Jurus Menghadapi Pedasnya Kalimat Netizen


Apa kalimat paling menyakitkan atau bikin kesel yang pernah kamu dengar? Aku mau berbagi beberapa di sini. Kalimat-kalimat yang masih segar di ingatan, walaupun didengar sudah bertahun-tahun yang lalu. Tidak cuma kalimatnya, tapi bahkan masih ingat dari siapa, dalam keadaan seperti apa dan perasaan-perasaan setelahnya. Aku minta maaf dulu di awal jika mungkin ada kalimat-kalimat ini yang memicu emosimu.

"Tidak semua orang cocok dengan pekerjaan ini, aku liat kamu termasuk yang tidak cocok."

"Aku baru sadar ternyata warna kulitmu itu gelap dan enggak rata ya."

"Jangan pakai hitam, nanti kamu yang sudah hitam makin enggak keliatan."

"Yaampun buluk banget, mana ada cowok yang mau."

"Anaknya kerempeng banget Pak kayak triplek," seseorang mengatakan ini kepada Bapakku.

"Ada kesempatan buat ikut mentoring nih. Tapi dalam Bahasa Inggris. Kamu enggak papa? Takutnya kamu kesulitan."

"Kamu sekarang umurnya berapa sih? Coba deh kamu lihat x, dia loh lima tahun lebih muda dari kamu tapi sudah banyak yang dia capai."

"Aku bingung lihat kamu. Hidupmu kaya enggak jelas mau kemana. Orang-orang di usia kamu udah pada punya anak, karirnya jelas, punya bisnis, sudah S2."

"Jadinya X aja deh yang memandu, dia lebih terkenal dan menarik biar live kita banyak yang lihat."

"Bilangin tuh ke Ayen, perawatan, kan udah kerja dan punya tabungan. Nanti enggak ada yang mau loh."

Sebentar, aku tarif napas dulu. Tidak mudah membahas ini di sini :)

Oke, mari kita proses. 

Hari ini entah kenapa terpikir untuk menulis ini. Mungkin terpicu karena dengar kajian yang membahas topik tentang memaafkan dan self-love. Salah satu pilar dalam mencintai diri adalah merelakan beban-beban tidak penting yang malah menghalangi diri kembali pada fitrah kita: bersyukur dan terus memperbaiki diri untukNya. Ibarat orang bepergian, makin banyak beban, makin berat. Aku merasa kalimat-kalimat yang aku pernah dengar tadi masih jadi beban dalam hidupku. Yang bagiku terasa seperti merendahkan atau menghinakan, sampai-sampai membuatku merasa kurang dan tidak berharga.

Aku tidak berniat membahas siapa dan apa tujuan di baliknya. Beberapa mungkin memang berniat bercanda atau mencairkan suasana. Beberapa mungkin memang tulus memberi saran atau membantu sesama teman. Aku lebih tertarik membedah responku pribadi dan apa yang bisa diantisipasi agar perasaan sakit hati itu tidak perlu datang lagi. Karena kalimat-kalimat seperti itu akan terus berdatangan selama bumi masih berputar. 

Sekarang yang lebih penting adalah memikirkan: mentalitas dan pola pikir seperti apa yang perlu dibangun?

Pertama, aku rasa sangat penting untukku melatih otor syukur agar tidak mudah meleyot ketika dapat gempuran kalimat-kalimat seperti di atas. Mari latihan. "Iya deh, kulitku memang hitam dan warnanya enggak rata, tapi alhamdulillah itu artinya aku masih punya kulit. Aku punya tubuh yang utuh dan berfungsi dengan baik. Aku menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa terganggu warna kulitku." 

Kedua, melihat sisi positif dan berprasangka baik kepada yang menyampaikan. Bisa jadi memang niatnya ingin memotivasi agar aku jadi pribadi yang lebih baik. "Wah Bahasa Inggrisku belum lancar ya? Jadi perlu aku lancarkan lagi nih agar tidak kesulitan dalam berkomunikasi."

Ketiga, mengambilnya sebagai pelajaran agar lebih berhati-hati dalam berucap, "Oh kalau kalimat-kalimat seperti itu ternyata bisa buat aku baper (bawa perasaan), berarti aku perlu hati-hati, khawatir kalimatku menyinggung perasaan orang yang aku ajak bicara."

Terakhir, menyerahkan tugas penilaian kepada Dia, Sang Pencipta. Satu-satunya yang berhak menilai dan mengadili ciptaanNya: aku, kamu dan semua manusia. Tugasku hanyalah terus menerus memperbaiki diri. Pilah dan pilih komentar orang. Ambil yang memberi manfaat untuk dunia dan akhirat, lalu abaikan saja yang tidak. 

Begitu saja. Besok-besok kalau dapat serangan lalu mulai oleng dan baper lagi, buru-buru baca ini biar bisa balas dengan senyum lima senti. 

Ini aslinya senyum di tengah terpaan angin muson, bukan karena terpaan kalimat pedas netizen.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk