Everything is Temporary
Aku sedang sering sekali mengucapkan kalimat everything is temporary, semua itu sementara. Entah saat temanku berbagi perasaan marahnya karena relasi kurang baik di tempat kerja. Atau saat temanku yang lain sedang sangat terpukul karena ditinggal pergi salah seorang keluarga. Atau saat temanku yang lain lagi sedang mengeluhkan sulitnya beradaptasi di negara baru. Biasanya setelah aku bilang terima kasih kepadanya karena sudah mau bercerita, maka selalu ku sertakan kalimat ini: “kita tahu kalau semua itu sementara. Semua yang kamu rasakan ini pun juga. Nanti akan hilang digantikan dengan perasaan-perasaan lain. Aku berdoa semoga rasa tidak nyaman ini segera digantikan oleh perasaan-perasaan yang lebih baik ya.”
Entahlah, apakah memang kalimat itu benar ada efeknya untuk mereka. Yang pasti, kalimat itu sudah jadi semacam mantra untukku pribadi saat hari-hariku mulai terasa berat untuk dilalui. Nyatanya memang begitu. Mau semanis atau sepahit apapun pengalaman yang aku alami, kelak itu akan jadi cerita masa lalu juga yang tidak mampu aku rekakan ulang kondisinya. Mungkin ada satu dua hal yang berhasil terekam dalam diri dan turut serta membentuk diriku sekarang ini, tapi tetap saja, pengalaman demi pengalaman baru terus aku lalui, menggantikan yang lalu-lalu. Dan akan terus seperti itu sampai masa hidupku di dunia ini usai. Sudah jadi hukum alam bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi, apalagi waktu dan segala cerita di dalamnya.
Maka mantra ini selalu saja ampuh untuk mengingatkan diri agar tidak terlampau hancur saat badai kehidupan melanda, namun juga tidak terlampau terbuai saat angin sepoi kehidupan menyapa.
Saat masa remaja dulu, saat aku masih sangat mudah terbawa euforia, aku pernah berusaha mematri pengalaman-pengalaman manis agar tidak buru-buru pergi. Biasanya pakai tulisan atau barang-barang yang aku simpan karena waktu itu foto atau video belum marak dipakai. Suatu hari, di sebuah momen sangat menyenangkan bersama teman-teman, di saat semua orang tertawa karena lelucon yang silih berganti memenuhi ruangan, aku sendiri malah menangis sesenggukan. Kataku waktu itu karena saking takutnya rasa bahagia yang aku rasakan itu akan cepat pergi. HEHE, agak cringe ya? Tapi ya begitulah hati remaja. Bertahun-tahun setelah kejadian itu, saat menulis tulisan ini sekarang, aku bahkan sudah tidak ingat apa yang dulu kami tertawakan, dan kenapa momen-momen itu menjadi sangat manis bagi seorang Ayendha muda. Yang pasti aku sadar dua hal: semua itu sementara dan aku yang belum sepenuhnya menerima itu.
Nyatanya memang begitu. Tidak ada yang abadi. Termasuk pengalaman, perasaan, perspektif, apalagi apa-apa yang kita punya. Bisa saja hilang, rusak, hancur atau dicuri. Tidak ada yang abadi. Termasuk diri kita. Suatu saat hal-hal di dunia tadi pergi meninggalkan kita, dan suatu saat nanti kita yang pergi meninggalkan dunia. Yang ini sering lupa. :’)
Oh ya, berikut ini foto-foto yang aku ambil saat mengunjungi Museum Merapi. Rumah paling megah yang berdiri saat itu, seketika luluh lantak karena tersapu lahar merapi. Terbayang mungkin butuh bertahun-tahun bagi pemiliknya untuk mengumpulkan kekayaan agar bisa membangun rumah sebagus itu, tanpa terbayang akan hancur hanya dalam hitungan menit saja.
Jadi, mari aku ingatkan diriku kembali. Tidak ada yang abadi. Semua di dunia ini sementara. Jalani secukupnya. Kurangi kemelekatan pada apapun yang sifatnya sementara. Sering-sering ingat Dia Yang Maha Abadi dan kejar hanya sesuatu yang abadi: kehidupan setelah mati.
#30DWC #30dwcjilid40 #Day6

.jpeg)


.jpeg)
Komentar
Posting Komentar