Apa yang Salah dari Resolusi?
Saat memfasilitasi sesi check-in di rapat kantor beberapa waktu lalu, aku tergelitik untuk menanyakan bagaimana teman-teman di kantor melihat resolusi awal tahun. Apakah mereka tipe orang yang selalu membuat resolusi? Jika iya, seperti apa perjalanan resolusi masing-masing untuk tahun 2022?
Jawaban dari tim yang kebanyakan dari kantor Indonesia dan Filipina itu ternyata beragam. Tapi satu hal menarik dari percakapan itu adalah kami punya pandangan yang lebih dalam dari sekedar membuat daftar panjang resolusi untuk menyambut tahun baru..
Buatku pribadi, pergantian tahun tidak begitu spesial di kalangan keluargaku. Dulu ketika masih SMP, aku dan keluargaku hanya akan nonton TV bersama untuk melihat konser atau pertunjukan kembang api. Itupun kalau ingat. Kalau sedang sama-sama sibuk, ya tidak ada yang berbeda dengan hari-hari biasanya selain bahwa setiap tanggal 1 Januari, sekolah libur.
Setelah beranjak dewasa dan aktif bermasyarakat, aku jadi ikut-ikutan tren membuat resolusi awal tahun. Mungkin karena takut FOMO (Fear of Missing Out). Resolusi itu bentuknya berupa daftar apa saja yang ingin aku ubah di tahun berikutnya. Makin banyak daftarnya makin terlihat keren. Lalu diunggah di media sosial dengan hastag #NewYear #NewMe. Kamu begitu juga enggak? Sayangnya untuk kasusku, setiap memasuki bulan Februari, aku mendadak amnesia dengan apa yang sudah dituliskan di daftar resolusi itu. Jangankan tercapai, teringat saja sudah enggak. Sibuk tenggelam dalam kesibukan sehari-hari. Sampai enggak terasa sudah bulan Desember dan tahun sudah akan berganti lagi :D
Jadi, apa yang salah dari resolusi?
Ya enggak salah si. Toh punya tujuan yang ingin dicapai di masa depan itu kan bagus. Tapi, dari proses mengobrol dengan teman-teman kantor saat itu, yang notebenenya semua berasa dari negara, budaya, cara pandang dan prioritas yang berbeda, setiap orang ternyata punya gayanya sendiri untuk mempersiapkan tahun baru, tidak melulu disebut sebagai resolusi. Ada yang memilih mengisi Year Compass, menentukan Top 5 Goal, menulis Letter to Myself, menetapkan Word Anchor/Values of The Year, atau membuat Vision Board. Semuanya pada dasarnya adalah memiliki harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan. Uniknya semua dari kami setuju bahwa melakukan itu saja tidak cukup. Ada hal-hal lain yang lebih prinsipil dan harus terus diupayakan seiring dengan menentukan harapan-harapan tadi.
Pertama, sebelum melihat ke depan, ambil waktu sejenak untuk melihat ke belakang. Ibarat kata, sebelum mulai kembali lagi menginjak gas, kita perlu berhenti dulu dan cek seperti apa kondisi kendaraan yang kita naiki. Apa ada yang perlu diperbaiki? Seperti apa si kondisi pengendaranya? Jika butuh maintenance, maintenance seperti apa? Ada banyak sekali pertanyaan panduan yang bisa kita gunakan untuk membantu mengevaluasi diri. Salah satunya dengan Year Compass. Enggak sedang promosi sih ini, tapi coba saja dicek. Sekarang sudah ada yang berbahasa Indonesianya juga!
Kedua, less is the new more. Semakin sedikit harapan yang dicapai, semakin baik. Loh, emang iya? Kamu boleh enggak setuju, tapi aku pribadi meyakini bahwa makin banyak harapan, maka semakin sedikit sumber daya yang kita bisa alokasikan ke setiap tujuan/harapan. Gampangnya gini, kita pelajaran matematika dulu lah ya sebentar. Misal kita punya 100 sumber daya (bisa waktu, energi, fokus, dll), kalau kita cuma punya 4 tujuan dalam satu tahun, maka setiap tujuan bisa dapat masing-masing 25. Beda cerita kalau kita punya 100 tujuan, maka setiap satu tujuan cuma kebagian 1. Logikanya semakin sedikit sumber daya yang kita dedikasikan ke sebuah tujuan ya akan semakin sulit juga itu untuk terwujud. Ada pepatah yang kurang lebih bilang begini, "If everything is important, then nothing is." ― Patrick Lencioni. Kalau semuanya penting, maka tidak ada yang benar-benar penting. Nah!
