Tinggal Sendiri
sumber: dokumen pribadi
Pagi itu dapur rumah banjir setelah keteledoranku lupa menutup keran belakang. Sadar akan hal itu, aku berlari secepat kilat ke arah dapur untuk mengamankan situasi. Tapi lantai yang licin karena genangan air itu malah membuatku tergelincir lalu terjerembab cukup keras ke lantai. Syukurnya tanganku reflek menopang agar kepalaku tidak menghantam lantai. Alhamdulillah. Walau setelahnya badanku terasa sakit semua. Panggul sebelah kananku memar dan pergelangan tanganku terkilir. Padahal saat itu aku sedang buru-buru berangkat ke Jogja. Ya karena buru-buru itu sih jadi enggak fokus.
Sambil menahan rasa pegal dan memar di badan, aku tetap berangkat ke Jogja.
Sepanjang perjalanan ke Jogja, aku masih membayangkan hal-hal ngeri yang bisa saja terjadi kepadaku pagi tadi. Insiden itu kemudian bikin aku tersadar, "hei, aku seharusnya bisa lebih hati-hati lagi, apalagi tinggal sendiri dan jauh dari keluarga!" Entah sudah berapa kali keteledoran yang aku lakukan selama ini, dari lupa menutup lubang wastafel yang akhirnya jadi jalan tikus, atau lupa memasukkan makanan ke kulkas yang akhirnya jadi basi, atau lupa angkat jemuran waktu hujan dan sampai-sampai tetangga yang mengamankan. Fiks yang terakhir itu malu-maluin banget! 😂
Namun Alhamdulillah-nya, hal-hal itu risikonya enggak gede-gede amat. Sampai akhirnya kejadian pagi-pagi itu buatku sebuah keteledoran parah karena risikonya yang cukup bikin fatal.
Dari sebuah refleksi itu, aku jadi bikin semacam prinsip yang aku gunakan sebagai perjanjian dengan diriku sendiri agar kedepannya hal-hal seperti itu tidak terulang lagi:
Selalu fokus dan waspada setiap saat. Fokus ini termasuk juga mengurangi multitugas. Kan biasanya hobi banget tuh masak sambil nyuci pakaian, nyapu, dan dengerin podcast. Kadang sambil balesan chat juga. Sungguh tiba-tiba berasa seperti wonderwoman. Padahal saat tidak fokus, kita cenderung melakukan kesalahan dan sulit mengambil keputusan dengan cepat dan cermat jika suatu hal berubah secara tiba-tiba.
Selalu cek dua kali. Kalau perlu, buat semacam daftar cek untuk apa-apa saja yang perlu dilakukan sebelum tidur atau saat mau bepergian. Seperti mematikan kompor, mencabut gas, mematikan keran air, menutup jendela, dan mengunci pintu. Kalau belum yakin, cek dua kali sampai benar-benar yakin.
Jaga tubuh tetap fit. Ini mungkin terdengar klise ya, tapi kesehatan itu memang modal utama untuk kita bisa beraktivitas. Apalagi kalau tinggal sendiri, kalau sakit ya harus ngerawat diri sendiri. Makan yang teratur, bergizi, dan cukup. Olahraga rutin. Tidur cukup, no begadang-begadang nonton film.
Sering-sering ngabarin keluarga. Walau sebenarnya aku orangnya malas untuk update aktivitas sehari-hari, tapi aku mengakui ini super harus dilakukan apalagi saat tinggal sendiri. Jadi walau secara fisik jauh, keluarga tetap bisa memantau seperti apa kondisi di sini.
Jalin hubungan baik dengan tetangga. Di perantauan, tetanggamu adalah keluargamu. Jangan jadi tetangga ya ngeselin.
Jadilah manajer untuk dirimu sendiri. Bertanggungjawab penuh dalam penggunaan waktu, tenaga dan pikiran, karena enggak ada yang akan memerintah, mengingatkan, atau menegur.
Saat tinggal sendirian, kadang ada rasa takut, bosan, dan kesepian tapu cobalah untuk terus berpikir positif setiap saat. Karena hal-hal positif akan menarik hal-hal positif lain kedepannya.
Yang terakhir tapi justru paling penting. Ingat bahwa penjaga terbaik kita adalah Tuhan, Allah SWT, jadi jangan bosan untuk selalu meminta penjagaanNya.
Untuk kamu yang sekarang sedang tinggal sendiri juga di perantauan, semoga prinsip-prinsip di atas membantu! May Allah protects you always 😎
Izin ngintip tulisan mengunjungi sesama Squad 3 ehehe, lagi cari aspirin eh inspirasi
BalasHapus