Alam Seperti Apa untuk Anak Cucu Kita?
Aku lahir dan tumbuh di desa. Hijaunya hamparan sawah di kanan kiri jalan berpadu padan dengan birunya gunung Slamet, dan menciptakan harmoni yang sempurna dengan langit biru muda dan semburat awan putihnya. Memori masa kecilku dipenuhi dengan gambar anak-anak yang bersepeda menuju sawah untuk menerbangkan layang-layang. Jika sudah lelah, kami bermain air di pematangnya sambil berlomba menangkap ikan. Semua jadi menyenangkan karena alam yang bersih dan asri. Kakekku dulu seorang petani. Walau Bapak dan Ibuku sudah tidak bertani, keluargaku tetaplah pecinta sawah. Saat pikiran kalut atau sekedar butuh healing, kami tidak pergi ke kafe, tapi ke sawah.
Setelah mulai ngekos untuk sekolah, kuliah, lalu kerja di kota besar, pemandangan alam menjadi sangat berharga dan tidak bisa dinikmati cuma-cuma. Akses udara dan air yang bersih terbatas. Bahkan seringkali harus di-’beli’ dengan sebuah tiket masuk dengan durasi yang terbatas. Sedih ya. Sedangkan di area tempat tinggal, yang tersuguhkan adalah deretan rumah yang tidak rapi dan timbunan sampah di pinggir-pinggir jalan. Makin hari rasanya makin kotor dan sumpek saja.
Yang bikin kesal, desaku yang mungkin sudah mulai kekota-kotaan itu ternyata sama saja. Bayangan sawah dengan airnya yang bening dan bersih itu digantikan dengan timbunan kresek-kresek sampah di sana-sini. Bentangan sawah di kanan kiri jalan utama kini sudah tidak seelok dulu lagi. Rumah dan ruko menyempil di sana sini. Sutet dengan kabelnya yang membentang dari satu petak ke petak sawah yang lain sempurna menambah kesemrawutan. Saat diusut, semua saling lempar tanggung jawab. Warga bilang sampah-sampah itu harusnya dibersihkan dinas kebersihan kabupaten. Sedangkan pemerintah daerah bilang harusnya warga tidak membuang sampah di pinggir jalan. Jadi sebenarya sampah itu tanggungjawab siapa ya, Bapak Ibu? :’)
Banyak kota di Indonesia yang jalanannya terlihat bersih dan terawat, tapi apakah itu mencerminkan kota itu bebas sampah? Ah, nyatanya enggak juga. Sampah-sampah itu dikumpulkan dan disembunyikan di TPA agar tidak mengganggu pemandangan di jalan. Mirisnya, beribu-ribu ton sampah itu kemudian dibuang ke laut dan kelanjutannya kita bisa tebak sendiri: habitat laut tercemar, ikan dan satwa laut sekarat. Banyak yang mungkin lupa, termasuk aku, bahwa kita dan alam akan selamanya saling mempengaruhi. Nyatanya hikayat si sampah tidak berhenti hanya di tong sampah. Dia tidak serta merta raib setelah dibuang di tempat sampah, tapi dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan menciptakan banyak kerusakan, yang lambat laun kembali juga berdampak pada kita manusia :’)
Mungkin karena kuliah di kampus pertanian, atau karena bertahun-tahun bertemu dengan banyak sekali aktivis lingkungan, aku jadi sering merenungi dua hal ini: 1) berapa banyak sampah yang aku buang itu membebani alam semesta? 2) apa yang bisa aku lakukan untuk ikut berkontribusi di isu ini?
Pada akhirnya aku meyakini bahwa menjaga alam bukan hanya tugas para aktivis lingkungan atau pemerintah, tapi siapapun yang masih hidup dan masih membutuhkan alam. Mungkin hari ini aku merasa aman dan nyaman, tidak merasakan dampak langsung dari sampah-sampah yang dibuang ke alam selama ini. Tapi betapa ngerinya kalau ternyata anak dan cucu kita nanti yang merasakan akibatnya. Inginnya meninggalkan amal jariyah, yang ada malah jadi dosa jariyah. :’)
Aku jadi ingat salah satu pesan yang aku dapat dari acara Faith-Inspired Changemaking Initiative (FICI) Masterclass yang diadakan kantorku bulan Agustus lalu. Saat itu berkumpul 70 peserta dari berbagai organisasi lintas agama, komunitas, akademisi, media, inovator lingkungan. “Apapun agama dan kepercayaan kita, urusan menjaga alam adalah tanggungjawab kita bersama sebagai sesama manusia.”
Dalam konteks Islam sendiri, menjaga alam tidak lagi menjadi kebutuhan manusia semata tapi juga sebagai keharusan mematuhi perintah Allah SWT. Dalam Al Quran disebutkan, "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS Al Araf: 56) dan ada banyak seruan lain di dalam Al Quran dan Hadits.
Seorang ustadz mengatakan dalam sebuah ceramah yang aku ikuti, “Sebagai Muslim, ingat-ingat bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban untuk setiap hal yang kita lakukan di dunia ini. Sama halnya dengan setiap sampah yang kita buang, kita akan dimintai pertanggungjawaban kemana dan bagaimana kesudahan sampah-sampah itu.”
Karena beberapa pemahaman itu, sekarang aku jadi lebih bertanggungjawab dengan sampah-sampah yang aku hasilkan setiap hari. Sebisa mungkin mengurangi, bisa dengan cara tidak meminta plastik kresek saat berbelanja, bisa dengan tidak sering beli makanan kemasan dan memilih makan buah atau makanan non kemasan. Kemudian sebisa mungkin menambah umur pakai barang-barang, sehingga tidak membeli yang baru. Karena kebiasaan, sekarang setiap dapat plastik, sesudahnya plastik itu akan aku cuci, lipat dan simpan untuk dipakai lagi terus menerus. Kemudian yang terakhir, sebisa mungkin memberikan alternatif nilai dari barang tersebut. Contoh paling gampangnya botol air minum sekali pakai bisa dipakai sebagai pot tanaman.
Dari awal sampah-sampah tidak digabung, tapi dipisah sesuai jenisnya masing-masing. Enggak perlu ribet, prinsip dasarnya, sampah organik dan basah tidak digabung dengan sampah anorganik, karena keduanya punya nasib yang berbeda. Sampah organik akan langsung masuk tong pengompos yang bisa dipanen jadi pupuk kompos secara berkala. Sampah anorganik dikelompokkan dan setiap akhir pekan diantar ke Bank Sampah / Sedekah Sampah terdekat. Dulu sempat mikir repot amat ya urusan sampah ini, tapi sekarang aku berpikir, dimulai saja dulu dari diri sendiri. Nyatanya tidak sesulit yang dibayangkan. Setelah mencoba beberapa bulan, rasanya super senang menyadari sampah-sampah dari rumahku punya nasib lebih baik dari tumpukan sampah yang menggunung di TPA. Hari ini mungkin dimulai dari diri kita sendiri, besok lusa semoga akan lebih banyak yang sadar bahwa urusan sampah itu adalah tanggungjawab masing-masing.

Komentar
Posting Komentar