Dear 2022. Part 2: Juli - Desember
Dear 2022. Hari ini pasti kamu sedang sibuk dengan segala transisi. Bagaimana? Sudah berapa banyak cerita yang kamu himpun? Di tengah kesibukanmu itu, kuharap kamu masih punya waktu sejenak untuk mendengarkan kelanjutan ceritaku kemarin. Kali ini saatnya kita mengilas balik momen-momen bersama di bulan Juli hingga hari-hari terakhir kita bersama.
Setelah diingat-ingat kembali, ternyata sudah banyak sekali hal yang kita lalu bersama di enam bulan pertama. Anehnya semua terasa begitu cepat ya. Apa mungkin karena saat itu kita terlalu sibuk untuk duduk mengobrol berdua seperti ini merayakan pencapaian-pencapaian? Satu dari banyak pencapaian itu tentu saja saat kita berhasil menyelesaikan amanah mendampingi adik-adik di Jember memulai gerakan sosialnya berupa kantin sehat dan beragam. Walau amanah itu singkat, tapi aku bersyukur bisa menikmati setiap menitnya dan pastinya meninggalkan rindu saat harus menyudahinya.
Namun, life goes on. Mari kita menyelami masa-masa kita di semester kedua. Di bulan Juli ini aku mulai menancapkan niat untuk mempelajari seluk beluk gerakan sosial lebih dalam. Seperti pepatah bilang, jika ada kemauan pasti ada jalan. Saat ada niatpun, banyak kesempatan untuk belajar berdatangan. Awalnya iseng ikutan sesi belajarnya YSEALI Learn, eh ternyata keterusan dan tidak menyangka selesai juga mengikuti sampai akhir. Di sesi belajar kali ini, aku banyak memahami studi kasus aplikasi pelibatan masyarakat di berbagai negara dan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan saat mulai melibatkan aktor-aktor lokal. Masa-masa belajar itu tentu saja tidak mudah. Aku dan peserta lainnya di Asia Tenggara harus berjibaku melawan rasa lelah dan harus tetap aktif berdikusi hingga presentasi. Tidak hanya itu, atas kebaikan timku di Dampak Sosial Indonesia (DSI), aku pun mendapat kesempatan untuk ikut belajar tentang Manajemen Komunitas selama tiga hari di Kampong Rama-Rama. Merasa pas banget karena sudah lama ingin belajar tentang topik ini. Di kesempatan ini pula tanpa disangka aku dipertemukan dengan putri dari almarhum guruku. Allah sungguh tahu bahwa ada yang aku perlu sampaikan kepada keluarga beliau :')
Berlanjut ke bulan Agustus, di mana satu lagi amanah besar akhirnya terselesaikan juga. Masih terasa betapa amanah ini membuatku berkali-kali ingin menyerah karena kami dihadapkan pada target yang besar dengan waktu yang sangat-sangat terbatas. Berkali-kali merasa gagal karena tidak bisa memimpin tim dengan baik dan memberikan hasil yang diinginkan, namun pertolongan Allah memang selalu datang di saat yang tepat. Di saat-saat berpasrah itulah, bertubi-tubi pertolongan mendekat tanpa harus melakukan upaya yang besar. Pada masa-masa transisi ini pun, aku mulai punya waktu lebih banyak untuk memikirkan isu-isu genting di sekitar. Sampah makanan adalah salah satunya. Aku yang dari kecil diajarkan untuk menghargai makanan, merasa sedih setiap melihat banyak sekali makanan layak yang harus berakhir di tong sampah. Lebih parahnya lagi jika tercampur dengan sampah-sampah lain dan menimbulkan risiko-risiko bahaya yang besar. Dengan semangat 'memulai sesuatu' itulah aku memutuskan mendaftar Forum Indonesia Muda (FIM), walaupun butuh berulang-ulang kali meyakinkan diri karena usia yang tidak lagi muda. Tapi kamu kembali mengingatkanku bahwa niat baik harus diperjuangkan. Selama proses seleksi, yang ternyata cukup panjang itu, Allah kembali beri aku ruang-ruang baru untuk belajar sesuai yang aku butuhkan. Salah satunya melalui Faith Inspired Changemaking Initiatiative (FICI) Masterclass, lokakarya yang diadakan Ashoka untuk para pemuka lintas agama membahas isu lingkungan. Sungguh bahagia ketika di lokakarya tersebut, banyak komunitas yang ternyata juga punya keresahan yang sama di isu sampah makanan yang bahkan sudah memulai gerakannya sejak lama. Ada yang membuat kompos, eco-enzyme dan maggot. "Wah, saatnya ideku menemukan jalannya!"
