Dear 2022. Part 1: Januari - Juni.
Dear 2022, sebelum kamu kembali pada Pemilikmu, duduk dulu yuk sini sama aku. Kita ngobrol. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan ke kamu.
Kalau kamu masih ingat, awal-awal kita ketemu tuh agak canggung ya? Akunya seperti enggak siap-siap amat ketemu kamu untuk pertama kali. Mungkin karena banyak titipan dari Si 2021 yang harus aku lanjutkan bareng kamu, aku jadi belum kebayang hubungan kita harus kayak gimana. Tapi syukurlah kamu tetap mau bersabar sampai akhirnya kita bisa jalan bareng menuntaskan titipan ini sama-sama.
Kamu pasti masih ingat di bulan pertama kita ketemu itu, kamu pernah bilang, “We can’t prioritize everything in the same time.” Kita tidak bisa memprioritaskan semuanya dalam satu waktu. Aku ngerti banget kenapa kamu sempat emosi waktu itu. Bagaimana enggak? Aku paksa kamu ikut bertanggungjawab untuk tiga amanah yang aku ambil dalam satu waktu, padahal kamu sudah berkali-kali mengajariku untuk bilang ‘ENGGAK’. Untungnya ketiga itu adalah hal-hal yang sama-sama kita suka. Jadi kamu enggak bete-bete amat sama aku.
Di bulan kedua, aku ingat kamu mengajakku untuk menuliskan sebanyak mungkin hal yang bisa aku syukuri, setelah kamu melihatku murung karena ditolak beasiswa yang sudah lama aku impikan. Waktu kita sama-sama menuliskan di selembar kertas, mulai dari yang paling dekat: kita bernapas, kita punya badan yang berfungsi dengan baik, keluarga dan teman yang suportif, tempat tinggal yang aman dan nyaman, sampai pada akhirnya kita kekurangan kertas untuk menulis lagi dan berakhir dengan menuliskan: EVERYTHING. Semuanya. Kamu lalu mengingatkanku untuk mensyukuri saja semua yang telah Pemilik kita berikan, bukan malah bersedih akan apa yang enggak kita dapatkan.
Di bulan ketiga, kita mulai akrab ya 🙂. Bersama dengan teman-teman kita di komunitas, kita mempersiapkan diri memasuki bulan suci. Wah, ini pertama kalinya loh aku melihat Sya’ban sebagai bulan yang spesial. Di bulan ini pula kamu lebih sering menemaniku untuk belajar. Banyak hal-hal baru yang aku baru tahu di bulan ini. Aku mulai belajar tentang Hari Perhitungan yang dibahas dengan sangat seru di Channel-nya Yaqeen Institute, belajar tentang isu-isu genting di Ashoka seperti Longevity dan Gender, dan ini juga bulan di mana aku mengenal sebuah aplikasi bernama Notion, itu loh otak keduaku yang aku pakai sehari-hari untuk bantu mikir.
Di bulan keempat, kamu pasti setuju kalau ini adalah momen terbaik kita bersama. Kita menghabiskan sebulan penuh di “Hotel de Ramadan” bersama para sisters. Sebulan yang rasanya hangat, damai dan nyaman banget. Kalau ingat-ingat kembali momen itu, aku merasa Allah tuh baik banget banget banget sama kita. Dari awal sampai akhir Ramadan, aku diberi kesempatan bisa di rumah secara penuh. Pekerjaanpun lebih kondusif dan fleksibel dikerjakan di manapun dan kapanpun. Buka puasa, sahur, tarawih, sampai takbiran bersama orang tua dan keluarga. Mungkin karena Si Paling Jahil syaiton sedang bebas tugas kali ya, jadi aku merasa lebih fokus dan semangat aja menjalani bulan ini.
Di bulan kelima, aku bilang ke kamu kalau ini tes konsistensi buatku. Kan kamu tahu sendiri aku masih sulit banget menjaga konsistensi. Setelah melalui pelatihan intensif bulan lalu, aku merasa ujian konsistensi dimulai di bulan ini. Aku mulai bertarung lagi dengan rasa malas dan kecenderungan menunda-nunda pekerjaan. Tapi satu hal yang bikin seru dari bulan ini adalah kita dapat kesempatan ke Jember untuk buat film dokumenter tentang kantin sehat. Aku seneng banget karena bisa melakukan perjalanan dinas lagi ke sekolah. Di Jember pun kita bertemu dengan teman-teman baru yang super seru. Pulangnya kita enggak langsung ke Pekalongan, tapi mendadak ke Jogja karena adikku kecelakaan dan ternyata Ibuku juga sudah di sana. Syukurnya dia tidak apa-apa.
Di bulan keenam, kita sampai di bulan kesayangan kita berdua. Apalagi kalau bukan bulan Juni. Bulan lahirku 🙂. Walau sebenarnya aku lupa-lupa ingat apa yang terjadi di hari ulang tahunku ya? Karena kayanya biasa aja. Yang pasti ketika hari ulang tahun itu, aku masih di Jogja. Seharian di kos adikku, mengerjakan sesuatu yang entah apa aku lupa. Yang pasti juga malamnya kita makan bersama Ibuk dan kedua adikku. Kamu masih inget enggak kita makan apa? Ya ampun aku kok lupa ya.
Setelah Jember dan Jogja, ternyata perjalanan kita masih berlanjut. Beberapa hari setelahnya, aku dan kamu ke Bali untuk ikut Venture Panel Ashoka. Sungguh ini momen bersejarah sekali. Pertama, setelah dua tahun pandemi, baru kali ini Venture Panel dilakukan secara tatap muka, di Bali pula! Kedua, aku bertemu orang-orang yang selama ini aku nantikan untuk bertemu langsung setelah bertahun-tahun cuma berinteraksi lewat layar kaca: teman dari Filipina dan Thailand! Ketiga, aku hadir di panel dengan peran berbeda dari peran-peranku sebelumnya di panel tahun 2018-2021. Momen di Bali ini juga spesial untuk perjalanan spiritual dan mentalku. Kapan-kapan kita ngobrol panjang lah ya tentang ini.
Masih di bulan Juni, sepulang dari Bali, kita lanjut lokakarya di Subang untuk membahas tentang Keluarga Pembaharu. Sungguh bulan yang penuh dengan perjalanan ya. Tapi aku salut sama kamu yang malah makin semangat. Di bulan ini kamu mengingatkanku berkali-kali bahwa multitasking is horrible thing to do setelah kamu lihat aku sering diam-diam pergi dari lokakarya karena ada rapat lain atau mengerjakan pekerjaan lain. Tapi jujur saat itu aku tidak punya pilihan lain. Ada hal-hal lain yang perlu aku prioritaskan. Nanti kamu akan tahu apa itu.
By the way, kita lanjut ngobrol besok ya, aku sudah mulai kehabisan energi. Tapi kamu jangan buru-buru pulang ya besok. Aku masih mau ngobrolin bulan Juli - Desember sama kamu. Oke, 2022? Sampai bertemu besok, sekalian kita kenalan sama 2023. Dia juga katanya mau datang 🙂
Komentar
Posting Komentar