Ketiga, setiap punya keinginan, tanyakan lebih dalam ke diri sendiri, WHY? Kenapa aku ingin begini, ingin begitu, ingin ini, ingin itu, banyak sekali? Semakin kita mengenali motivasi di balik sebuah keinginan, semakin yakin juga kita mengejarnya. Kalau sudah yakin, mau seberat apapun perjalanan mencapainya, kita akan tetap bersabar dan kuat dalam prosesnya sampai keinginan itu tercapai.
Keempat, tetapkan tujuan yang SMART (specific, measurable, actionable, relevant dan timebond). Kalau teorinya mah teman-teman sudah pada tahu ya. Metode SMART ini banyak digunakan di penentuan tujuan organisasi, komunitas atau proyek-proyek. Tapi juga sangat relevan untuk diaplikasikan di kehidupan pribadi. Intinya buat tujuan yang jelas, spesifik, dapat diukur, realistik untuk dicapai, relevan dengan tujuan besar dalam hidup dan ada linimasa yang jelas. Makin jelas tujuannya, semoga makin jelas juga anak-anak tangga untuk meraihnya.
Kelima, saat hari-hari mulai sibuk dan amanah demi amanah mulai buat kita ngos-ngosan, selalu ingat untuk melakukan check-in. Ibarat berjalan mendaki gunung, kan enggak terus menerus kita jalan sampai ke puncak, tapi ada masanya kita berhenti di beberapa pos pendakian untuk mengecek kondisi, “Seperti apa aku sekarang? Sudah sejauh apa aku berjalan menuju tujuanku? Apa yang ingin aku terus kerjakan? Apa yang ingin aku stop kerjakan?” Setiap kita mungkin punya kebutuhan waktu pengecekan yang berbeda-beda, which is fine. Ada yang sebulan sekali, ada yang setiap catur wulan, atau mungkin setelah satu semester? Dan aku selalu percaya, ketika saat proses pengecekan ini kita merasa harus pindah jalur, harus ganti tujuan, harus putar arah, go ahead. Enggak masalah sejauh kita sadar penuh dengan apa yang kita putuskan dan ada hal baik yang ingin kita kejar. Jika sulit melakukan pengecekan ini sendiri, mungkin kita butuh teman untuk bantu jadi cermin diri.
Keenam, trust in Allah’s beautiful plan. Karena sudah pasti tidak semua hal yang kita harapkan selalu berjalan sesuai rencana, pada akhirnya kita tahu bahwa ada hal-hal yang diluar kontrol diri. Di mana hanya dengan percaya dan bertawakal kepada Allah lah kita bisa tetap berdiri tegap dan melanjutkan perjalanan. Yakin bahwa Allah sudah merencanakan sesuatu yang lebih indah dari apa yang sudah kita rencanakan sebelumnya. Pengingat untuk diri sendiri nih: banyak-banyak bersyukur untuk setiap kejadian, karena bisa jadi dari kegagalan atau penolakan itu Allah sedang menyelamatkan kita dari sebuah bahaya yang kita tidak tahu apa.
Dari keenam prinsip sok tahu dariku ini pastinya enggak selamanya cocok buat teman-teman yang sedang membaca. Aku sendiri pun masih terus belajar agar hari-hariku lebih bertujuan (istilah Jaksel-nya purposeful dan mindful) dan enggak lewat begitu saja. Penutup dariku, mari gunakan vibe pergantian tahun ini sebagai momentum muhasabah diri dan berniat untuk berjuang jadi pribadi yang lebih baik lagi. Lebih cakepnya lagi kalau enggak cuma saat pergantian tahun saja, tapi bahkan setiap pergantian hari. Setiap momen bangun pagi jadi momentum untuk muhasabah dan berbenah diri. Jadi, apa tiga harapan utama kamu untuk tahun 2023?.png)

MasyaAllah. Nice kak! Nomor tiga bikin aku bernyanyi wkwk
BalasHapus