Memasuki bulan September, aku mulai lebih punya banyak waktu mengeksplorasi hal-hal baru setelah satu per satu amanah tertunaikan. Keluangan waktu itu aku gunakan untuk mulai mengecek kesehatan keuangan dan merencanakan target-target di masa depan. Karena keluangan itu pula aku bersyukur masih bisa membersamai kakakku sekeluarga dan dua teman baikku di hari-hari menjelang keberangkatan mereka ke Inggris. Menyaksikan perjuangan mereka untuk berhasil berangkat membuatku bangga banget saat ikut mengantar ke bandara. Karena satu dan lain hal, di bulan ini pula lah, aku kembali hidup jauh dari keluarga. Yang ini lebih menantang karena harus tinggal dan mengurus rumah sendiri. Tapi aku sambut juga dengan rasa semangat, "Asyik, kesempatan belajar untuk lebih mandiri dan pastinya punya ruang untuk eksplorasi."
Di bulan Oktober, bulannya Sumpah Pemuda, Allah beri aku ruang baru untuk belajar dan bertumbuh: aku lolos FIM 24! Mungkin kamu tidak tahu, tapi aku sungguh bahagia dinyatakan lolos seleksi meningat proses seleksinya yang serius dan intens. Pelatihan Nasional (Pelatnas) selama lima hari itu membuka banyak perspektif dan pemaknaan baru terhadap hidup dan kontribusi. Sesegara mungkin aku akan ceritakan lebih banyak ya, yang pasti aku mengamini apa yang dibilang salah satu alumni bahwa FIM adalah sebuah rasa syukur yang tiada habis-habisnya.
Masih dengan semangat kepemudaan, November kita dibuka dengan pelaksanaan Ashoka Young Changemaker (AYC) Retreat di Jogja. Semua tentang retreat ini menyenangkan, banyak kejutan, dan terasa aman untuk berkembang. Akupun bersyukur diberi kesempatan untuk ikut memfasilitasi sesi mencapai tujuan yang diimpikan bersama. Rasa hangat bulan November ini pun ditutup dengan kesempatan mencicipi masakan Ibu di rumah hingga ikut mempersiapkan project peluncuran buku hasil kerjasama Ashoka bersama Room to Read.
Lalu sampailah kita di bulan Desember, bulan yang lebih banyak diisi dengan rasa bahagia dan syukur: menikmati beragam kejutan di komunitas FIM, meluangkan waktu-waktu khusus untuk mengikuti coaching yang banyak membahas tentang menjaga kestabilan emosi, melaksanakan project pribadi bernama Petualangan Pangan (walau dengan segala naik turunya), hingga menghabiskan waktu ikut konsinyering tim Ashoka Indonesia yang isinya banyak berpikir, tertawa, makan, menyanyi, berenang dan berkreasi bersama. Akhir bulan yang juga akhir tahun ini pun ditutup dengan menyambut amanah baru yang sepertinya tidak kalah seru dan kaya pembelajaran seperti di tahun 2022.
Sebelum benar-benar pergi, aku hanya ingin menyampaikan bahwa 2022 untukku pribadi adalah tentang Connection (keterhubungan), Peace (kedamaian) dan Growth (pertumbuhan). Terima kasih sudah menjadi teman bertumbuh yang berani dan menyenangkan, wahai 2022.


Komentar
Posting Komentar