Gaya Kepemimpinan
Ternyata tidak cuma berpakaian. Memimpun pun ada gayanya.
Beberapa hari lalu, di sebuah forum pencalonan pemimpin komunitas, saya ditanya begini, "Gaya kepemimpinan seperti apa yang kamu miliki?"
Wah menarik!
Setelah mengalami beragam pengalaman memimpin dan dipimpin, aku jadi tergelitik berefleksi lebih dalam mengenai gaya kepemimpinan yang 'aku' banget. Walaupun aku tetap percaya tidak ada satu gaya yang cocok untuk semua. Namun dari kajian Ustadz Adi Hidayat tadi pagi, ada resep utama yang perlu diingat oleh setiap pemimpin. Pemimpin yang sukses itu dekat dengan Allah dan ini dengan mudah tercermin dari bagaimana dia memimpin dirinya. Kata Beliau lagi, kondisi kepemimpinan umat cerminan dari kualitas diri pemimpinnya. Kalau kepemimpinannya ngawur, bisa jadi ada hal yang harus dibenahi terlebih dahulu dari pemimpinnya. Kalau begini, betul apa yang salah seorang katakan, "Pemimpin itu sudah selesai dengan dirinya sendiri." Dia menguasai kemampuan untuk memimpin dirinya sendiri di pelbagai situasi, sebelum punya ruang dan kapasitas untuk bisa memimpin umat.
Kalau kata Pak Riyanto, pembina Karya Ilmiah Remaya (KIR) saat aku pertama kalinya menjabat jadi Ketua Organisasi di SMA, "Pemimpin itu mampu merangkul ke atas, bawah, dan kanan-kiri." Beliau berpesan bahwa seorang pemimpin harus bisa menjadi jembatan untuk orang-orang yang memiliki kekuasaan lebih tinggi (konteks saat itu guru dan Kepala Sekolah), dengan tim internal, dan dengan mitra sesama organisasi dalam atau luar kampus. Intinya seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan komunikasi yang positif dan aktif ke segala arah.
Dari pengalaman mengikuti G(irls)20 Summit di Sydney tahun 2014, di mana aku bertemu dengan 23 pemimpin perempuan dari negara G20, aku mendapat pembelajaran yang juga tidak kalah menarik. Salah satu mentor kami bilang, "Leaders selectively show their vulnerability to allow approachability." (Pemimpin mampu secara selektif menampakkan kelemahannya agar orang-orang mau mendekat kepadanya). Menurutku ini sebuah narasi yang segar, karena sebelumnya narasi-narasi yang aku dengar adalah pemimpin itu harus kuat, tidak boleh terlihat lemah, apalagi dengan sengaja memperlihatkan kelemahan. Kalau dipikir-pikir, ya betul juga. Jika aku di posisi seseorang yang dipimpin, tentu aku berharap memiliki pemimpin yang seorang manusia seutuhnya.
Dan banyak lagi penyadaran-penyadaran lain yang aku dapat selama ini.
Dari semua itu, sepertinya aku cukup untuk menjawab pertanyaan di awal tadi, bahwa aku ingin memimpin dengan gaya yang 1) mengapresiasi keutuhan (kita manusia dengan peran-peran ganda, kita manusia yang punya masa lalu), 2) menghargai proses sama pentingnya dengan hasil, dan 3) memungkinan kolaborasi dari pada kompetisi. Gaya yang mungkin bisa saja tidak cocok untuk semua orang dan semua tempat. Gaya yang mungkin berbeda dengan pemimpin yang lain.
Kalau kamu, gaya kepimpinan seperti apa yang 'kamu banget'?
#Day25
Foto saat memimpin komunitas "We are Siblings" bersama UNICEF

Komentar
Posting Komentar