Mengalibrasi Niat

Beberapa hari yang lalu, seorang teman berbagi refleksinya, "Aku khawatir, jangan-jangan aku melakukan ini semua bukan karena Allah, tapi diri sendiri."

Tidak lama setelah itu,  satu pesan yang aku dapat dari intro email-nya AAplus menyampaikan hal yang senada:


Di awal tahun seperti ini, di mana banyak hal-hal baru ditargetkan, harapan-harapan baik dipanjatkan, aku melihat pesan-pesan tadi datang sebagai sebuah alarm untukku untuk menjawab sebuah pertanyaan dasar: Sebenarnya deretan target-target itu aku lakukan untuk apa?

Padahal segala sesuatu itu tergantung niat dan tujuan. Padahal tanpa diniatkan untuk Allah semata, semua jadi tidak ada artinya.

Ngeri membayangkan saat sudah susah payah bekerja di dunia, rela berlelah-lelah sampai mengorbankan banyak hal lain, tapi di akhirat nanti sia-sia karena ternyata niatku selama ini entah apa. Bukan karena mengharap ridho Allah tapi karena ingin memberi makan ego sendiri. Ego untuk bisa dipandang karena jabatan atau kesenangan-kesenangan lainnya di dunia. Naudzubillah min dzalik, semoga Allah melindungi kita dari hal-hal buruk tersebut.

Belum lagi kalau ditelusur dari bangun tidur hingga kembali tidur, berapa banyak ya aktivitas yang sudah aku lakukan sebenarnya diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT? Termasuk saat menulis ini, apakah aku melakukannya untukNya? Atau untuk siapa?

Aku jadi merasa tertampar. :')

Tapi kemudian sebagian diriku protes, "Lalu bagaimana caranya selalu menjaga niat agar lurus karena Allah? Kan niat itu di hati, enggak terlihat."

Karena hati tidak seperti timbangan yang selalu bisa kita kalibrasi kapanpun kita mau, semoga dengan terus membaca Bismillah, dengan menyebut nama Allah, di setiap aktivitas, sekecil apapun itu, kita jadi ingat untuk selalu melibatkan Allah. Dengan Bismillah itu, yang meskipun mungkin terasa otomatis saja, Allah melembutkan hati kita agar selalu bisa menengok niat-niat yang tersembunyi, menyucikan dari residu niat-niat yang menyimpang karena pada akhirnya cuma Dia yang paling mengetahui apa yang ada di dasar hati dan Dia-lah yang menilai seberapa lurus niat itu.

Sungguh aku merasa ini tidak mudah. Tapi semoga dengan refleksi singkat ini, Allah menjagaku dan teman-teman semua agar bisa senantiasa memiliki Qalbun salim, hati yang sehat, bersih, dan selamat. Semoga dengan mengalibrasi niat setiap saat, walau nantinya melalui jalan yang terjal, penuh kerikil dan duri, dan membuat kita jatuh berkali-kali, niat lurus karena Allah itu membuat kita tetap bertahan dan terus berprasangka baik, bahwa semua yang dilakukan untuk Allah tidak pernah sia-sia.

Barusan iseng cek di YouTube, ustadz Adi Hidayat pernah mengulas rahasia di balik Bismillah di sini. Aku belum tonton, tapi mungkin bisa membantu siapapun yang sedang kesulitan mengalibrasi niat, sepertiku saat ini.

Bismillah, ya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk