. Kita pandai memilah mana bagian diri yang harus ditunjukkan lebih dominan dari bagian diri yang lain, mana bagian yang harus ditutup rapat-rapat demi menjaga suatu image atau citra diri. Karena hal itu, kita diterima, kita terlihat sama dan 'cocok' dengan lingkungan kita, walaupun mungkin ada harga yang harus dibayar, yang seringnya hanya cuma bisa dirasakan oleh diri sendiri, bukan orang lain.
Aku coba berefleksi dari pengalaman sendiri. Ketidakmampuanku untuk membawa diri sebagai pribadi yang utuh di sebuah lingkungan, membuatku merasa lelah dan kecewa yang tidak berkesudahan. Aku sibuk bergonta-ganti kulit dan terpaksa mengkompromikan pemenuhan kebutuhanku sendiri yang sayangnya orang lain tidak ketahui. Aku selalu merasa tidak maksimal mengerjakan satu peran dan ujung-ujungnya membandingkan diri dengan orang lain. Setelah kupikir-pikir, itu semua terjadi kemungkinan besar karena aku sendirilah yang tidak mengizinkan diriku tampil dan terlibat sebagai aku seutuhnya. Contoh paling mudah adalah pada konteks pekerjaan. Di tempat kerja, aku adalah seorang anggota tim, seorang staf, dengan tanggung jawab yang disepekati bersama. Titik. Aku tanpa sadar melupakan bagian diriku yang lain dengan tanggung jawabnya masing-masing: aku yang seorang hamba Allah SWT, anak dari kedua orang tuaku, teman dari teman-temanku, anggota dari komunitas XYZ, dan aku yang butuh memunuhi kebutuhanku sendiri sebagai seorang individu. Sayangnya pemahaman itu tidak bisa didekte oleh orang lain, tapi pertama kali datang dari diri sendiri, sebelum kemudian dikomunikasikan dan diperjuangkan kepada orang-orang sekitar.
Hingga pada akhirnya, rasa aman di lingkungan di mana kita bisa menjadi manusia seutuhnya itu hanya bisa terwujud jika diupayakan oleh kedua pihak: diri sendiri dan lingkungan. Diri kita punya tanggung jawab mengenali diri sebagai pribadi yang utuh. "Siapa aku sebenarnya? apa peran-peran yang aku mainkan di hidup ini? apa kebutuhanku untuk setiap peran itu? apa batasan-batasan yang aku ingin orang lain hargai agar aku bisa menjalankan peran-peran itu dengan sama baiknya?"
Setelah pemahaman itu didapat, saatnya let the world know! Biarkan dunia tahu peran-peran ganda yang kita punya. Sehingga lingkungan kita pun mengakui keutuhan diri kita sebagai individu dengan beragam peran dan tanggung jawab yang melekat. Sehingga hubungan yang muncul tidak sebatas di cangkangnya saja tapi bisa lebih dalam terhubung sebagai sesama manusia seutuhnya. Sehingga jika kemudian kita merasa sebuah hubungan profesional terasa memenjarakan, ingatkan diri dan orang-orang sekitar bahwa kita punya batasan agar bisa memainkan peran lain di luar itu dengan sama baiknya.
Kesadaran akan peran berlapis-lapis ini semoga juga dibarengi dengan kesadaran menjaga kepercayaan. Bahwa setiap peran menuntut tanggungjawab yang harus ditunaikan.
Memasuki tahun yang baru, peran-peran apa nih yang sedang atau akan segera kamu mainkan?
Komentar
Posting Komentar