Slowing Down
Kapan terakhir kali kamu merasa waktu berjalan lambat? Di mana kamu merasa tenang, damai dan tidak merasa sedang dikejar sesuatu? Momen di mana kamu 100% menikmati saat ini, tidak berkeliaran ke masa depan atau masa lalu. Kalau jawabanmu adalah baru-baru ini, selamat! Karena aku yakin enggak semua orang punya kenikmatan itu.
Slowing Down sudah jadi intention yang aku pilih sejak pertengahan tahun ini setelah Januari - Juli 2022 rasanya semua serba cepat dan terburu-buru. Aku tulis besar-besar kata itu di buku jurnal agar tidak lupa. Nyatanya, aku masih saja kesulitan menjalaninya bahkan hingga tahun hampir berganti. Mari kuajak kamu kembali ke bulan Agustus 2022. Waktu itu aku berhasil melepas satu pekerjaan paruh waktu (sebelumnya aku menjalani 2 pekerjaan paruh waktu dan 1 pekerjaan lepas, Ikr that was kemaruk). Saat itu aku menikmati hari-hari yang mulai berjalan dengan lambat. Kondisi kesehatan jasmani dan ruhaniku membaik. Aku bisa lebih berlama-lama di atas sajadah setelah selesai sholat, aku mulai lebih responsif membalas pesan, aku lebih sering menelepon orang tua, dan bahkan aku jadi sadar apa yang sebenarnya orang kirim ke kotak Promotion, Social dan Spam. 😀
Hingga aku disabotase bisikan nakalku sendiri. Aku kembali merasa ingin lebih karena yang sekarang terasa tidak keren seperti sebelumnya yang selalu sibuk dan dicari-cari orang. Dengan dalih masih ada waktu luang, aku merasa bisa menyisip-nyisip kan keinginan-keinginan baru di dalamnya. Aku daftar ini dan itu, aku menjanjikan ini dan itu, aku mengiyakan ini dan itu, hingga sampai di Desember 2022 ini, kembali terjebak dalam, apa yang Gen Z sebut sebagai, Hustle World.
Dibandingkan dengan kehidupanku September lalu, bulan ini aku sering merasa kacau. Karena kebanyakan agenda, aku sering bangun kesiangan dalam keadaan yang masih capek, lalu dengan terbirit-birit menyelesaikan ibadah, olahraga, beresin rumah, masak, makan, mandi, sholat dhuha dan journaling dalam 2 jam sebelum siap di depan laptop. Walau seringnya yang bagian beresin rumah, olahraga dan journaling sering terlewat. Ketika nge-zoom, pikiran sibuk kemana-mana. Dari balesin pesan WhatsApp, ngecek email, dan mikirin hal-hal lain yang enggak relevan. Mikirnya selalu, 'melakukan sebanyak mungkin hal dalam satu waktu. Kalau bisa multitugas kenapa enggak?'
Padahal, walau sekilas terlihat keren, ternyata ada konsekuensi logis dari sering melakukan multitugas. Harvard Medical School dalam penerbitannya bilang begini: Multitasking increase the chances of making mistakes and missing important information and cues. Multitaskers are also less likely to retain information in working memory, which can hinder problem solving and creativity. Nah!
Pantas saja salah seorang senior di tempat kerjaku menegur, “Ayendha, you know multitasking is bad.” dengan muka galak, saat aku kedapatan sedang memeriksa pesan WhatsApp di tengah sebuah wawancara penting di Bali. Dari kejadian itu aku sadar, aku punya sebuah kebiasaan buruk! Pantas saja selama hampir 30 tahun hidup, aku merasa melupakan banyak momen penting. Pantas saja aku jadi orang yang pelupa!
Tapi sungguh tidak mudah untuk membiasakan sebaliknya. Sekarang malah aku sedang merasa sebagai ahlinya multitugas. Celakanya, di tengah segala amanah yang sudah cukup tumpah tindih ini dan buat hari-hariku berjalan sangat cepat, aku masih saja galau memilih antara tiga kesempatan baru yang datang menyapa, sampai-sampai sempat mikir dengan serakahnya: kalau bisa si aku ambil semuanya! ðŸ˜Apalagi setelah bisikan nakal itu bilang, kesempatan kan enggak datang dua kali Yen! Hiks, sungguh bisikan yang toksik.
Lalu cara Allah SWT mengingatkanku sungguh manis dan bikin haru. Dalam rentang tiga hari, aku diingatkan untuk kembali ke intention awalku yaitu Slowing Down. Dari yang ketemu dua teman berbeda yang ternyata sedang sama-sama membaca buku The Things You Can See Only When You Slow Down, enggak sengaja dengar lagunya Akar Bambu yang judulnya Hela, dan yang terakhir adalah percakapan dengan teman penguat imanku, Uma, yang rasanya merangkum segala kebingunganku saat ini.
Dia menyampaikan, “Beberapa hari ini lagi enggak sengaja ngulik soal parenting, ada satu yang bahas soal simplicity parenting... Salah satu yang di-highlight adalah soal berteman dengan rasa bosan. Kita dari kecil tuh terbiasa punya jadwal, jam segini harus ngapain…Jadi kalo enggak ada yang 'ngatur' rasanya aneh. Padahal katanya kreativitas lahir saat lagi lengang dan fokus... Bukan pas lagi penuh… Aku juga sama, banyak pengennya. Tapi, di saat sudah makin berkurang jatah umur, investasi waktu juga bisa jadi penentu. Tinggal kita mikir mau investasi waktu lagi atau enggak untuk hal-hal itu?”🙂
Lalu jadi teringat mantra yang Bu Septi, founder IIP, pernah sampaikan saat kita sedang ingin ini ingin itu banyak sekali: Iya, itu menarik tapi aku tidak tertarik. One bite at the time ya, diriku yang baik.
Sulit memang rasanya melepas banyak kesempatan, tapi bagaimana jika sebenarnya kesempatan-kesempatan yang datang itu sengaja diberikan Allah untuk menguji seberapa istiqomahnya si fulan dengan niat awalnya dan tujuan akhirnya: untuk hidup dengan hati yang damai, pikiran yang jernih, lalu meninggal khusnul khotimah dan masuk surga.
“I know a rock in Mecca that used to greet me before the revelation. I still recognize it." Rasulullah SAW (Shahih Muslim)
Semoga aku dan kamu bisa selalu belajar dari Nabi Muhammad SAW, orang paling hadir penuh sadar utuh di setiap momen, sampai-sampai beliau masih ingat sebuah batu yang beliau temui. Semoga aku dan kamu tidak hanya memahami konsep Essentialism, tapi juga hidup dengan prinsip itu, demi hidup yang lebih bermakna. Sehingga kita tidak meninggalkan dunia ini tanpa sempat mensyukuri nikmat yang Allah beri, mengapresiasi hal-hal indah di sekililing, melewatkan tanda-tanda yang Allah cipta, dan tidak mati tanpa benar-benar 'hidup'.
Selamat berjuang untuk selalu hadir penuh sadar utuh. Selamat bilang ke diri sendiri: Enough is Enough.
Salam dari aku yang rindu masa-masa bisa main pasir di pantai tanpa takut deadline.
#30DWC #30dwcjilid40 #Day3
Komentar
Posting Komentar